Pang Budjang Salah Seorang Pejuang Perang Madjang Desa dari Lintang yang Dilupakan


Pang Budjang (dan Joe istrinya), ayahnda Mgr. Agus.

Perang Madjang Desa yang orang kenal tokoh heronya adalah Pang Suma. Lupa jika seorang pencetak gol mendapat asis, atau support penuh dari tim, baru bisa mencetak kemenangan. Seperti dalam sepakbola.

Salah seorang asis, bahkan tokoh lain, dari suksesnya Perang Madjang Desa yang legendaris itu adalah: Pang Budjang.

Baca Sanggau Dan Penduduknya Era Pengaruh Hindu-India Pra Abad XIV

Namanya dipetik dari panggilan lelaki ksatria dalam legenda dan epos-epos suku Dayak: Budjang. Sapaan seorang anak laki-laki yang hendak beranjak dewasa. Perawakannya sedang. Tapi tampan, tentu saja. Jelas menegaskan sikapnya yang pemberani, sekaligus punya nyali untuk mempertahankan suku, klan, dan wilayah.

Keadaan turut membentuk watak, sekaligus kebesaran seseorang. Demikianlah, tak lama setelah Indonesia merdeka. Ketika negeri ini baru mulai merajut mimpi lepas dari belenggu penjajah. Kalimantan Barat masih berkutat pada cengkeraman pendudukan Jepang. 

Dan Panglima Budjang satu di antara pembela kaumnya.

Memilih meniti jalan yang hampir lempang dan sunyi tak seperti panglima lain, Budjang tidaklah garang. Perawakannya terbilang mungil untuk seorang panglima. Namun, wibawa terancar dari sorot matanya yang tajam.

Budjang sadar, ini perang Madjang Desa bukan Lintang Pelaman. Dan dalam kisah-kisah pengayauan, memang dikenal hanya satu panglima besar. Yang lain-lain turut larut dalam misi menyukseskannya. Dan dalam Perang melawan pendudukan Jepang di tanah Meliau dan Tayan, Budjang satu di antara panglima yang larut dalam kebesaran Madjang Desa.

“Tidak banyak orang tahu Panglima Budjang. Tapi generasi kami, angkatan ’45, dan orang-orang tua yang usianya 80 tahun ke atas, sangat mengenalnya,” terang L.C. Sareb, tetua dari Jangkang yang mengenal baik Panglima Budjang.

Tak banyak catatan tertulis ihwal Panglima Bujang. Hanya seingat Sareb dan Tui, seusai mengalahkan Jepang, para panglima Dayak dan warga merayakan kemenangan di Bonti, Kab. Sanggau yang disebut “gawai notokng”. Turut berpartisipasi seorang panglima dari Simanggang (Sri Aman kini) adalah Panglima Kilat, yang dikenal sebagai Pang Kilat. “Mereka itu panglima-panglima Dayak yang tak tercatat, tetapi besar perannya,” imbuh Sareb.

Budjang menikah dengan Joe dan dikaruniai delapan anak. Tiga putra mereka masuk biara. Putra pertama, Yohanes Anes MTB, Mgr. Agustinus Agus, Vincentius, Petrus Piet, Philimus, Vitalis, PR. (Bruder Marcellius Bernardus MTB), dan Edita Yati, bungsu dan satu-satunya perempuan. Joe dan Bujang memiliki 8 anak.

Baca Keuskupan Sanggau Pemekaran Dari Keuskupan Agung Pontianak

Dalam buku lain, tidak tercatat peran Panglima Budjang dalam Perang Madjang Desa. Markus Yohanes Tui (88), tetua dari Lintang yang tinggal di Sanggau dan juga mengenal baik Panglima Budjang, menuturkan selain Budjang masih ada panglima lain lagi yang ia lupa namanya. “Tapi Budjang kami kenang karena kami kenal dan masih ada hubungan darah,” katanya.

Tentu saja, kiprah Panglima Budjang dari Lintang Pelaman tidak begitu saja. Maklumat perang oleh panglima-panglima perang Dayak, sebenarnya dipicu oleh ulah saudara tua, Jepang, yang ingin menguasai wilayah Kalimantan Barat secara paksa.

Dalam upaya mendirikan Negeri Timur Jauh, Jepang memandang Pulau Borneo sangat strategis dari sisi letaknya sehingga menjadi incaran serius. Betapa tidak, Borneo merupakan gugusan yang sambung-menyambung dari utara ke selatan, yakni kepulauan Jepang, Formosa, Borneo, dan Celebes. Dalam Perang Asia Timur Raya, ada kecenderungan Negeri Matahari Terbit hendak menyatukan gugusan pulau-pulau tersebut menjadi sebuah wilayah kekuasaannya.

