Sejarah Sanggau

 

Foto-foto dokumentasi Seminar Kajian Penentuan Hari Jadi Sanggau. 

Sanggau.
Kabupaten di Kalimantan Barat dengan luas 
12.858 km², berpenduduk 470.224 (2019) mayoritas suku Dayak ini masih belum dikenal luas. Hal itu antara lain karena publikasi atau narasi tentang Sanggau belum banyak. Apalagi media yang dengan lantang mewartakan keunggulan sumber daya alam (SDA), manusia, dan adat budayanya; masih segelintir.

Untuk itulah portal berita dan informasi yang diberi nama "Sanggau NEWs" ini ada, dan berada. Bukan sekadar kanal biasa, namun lebih dari itu. Sesuai dengan predikat NEW yang berarti "baru", maka Sanggau di sini dapat dimaknai sebagai: membarui, meng-up date, mengkinikan, menggali kembali, merevitalisasi, menginformasikan kembali dan kemasan baru hal ihwal seputar Sanggau.

Baca About

Dapat dikatakan sebagai "anggur lama, kirbat baru". Di mana Sanggau dikemas dalam narasi yang bernas, lugas, enak dibaca. Suatu sajian gizi menu media yang selain menginformasi, mencelikkan, menginspirasi, juga berisi hiburan sehat sebagaimana tersaji dalam feature. Selain itu tersajikan pula narasi yang santai, laporan yang menginspirasi, dan karya tulis fiksi yang menghibur di ruang Sastra.

Kunjungi Rumah Kontrakan - Sebuah Cerpen

Jangan lewatkan puisi alam tentang Sanggau ini: Sanggau: Sing Me Back Home

Ruang "Sastra" yang diasuh oleh Sastrawan Dayak yang dibaiat kardinal sastra Indonesia, Korrie Layun Rampan dalam Leksikon Susastra Indonesia (2020: 390), R. Masri Sareb Putra ini diniatkan muncul kontennya setiap hari Sabtu dan Minggu. 

Jadi dimaksudkan untuk menemani Pembaca santai di akhir-pekan. Sekalian dapat mencicipi kenikmatan anggur merah kirmizi untaian puisi dan bunga-bunga cerita pendek yang sarat dengan kreasi, imaginasi, dan inspirasi. 

Bahkan telah terpikirkan pula untuk memuat Cerita Bersambung (Cerbung) yan selain menhibur juga sarat dengan informasi yang menggali khasanah kekayaan bumi Daranante.

Ruang "Sastra" ini didediksikan bagi edukasi dan motivasi para calon pengarang, penulis, pujangga serta munsyi Sanggau dan Kalimantan pada umumnya. Ajang berlatih dan belajar bersama. Learning by doing. Oleh sebab itu, partisipasi Pembaca sangat dinantikan sebab portal berita dan informasi ini milik kita bersama. 

Sebelum masuk lebih jauh ke berbagai konten menarik yang pastinya Anda akan ketinggalan jika tidak membacanya, baik kiranya diberikan bingkai dari seluruh narasi yang telah dan akan dipublikasikan. Kita mulai dari sejarah Sanggau.

Narasi Sejarah Sosial Sanggau ini berasal dari paper yang dibawakan oleh Masri Sareb Putra pada seminar untuk menentukanHari Jadi Kota Sanggau. Kiranya narasi ini cukup penting, terutama untuk memahami konteks sejarah sosial Sanggau, Kalimantan Barat.

Sanggau dalam lintasan sejarah
Berbicara mengenai SEJARAH, selalu menyangkut 3 hal-wajib berikut ini yang saling terkait.

Pertama, pelaku. Kedua, peristiwa. Dan ketiga, setting (waktu dan tempat peristiwa). Kita akan melihat bagaimana ketiga hal-yang wajib dalam studi dan rekonstruksi sejarah itu untuk melihat apa yang disebut dengan “Sejarah sosial Sanggau”, berikut ingatan-kolektif atau kesadaran bersama yang terbangun beserta konsekuensinya dalam rentang masa yang sudah lama, yang menyejarah.

