50 Tahun Para Suster Passionis (CP) Berkarya di Indonesia


Musa Narang (Ketua YPKK), Sr. Helena CP (Provinsial CP), Sr. Mariati CP (Pengasuh Asrama Keling Kumang, Sekadau), dan Adil Bertus AS ketika visitasi ke salah satu karya para Suster CP di Sekadau.

SANGGAU NEWS : Karya para suster Passionis (CP) ini bagai biji sesawi: yang terkecil di antara benih tanaman. Namun, ketika ditabur, tumbuh dengan subur dan beranak pinak. Kini karya para suster CP ada di mana-mana, tersebar di seluruh nusantara. Mulai dari panti asuhan, asrama, hingga mengelola lembaga pendidikan.

Sejak Para Misionaris Pasionis melalui Yayasan Karya memutuskan membangun persekolahan dari SD, SMP dan SLTA (SPG) di wilayah Prefektur Apostolik Sekadau pada tahun 1968, ternyata juga harus disertai dengan membangun tempat hunian para pelajar berupa Asrama, baik asrama Putri maupun Asrama putra. 

Berawal dari Asrama Putri (Astri) St. Maria Goreti Sekadau.

Sejak awal berdirinya, masalah Pembina asrama Putri ini menjadi pergumulan, sehingga terpaksa diasuh oleh bapak-bapak. Oleh sebab itu, dalam perjalanannya timbul pemikiran untuk mengundang Para Suster Pasionis dari Italia (Signa) untuk berkarya di Sekadau, khususnya untuk mengelola asrama putri St. Maria Goretti Sekadau. 

Pada tanggal 1 September 1972, Prefek pertama Mgr.Michaele Di Simone,CP mengundurkan diri dan digantikan oleh Mgr.Lukas D.Spinosi,CP dan seiring dengan perubahan posisi itu P. Vincentius Carletti,CP mengambil alih tugas P.Lukas D.Spinosi CP untuk mengurus asrama putri ini.

Baca Asrama Putri St. Maria Goreti, Sekadau: Pola Pendidikan Ala Misi Dan Katolik

Di lain pihak, undangan dari Prefek, Mgr.Lukas D. Spinosi,CP kepada para suster Pasionis untuk berkarya di Sekadau diterima dengan senang hati oleh pimpinan mereka di Signa, Italia. Alhasil  setelah menunggu sekitar 6 tahun (1968 – 1974), maka pada tanggal 22 Juni 1974, tiga Suster Pasionis Perdana asal Italia dan Spanyol tiba di Sekadau, sejak mereka menjejakkan kakinya di Jakarta (Indonesia) pada 7 Mei 1974, setelah sempat melakukan adaptasi sekitar 1,5 bulan di Jakarta dan Pontinak. 

Mereka adalah Sr. Maria Etienne Coopman,CP, Sr.Clorinda Arista,CP dan Sr. Beatriz Mendizabal,CP (asal Spanyol). Dari Pontianak mereka naik motor Bandung “Solidaritas” milik Prefektur Apostolik Sekadau. Kedatangan mereka disambut oleh Prefek Prefektur Apostolik Sekadau, Mgr.Lukas Di Spinosi ,CP bersama seluruh elemen masyarakat Sekadau. Acara penyambutan dilakukan secara Adat Dayak dilaksanakan mulai pk,16.00 di halaman asrama Putri St. Maria Goreti, dilanjutkan dengan Misa penyambutan yang dipimpin oleh Prefek Mgr.Lukas D.Spinosi, CP. Acara diakhiri dengan ramah tamah, yang dimeriahkan oleh Band SPG SPG St.Paulus Sekadau, lengkap dengan para “artisnya”.

Karya pertama mereka, seperti permintaan Mgr.Lukas D. Spinosi,CP adalah mengelola Asrama Putri (Astri) St. Maria Goreti yang berlokasi di Jalan Rawak, Sekadau sekitar 1,5 km dari Gereja Paroki St.Petrus dan Paulus Sekadau. 



Penghuni asrama putri ini terdiri dari para pelajar SMPK St. Gabriel Sekadau dan Siswi SPG St.Paulus Sekadau yang semuanya berasal dari kampung- kampung di pedalaman. Sr.Etinne sebagai pemimpin Komunitas, bersama Sr. Clorinda dan Sr.Beatriz saling bahu membahu mengelola asrama dengan segala keterbatasan, termasuk kemampuan berbahasa Indonesia yang masih sangat minim.

Sekilas Profil Suster Pasionis (CP)

Suster-Suster Pasionis St. Paulus dari Salib didirikan oleh Maria Magdalena Frescobaldi Capponi. Ia lahir di kota Firenze - Italia pada tanggal 11 November 1771, dari keluarga bangsawan pasangan Giuseppe Frescobaldi dan Giuseppa Quaratesi. 