Pang Budjang salah satu pejuang Perang Madjang Desa yang heroik itu. Bersama Pang Pang yang lain, mereka kurang mecncuat, kalah pamor dibanding Pang Suma. Sejarah wajib jujur!

Kota-kota di sepanjang pantai Laut Cina Selatan, seperti: Sambas, Pemangkat, Singkawang, Mempawah, Sei Pinyuh hingga Pontianak amat strategis dan menguntungkan bagi Jepang sebagai benteng pertahanan dalam perang Asia Timur Raya. Pada masa pendudukannya, Jepang telah membentuk pemerintahan di Borneo Barat dengan membentuk tiga karesidenan dengan menambah wilayah baru, Kalimantan Timur dengan Samarinda sebagai ibu kotanya.

Borneo Barat pada waktu pendudukan Jepang di bawah pemerintahan Angkatan Laut (Kaigun) yang diberi nama Borneo Minseibu Cokan yang berpusat di kota Banjarmasin[1] Borneo Barat masih tetap berstatus Minseibu Syuu yang dikuasai Syuu Tizi. Nantinya, pemerintahan bentukan Jepang ini berakhir tatkala pada tahun 1945 digeser oleh pemerintahan bentukan Belanda, Nica.[2]

Dimulailah sungkup[3] yang mengerikan itu dilancarkan Jepang. Seluruh kaki tangan dan karyawan di perusahaan Jepang dijadikan mata-mata yang dapat memberikan informasi penting bagi penambilan keputusan. Sedemikian rapinya, sehingga mata-mata Jepang tidak dicurigai dan tidak diketahui sama sekali.

Karena itu,  pada 3 Mei 1944 dimaklumkanlah Deklarasi Angkatan Perang Majang Desa. Dari bulan April hingga Agustus 1944, terjadi Perang yang dikenal dengan Perang Madjang Desa di Embuan Kunyil, Kecamatan Meliau, Kabupaten Sanggau.

Demikian pun, dalam perang terbuka di hutan-hutan, Jepang tak pernah sekali pun memetik kemenangan melawan pasukan Dayak. Para penglima perang Dayak yang sangat menguasai medan, dengan mudah memukul pasukan Jepang. Di waktu siang, para lelaki Dayak tidak pernah kedapatan berada di rumah. Mereka selalu mengundurkan diri ke hutan-hutan. Jepang mengira bahwa mereka sudah habis.

Manakala pasukan Jepang mengadakan patroli, orang Dayak dengan cepat menyergap. Dibantu sesama Dayak baik dari Kalimantan seluruhnya maupun dari daerah semenanjung Melayu, Tumasik dan sekitarnya, orang Dayak bersatu padu melawan Jepang.

Baca Sejarah Sanggau

Ajakan minta bala bantuan dengan tanda mangkok merah telah beredar dari kampung ke kampung. Pekik perang dan perlawanan sudah sampai ke seluruh penjuru. Datanglah secepat kilat pasukan perang Dayak dari suku Iban, Sungkung, Seribas, Kantuk, Punan, Bukat, Jangkang, dan lain-lain menambah kekuatan perang.

Tentara Jepang bukan saja kocar kacir oleh orang Dayak, tapi juga dipukul telak dan tidak berkutik. Memang nama Pangsuma[4] tercatat sebagai panglima perang Dayak pada masa pendudukan Jepang ini. Namun, sebenarnya, masih terdapat panglima perang Dayak yang lain selain Pangsuma. Yakni Pang Dandan dan Pang Solang. Dari Lintang Pelaman terecatat nama: Panglima Budjang. Nama mereka kurang dikenal dan tidak dicatat sejarah, tapi jasa-jasanya jelas tak dapat dinafikan.

Usai menaklukkan Jepang dan memenangkan Perang Majang Desa, Dayak wilayah Sanggau dan sekitarnya merayakan kemenangan itu dengan notonkg di Bonti, kecamatan yang kini wilayahnya berbatasan dengan Jangkang.

Catatan akhir:

[1] Ada lagunya, yang mengambil dari nada lagu Jepang, Mashiro Ni Fujma. Syairnya diciptakan oleh Akim. Ada seorang juga yang gagah perkasa/ Asalnya dari tanah  Majang dan Desa.

[2] Yang menguasai Jawa adalah Angkatan Darat (Rikugun) Jepang.  Meski berbeda angkatan yang menguasai, toh tampuk kekuasaan berada dalam satu tangan yang lebih tinggi lagi, yakni Saiko Shikikan.

[3] Secara harfiah berarti: menutup kepala dengan kain atau sarung goni.

[4] Namanya banyak diabadikan sebagai bentuk dan ujud penghormatan masyarakat Kalbar atas jasa-jasanya. Selain gelanggang olahraga di Jalan A. Yani Pontianak yang bernama Pangsuma, banyak gedung dan jalan bernama demikian. Bahkan, ada bandara yang diberi nama Pangsuma.


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url