Baca Sangao Itu Adalah Maritam

Perkenankan saya membawa topik yang diminta Panitia kepada saya dan dengan setia menggunakan teori dan pendekatan hermeneutika sebagai “pisau analisis”. Sebagaimana lazimnya teori, teori berguna, atau lazimnya digunakan, untuk menjelaskan fenomena (gejala). 

Fenomena kita adalah: adanya beberapa opsi yang (akan) dijadikan sebagai tonggak awal mula berdirinya “kota Sanggau”. Hal yang menarik adalah: tanggal dan bulannya tidak ada silang pendapat, meski kita masih bisa memperdebatkan apakah memang benar atau tepat tanggal dan bulan itu? Ataukah itu merupakan sebuah tanggal dan bulan simbolik? Namun, ternyata di dalam hal “tahun” terdapat setidaknya tiga opsi yang dijadikan sebagai tonggak. Dan inilah masalah kita: menenentukan tahun berdirinya kota Sanggau dengan berbagai argumen, konsiderans, dan konsekuensinya.

Sebagai akademisi yang melihat fenomena secara ilmiah, bukan sepintas, saya memamaprkan hasil amatan berdasarkan studi pustaka dan wawancara berikut konsekuensinya. Pendekatan ilmiah mengandung ciri: sistematis, metodis, koheren, dan dapat dipertanggungjawabkan. 

Ihwal manakah kemudian pilihan yang dianggap mendekati keBENARan, silakan Panitia atau Tim yang memutuskan. Tentu saja, sudah dengan menyertai argumen yang melandasinya. Dan dalam keputusan, mencantumkan apa yang menjadi argumen, atau pertimbangannya, yang dalam bahasa hukum disebut sebagai “considerant”.          

Perlu penafiran dan konstruksi sejarah
Pendekatan hermeneutika ialah upaya “menafsirkan” realitas (simbol, teks, hal yang hanya sedikit diketahui), berusaha mengaitkannya dengan konteks (inter-teks) untuk menjembatani kesenjangan (gap) antara apa yang diketahui (something known) dan apa yang belum diketahui (something unkwonwn). 

Di dalam upaya menasfirkan itu, si penafsir bertindak seperti Hermes yang menjembatani “dunia atas” dengan “dunia manusia”, sehingga terjadi fusi (fusion) horizon.

Sebagaimana diketahui bahwa hermeneutika ialah teori atau pendekatan untuk menafsirkan teks (realitas) simbolik, terutama sejarah, untuk menemukan makna-terdalam. Penafsiran mengandalkan kemampuan/ keahlian si penafsir dengan data lain sebagai pendukung atau interteks. 

Pada level data dan analisis kerap disebut sebagai critical constructivism‖ (Heiner, 2002: 6-7). Diperkenalkan Gamamer, teori ini sangat disukai para peneliti karena dapat menjelaskan masa lampau dalam terang masa kini. 

Sebagai contoh, terminologi “milik pribumi” pada saat ini berbeda dengan peristiwa tahun 1998. Kesenjangan/ gap masa lampau dan masa kini perlu ditafsirkan dalam horizon sejarah, dengan merekonstruksi konteks sosial-masyarakat pada masa itu.

Bagi Gadamer, sejarah bukanlah milik kita, tetapi kita adalah milik sejarah. Lama sebelum kita bisa memahami siapa diri kita (autos hepa), kita memahami siapa diri kita dalam cara yang terbukti dengan sendirinya, yakni kita ada dalam keluarga, dalam masyarakat, dalam negara, dan tempat tinggal kita (tradisi). Inilah yang disebut dengan “realitas historis”. 

Konsep yang penting dalam pandangan Gadamer ialah bahwa Gadamer melihat realitas sebagai sebuah teks. Gadamer juga meyakini bahwa jika kita mengerti teks maka penafsiran adalah metode atau jalan untuk mencapai pengertian yang ada di balik teks tersebut. 

Dengan demikian, pendekatan Hermeneutika adalah kritis, bahkan cenderung skeptis (salah satu sikap ilmuwan untuk tidak mudah percaya begitu saja).

