Kopar: Rumah Panjang yang Ditinggalkan

 

Rumah panjang bersejarah yang terancam musnah. Sayang!

Tak jauh dari Sanggau Jalan kecepatan 60 KM/jam mungkin hanya 0,5 jam perjalanan. Tiba depan gereja Pusat Damai. Ambil jalan samping. Ke sana arah rumah panjang bersejarah itu: Kopar. Sayang kurang prawatan. Padahal nilai historisnya sangat panjang.

Kami naik mobil dari Bodok. Saya ditemani sahabat lama, Fabian. Jarak 15 kilometer kami tempuh tanpa terasa. Mata tertumbuk pada pemandangan: prakapitalisme di dusun-dusun orang Dayak Dosatn.

Hampir di setiap halaman rumah di Kopar, war­ga menanam sayur dalam wadah polybag. Suatu kombinasi nilai tradisional dengan modernitas. Meski ciri adat budaya rumah panjang tetap berkanjang.
Baca Apai Janggut: Pendekar Lingkungan Dari Sungai Utik

Matahari khatulistiwa memancar sinarnya. Saya ditemani Fabianus dari CU Lantang Tipo Pusat Damai menembus jalan keras berbatu dan berdebu. Kiri kanan pohon sawit. 

Sejauh mata memandang, hijau gurun seperti horizon. Dan memang jalan ke arah Kopar, kampung yang menyisa rumah betang tua, dikelilingi kebun-kebun sawit. Pemiliknya bukan Dayak, tapi orang Malaysia.

Lihatlah perubahan pola kultur Malaysia belakangan ini. Mereka menyuntik mati pohon sawit di negerinya. Lalu menggantinya re-plantasi dengan karet. Sementara sawit ditanam di Indonesia.

Sepanjang jalan Bodok-Kopar, terbantang jalan. Tidak mulus, namun juga tidak berlubang. Mobil dobel gardan yang kami tumpangi sama sekali tidak goyah lewat kebun-kebun sawit yang menarik perhatian saya. Siapa punya? Taipan Malaysia.

Ada apa dengan Malaysia? Mereka, harus diakui, lebih cerdas dan lebih tangkas. Selain sesedikit mungkin pejabat negara melakukan raswah, pemerintahnya malu hati jika infrastrukturnya terlihat buruk-rupa.

Adan termasuk anggota nomor muda CU Lantang Tipo. Ia sudah mengenal koperasi kredit itu tahun-tahun awal berdiri. Kebetulan, dirinya “terdampar” menjadi siswa SMA Karya Kasih, Pusat Damai, angkatan pertama.

“Waktu itulah saya mengenal CU Lantang Tipo dari guru-guru. Kantornya dekat sekolah, satu atap dengan kantor paroki. Jadi, setiap hari melihat plang nama dan kegiatannya.”

Setelah berkeluarga, dan bekerja, Adan menjadi warga kampung Kopar. Dari Pusat Damai, jaraknya sekitar 15 kilometer. Ketika era 1980-an, penduduk masih tinggal di rumah betang. Namun, kini setiap ke­luarga punya rumah tinggal masing-masing yang layak huni dan memenuhi standar kesehatan.

Interior rumah panjang Kopar.

Awal ber-CU, hampir setiap minggu Adan ke Pusat Damai mengayuh sepeda. Ia mengaku sangat disiplin dalam mengansur kredit atau pinjaman.
Baca Sejarah Sanggau

“Tidak pernah terlambat nyetor cicilan melewati tanggal jatuh tempo. Saya biasakan diri untuk disiplin. Sudah mulai belajar membagi-bagi penghasilan dari noreh getah un­tuk berbagai keperluan, termasuk uang sekolah anak,” paparnya.

Atas kedisiplinan itu, Adan diberi pinjaman lagi. Ia mengaku, dari pinjaman itu bisa renovasi rumah. “Itu rumah pertama dari pinjaman Lantang Tipo,” katanya.

Masih merasa belum puas, Adan ingin memper­luas dan menambah ruang lagi di rumahnya. Di bagian depan, ingin ia buatkan toko kelontong. Maka ia meminjam lagi. Kali ini mudah cara mengansur pinjaman, tidak perlu harus ke Pusat Damai lagi. “Ada orang CU datang ke sini yang bisa dititipi yaitu petugas kolektor,” jelasnya.

Hal yang menarik, menurut pengakuan Adan, “Semua keluarga saya anggota CU. Juga anak-anak.

Mereka punya simpanan dengan nomor Buku Anggota (B.A.) sendiri-sendiri.”

Ketika ditanya “berapa”, Adan enggan menyebut angka pasti. Tetapi dari isyarat istrinya, dapat dikira-kira bahwa simpanan keluarga ini sangat lumayan. Bahkan, orang kota sekalipun jarang punya tabungan sejumlah itu.

“Itu karena kami sudah lama jadi anggota,” jelas istrinya.

Dengan simpanan itu, Adan merasa tenang di hari tua. Ia kini masih bugar sebagai peladang dan pekebun. Ia memiliki kebun sawit dan kebut karet unggul. “Karet unggul kami sadap sendiri, hitung-hitung untuk olah­raga,” paparnya.

Sekali turun noreh. Adan bisa mendapat belasan kilogram karet. Jika harganya sedang naik, katanya, “Untuk apa menjadi pegawai?”

Ia mengaku bahwa kebun-kebunnya pun dari hasil disip­lin menabung dan ber-CU. CU diakuinya telah mengubah taraf kehidupan keluarganya. Juga kehidupan warga kampung Kopar.

“Hampir seluruh warga kampung Kopar anggota CU,” katanya. “Melihat anggota hidupnya sukses dan meningkat, orang yang tadinya enggan masuk CU, la­ma-lama menjadi anggota,” jelasnya.

Saya dan Adan: bincang-bincang sebagai teman.

Di Kopar, orang Dosatn sekampung anggota CU. Indikator taraf hidup warga semakin meningkat setelah ber-CU, tampak dari rumah yang sudah permanen, tertata baik, antena parabola, serta kepemilikan motor dan mobil. 

Pendidikan rata-rata masyarakat Kopar pun baik. Jarang menemukan anak putus sekolah di tengah jalan di kampung yang masih berdiri rumah panjang itu.

Hampir di setiap halaman rumah di Kopar, war­ga menanam sayur dalam wadah polybag. Kreativitas mengalir. Seperti tipo.

Baca pula artikel menarik ini Pang Budjang Salah Seorang Pejuang Perang Madjang Desa Dari Lintang Yang Dilupakan

Nasib berubah! Literasi bukan saja terjadi pada baca-tulis, melainkan lebih menohok: literasi finansial.

Sembari jalan pulang, saya bertanya, “Haruskah modernisasi. Terutama ditinggakannya rumah panjang disessali?”

Ya, haruskah disesali? (Rangkaya Bada)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url