Pada tahun 1817 Magdalena menulis surat kepada Jendral biarawan Pasionis, P. Tommaso Albesano, CP agar mereka dapat diterima bergabung dengan Para Biarawan Pasionis dengan meneladani pendirinya, St. Paulus dari Salib. Permohonan Magdalena F.Capponi diterima dan pada tahun 1825 Magdalena menyusun suatu naskah Konstitusi untuk komunitasnya dengan dibantu oleh P. Luigi Bonauguri, CP.

Baca Prefektur Apostolik Sekadau Dan Mgr. Lukas Spinosi, CP

Maria Magdalena wafat pada tanggal 8 April 1839. Setelah kematian Maria Magdalena kongregasi berkembang baik dari segi karya maupun keanggotaan. Sekarang Suster-Suster Pasionis Santo Paulus dari Salib hadir di 27 negara, yakni : Australia, Belgia, Bolivia, Brasil, Bulgaria, Filipina, India, Italia, Indonesia, Kanada, Congo, Kolombia, Kuba, Kenya, Korea, Nigeria, Perancis, Portugal, Pantai Gading, Panama, Polandia, Peru, Paraguay, Puerto Rico, Belarusia, Spanyol, dan Tanzania.

Keutamaan Kongregasi Suster-Suster Pasionis

Spiritualitas : Menghayati secara istimewa sikap-sikap batin Kristus Tersalib dan Bangkit dalam kesunyian yang diresapi oleh doa, kemiskinan yang menggembirakan dan dalam ketaatan yang menebus.

Visi : Suster Pasionis terpanggil dalam Gereja untuk menjadi kenangan yang hidup akan Kristus Tersalib dan Maria Berdukacita, dikuatkan oleh sabda Allah demi terwujudnya spiritualitas yang berpusat pada Memoria Pasionis.

Misi : Dipanggil dan diutus untuk menjelmakan belaskasih Allah bagi kaum wanita yang dieksploitasi, yang tersingkir, yang tak berpengetahuan, orang-orang kecil, dan para pendosa. Membawa mereka kepada Hati Tuhan Tersalib dan Kristus yang bangkit lewat doa, kerasulan dan karya. Mencintai dan mendidik mereka dengan hati, sehingga mereka bertobat dan kembali pada Allah sebagai jalan kebaikan.

Gaya Hidup : Mengusahakan hidup doa kontemplatif, membina persaudaraan sehati sejiwa dalam satu kehendak, sederhana, lakutapa, ramah-tamah dan gembira.

Karisma : Terpanggil untuk menjadi kenangan hidup yang berbelaskasih yang dinyatakan dalam Misteri Kristus Tersalib dan Kristus yang bangkit, menjadi wanita-wanita yang lembut sebagai tanda penyilihan, permohonan, dan ucapan syukur kepada Tuhan.

Kongregasi Suster-Suster Pasionis di Indonesia

Setelah kedatangan 3 Suster Pasionis Perdana pada 22 Juni 1974 (Sr. Maria Etienne Coopman,CP, Sr.Clorinda Arista,CP dan Sr. Beatriz Mendizabal,CP), maka pada tanggal 17 Februari 1975 atau setahun kemudian disusul kedatangan Sr. Norberta Busato,CP dan Sr. Maria Gemma Strapasson,CP dari Brazilia. Selanjutnya berturut- turut tanggal 19 Maret 1977 tiba di Indonesia Sr. Anna Maria Funzi, Sr. Maria Moretti pada 27 Agustus 1982 dan pada 14 Februari 1985 Sr. Jonilda Ferreira asal Brasilia; total para Suster Misionaris CP berjumlah 8 orang. Saat ini, dari ke-8 Suster misionaris ini, semua telah kembali ke negerinya, terakhir adalah Sr. Maria Gemma Strapasson,CP, yang kembali ke Brazilia pada tahun 2007.

Dalam sejarah perjalanan kongregasi Suster Pasionis di Indonesia, 8 orang suster misionaris yang datang untuk menabur benih awal di bumi tercinta ini, telah mewariskan semangat misioner yang tinggi, mereka terus bertekun dalam mewartakan misteri Kristus Tersalib melalui kesaksian hidup dan karya-karya yang diembannya. 

Di samping karya sebagai pengelola asrama Putri, mereka juga terlibat dalam pelayanan di Sekolah (sebagai guru/ Kepala Sekolah), Yayasan Karya dan tugas paroki dengan ikut bersama para Pastor/ Bruder tourney ke kampung- kampung. Selain itu, mereka juga bekerja di Panti Asuhan, Panti Jompo, Kursus menjahit, Pro vita, Rumah retret, Rumah Sakit dan Karya Pastoral dan Sosial.