Ketika kita menafsirkan teks, maka ada jarak waktu (dialektis). Teks mempengaruhi si penafsir. Terjadi proses dialektis antara teks dan kita sebagai penasfir, oleh karena itu, ada horizon. Teks juga dimengerti dalam dialektis perpaduan horizon. 

Jadi, tahap ini aktual tidak hanya pada zaman dulu. Di dalam upaya memahami realitas sebagai teks: ada vorurteil (prejudice), atau praduga dalam bahasa Indonesia-nya. 

Vorurteil ini dipakai untuk membaca teks. Inilah syarat supaya pemahaman akan sebuah teks terjadi. Dengan demikian, menurut Gadamer, pengalaman individu selalu hermeneutik, selalu berkembang dalam proses penafsiran.

Jadi, what is truth (kebenaran)? 

Teks adalah petunjuk (clueto somethingAletheia (kebenaran) menampakkan diri dalam seluruh dialektis (interaksi antara aku dan teks (aku sebagai si penafsir dan teks sebagai objek yang ditafsir). Sedemikian rupa, sehingga sampai pada pemahaman yang purna (sensus plenior) mengenai hakikat segala sesuatu yang ada (being) maka interaksi aku-teks ini berlangsung dalam apa yang disebut sebagai hermeneutic cycle (lingkaran hermeneutika).

Jadi, yang terpenting dalam seluruh kegiatan penafsiran itu pada akhirnya memahami diri kita sendiri (autos hepa) dalam konteks sejarah. Saya akan masuk ke dalam bagaimana “Kita memahami diri sendiri” dalam konteks sejarah sosial Sanggau.


 sumber diagram: Grassie


 

 

            









Lingkaran hermeneutikal: 1. Pemahaman –> 2. Penjelasan --
à 3. Kesesuaian/KebenaranPrefigurasi – Konfigurasi - Refigurasi 

Sebagaimana tampak dalam diagram, lingkaran hermeneutika menawarkann tiga tahapan diakletis seperti kita lakukan saat ini. 

Jadi, sesungguhnya, uji publik saat ini yang kita lakukan adalah sebuah upaya “hermeneutikal” yakni menafsirkan sejarah masa lampau dengan seperangkat pengetahuan (prejudice) yang kita miliki masa kini, berusaha mengaitkan realita-sejarah itu dengan realitas lain yang terkait, menjelaskannya, memaparkan data/temuan baru, lalu menemukan 
Kesesuaian/Kebenaran untuk memahami dan mendefinisi: siapa diri kita? dalam horizon sejarah masa lampau. 

Berdasarkan proses dialektika forum seminar ini, diharapkan ditemukan dan disepakati “kapan” tanggal, bulan, dan tahun yang SESUAI untuk penetapan Hari Jadi Kota Sanggau.

Berfusinya horizon
Teks adalah realitas yang tampak, teks yang tampak tersebut haruslah ditafsirkan dalam tiga dimensi: 1) psikologis, 2) struktur, dan 3) historis untuk menemukan kebenaran (realitas) yang sejati –yang dalam bahasa Thomas Aquinas disebut sebagai ―anagogical level‖, upaya menemukan sensus plenior dari sesuatu. Tidak mudah secara persis merekonstruksi sejarah sosial Sanggau. Hal itu karena kita miskin akan sumber primer, baik tertulis maupun artefak, tentang hal itu untuk merekonstruksi sejarah sosial.

Meminjam istilah Wilhelm Bauer [1], sejarah sosial adalah ilmu yang meneliti gambaran dengan penglihatan yang singkat untuk merumuskan fenomena kehidupan yang berkembang dengan perubahan-perubahan yang terjadi karena hubungan manusia dengan masyarakat, memilih fenomena tersebut dengan memperhatikan akibat-akibatnya. 

Bentuk kualitasnya terletak pada pusat perhatian yang tercurah pada perubahan-perubahan itu sesuai dengan waktunya serta tidak akan terulang lagi (irreproductible).

Sementara itu, studi-studi hermeneutika dan teori simbolik pun menjelaskan bahwa pada hakikatnya suatu masyarakat adalah “sebuah teks” yang mencerminkan realitas sosial. Untuk memahaminya, teks yang hidup itu perlu ditafsirkan dalam konteks psikologis, struktur, dan sejarah (tradisi).