Melanjutkan tongkat estafet pelayanan

Tonggak bersejarah bagi Kongregasi ini di Indonesia terjadi pada tanggal 18 Februari 1979 di Sekadau. dimana 4 orang putri Dayak pertama yang notabene adalah alumni SPG St.Paulus Sekadau masuk menjadi Novis pertama untuk menjadi Suster Pasionis. Mereka itu adalah Sr. Dominika Jili, CP, Sr. Yuliana Salsiyah, CP, Sr. Sesilia Menseni, CP (meninggal di Signa-Italia tgl 20 Juni 2007), dan Sr. Maria Magdalena, CP. Menurut catatan P. Avensius Rosis,CP yang merupakan rujukan utama untuk tulisan ini, pada tahun 2016, total anggota Suster Pasionis Indonesia adalah 159 orang dan pada saat merayakan peringatan 50 tahun hadirnya Para Suster Pasionis berkarya di Indonesia tahun 2024 ini, menurut keterangan Sr. Provinsial saat ini, Sr.Helena Inca,CP, jumlah anggota Suster Pasionis Indonesia adalah 176 orang, terus bertumbuh dari tahun ke tahun.

Para suster Pasionis Provinsi “ St.Yosep” Indonesia berkarya di 9 Keuskupan, yaitu : Keuskupan Sanggau, Keuskupan Sintang, Keuskupan Agung Pontianak, Keuskupan Agung Jakarta, Keuskupan Bogor, Keuskupan Surabaya, Keuskupan Malang, Keuskupan Ruteng dan Keuskupan Agung Ende, 

Baca Gedung Kampus Utama Institut Teknologi Keling Kumang (ITKK) Dan Harvard University

Mereka memiliki 24 Komunitas yaitu : (1) Komunitas Passio Christi Sekadau, Kalimantan Barat, (2) Komunitas Annuziata Sungai Ayak, Kalimantan Barat,(3) Komunitas Hati Kudus Nanga Taman, Kalimantan Barat,(4) Komunitas Maria Goretti Meliau, Kalimantan Barat, (5) Komunitas Santo Paulus dari Salib Pontianak, Kalimantan Barat, (6) Komunitas Imakulata Beduai, Kalimantan Barat,(7) Komunitas Maria Ratu Segala Bangsa Bukit Kelam, Kalimantan Barat, (8) Komunitas Maria Penolong Abadi Semitau, Kalimantan Barat, (9) Komunitas Maria di Angkat ke Surga Korek –Ambawang, Kalimantan Barat, (10) Komunitas Mater Dei Jakarta, (11) Komunitas Salib Suci Sentul Bogor, (12) Komunitas Santo Yosef Provinsialat Malang, (13) Komunitas Novisiat-Postulat, St. Gema Galgani Malang, (14) Komunitas Pro Vita Ciliwung Malang, (15) Komunitas Bunda Pengharapan Suci Kesatrian Malang, (16) Komunitas Maria Magdalena Frescobaldi Malang, (17) Komunitas Adolorata Batu, Malang, (18) Komunitas Maria Ratu Damai Pare, (19) Komunitas Tri Tunggal Maha Kudus Sidoarjo, (20) Komunitas Santo Mikael Rekas, Flores, (21) Komunitas Antonetta Farani Ruteng, Flores, (22) Komunitas Ratu Rosari Batawa – Maukeli, Flores, (23) Komunitas Bunda dan Ratu Allambie Heights Australia, (24) Komunitas Carmelina Tarantino Kisol, Flores. Pada tahun 2017, terbentuk komunitas kecil di Sekadau (bagian dari Komunitas “Passio Christi” Sekadau, yatiu Komunitas Asrama Putri Kumang yang bekerjasama dengan Yayasan Pendidikan Keling Kumang, yang para penghuninya berasal dari siswi SMK Keling Kumang Sekadau. Saat ini ada 2 Suster Pasionis yang bertugas di sana, yaitu Sr. Mariati,CP dan Sr. Ningsig,CP.

Fasilitas makin lengkap

Dalam rangka Perayaan 40 tahun karya suster pasionis di Indonesia yang dihelat di Sekadau pada 29-31 Maret 2014 telah diresmikan gedung aula Carmelina di Kompleks Susteran Pasionis “Passio Christi” Sekadau oleh Bupati Sekadau Simon Petrus dan Uskup Sanggau-Sekadau Mgr. Yulius Mencucini CP.

 Selanjutnya, pada hari Sabtu, 17 September 2022 Bupati Sekadau, Aron SH juga telah meresmikan penggunaan wisma Mater Dei untuk para Suster lansia dan Kapel Santa Ana di komplek Susteran Kongregasi Pasionis ini, dalam rangka acara Yubelium 150 tahun Reaktivitas suster - suster Pasionis St.Paulus dari Salib.

Penutup

Selama 50 tahun, para Suster Pasionis telah memberikan andil besar dalam pembangunan manusia Indonesia, khususnya di bidang kerohanian dan kemanusiaan. Semoga kiprah mereka untuk mengabdi kepada masyarakat, Gereja, bangsa dan negara melalui berbagai karya yang mereka lakukan, terus bertumbuh dan dapat dirasakan manfaatnya oleh banyak orang. Selamat merayakan Pesta Emas atau 50 tahun hadirnya para Suster Pasionis berkarya di Bumi Indonesia, yang tonggak sejarahnya adalah tanggal 22 Juni 2024.

(R.Musa Narang).

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url