Dalam proses menulis novel sejarah Dayak, NGAYAU dan KELING KUMANG, saya membaca naskah-naskah kuna seputar tiga hal-wajib sebagai syarat studi sejarah: tokoh, peristiwa, dan setting (waktu dan tempat).Ditemukan di teks-teks lain (misalnya Sejarah Kerajaan Sintang) adanya semacam hubungan diplomatik antara Kerajaan Sintang dan Sanggau Generasi kedua Daranante. 

Berkebetulan, di novel NGAYAU disebut-sebut Abang Jubair dari kerajaan Sintang ditawan pasukan Kerajaan Majapahit oleh tipu daya "kura-kura emas" yang ditaruh di lumbung kapal (Masri, 2014: 311- 323). Datang Darajuanti, adiknya, membebaskan yang menyamar sebagai pria. 

Ketika diiuji, baru ketahuan dia perempuan oleh laskar Majapahit. Lalu kisah asmara mereka berujung Patih Loh Gender membawa barang antaran ke Sintang. Kedunya kawin-mawin, dan setelah kerajaan Sintang pun jatuh ke dalam klik keluarga, Darajuanti dan Loh Gender dibuang ke Bukit Kelam.

Keraton bekas kerajaan Sanggau. Sumber: Lontaan, 1975.

Nah, pada rentang-masa itulah datang Daranante ke wilayah Sanggau dari Sukadana mencari suaminya, Babai Cinga. Pada awal mula, pusat kerajaan dibangun di hulu muara Sungai Sekayam dan bermuara di Sungai Kapuas. Oleh Dayang Mas, anak Dara Nante yang bersuamikan Nurul Kamal keturunan Kiyai Kerang dari Banten, pusat Sungai ke Mengkiang. (Baru pada zaman Sultan Muhammad Jamaluddin pusat pemerintahan dipindahkan ke Sanggau). 

Di era Dayang Mas inilah disebut-sebut Kerajaan Sintang menjalin hubungan baik dengan Kerajaan Sanggau yang baru didirikan. Berbagai teks menyebut tahun sekitar abad 13. Daranante dan rombongan ditengarai merapat di daerah yang kita kenal dekat dengan mura sungai Sekayam, tidak jauh dari masjid Jami, ini tahun 1310. Ini pun masih perlu “maknai/tafsirkan” apakah persis tahun ini, ataukah angka simbolik?

Akan halnya nama “Sanggau” terdapat berbagai etiologi atau asal usul. Ada yang mengatakanya sebagai nama sekelompok komunitas/penduduk yang bermukim di sepanjang tempat singgahnya rombongan Daranante. Kita sulit menerima asumsi ini. 

Jika demikian, mengapa tidak ada, dan tidak pernah dikisahkan dari mulut ke teling mengenai keberadaan komunitas ini? Kita lebih condong bersetuju kepada pendapat Lontaan, 1975 yang menyebut bahwa Sanggau adalah sejenis pohon. 

Namun, sayangnya, tidak dijelaskan bagaimana rupa jenis pohon itu. Akan tetapi, berdasarkan tradisi dan pemahaman yang hidup di kalangan Dayak Jungur Tanjung dan Jangkang, “sangau” adalah pohon sejenis rambutan, atau rambutan hutan, daunnya agak lebar, buahnya juga lebih besar. Namun, rasanya persis dengan rambutan.

Sejarah sosial vs. sejarah kerajaan
Membaca berdirinya kerajaan-kerajaan, bukan hanya di Borneo, adalah ceriita raja, bukan ceirta rakyat. Dan cerita raja (kerajaan) bukanlah sejarah sosial, akan tetapi sejarah penguasa. Di sini benar ungkapan bahwa “Sejarah ditulis pemenang” karena ada peristiwa lain yang dinafikan, atau bahkan sengaja dicampakkan agar tidak menjadi peristiwa sejarah.

Saya tidak akan masuk ke wilayah yang cenderung “legenda” ketimbang peristiwa bagaimana Daranante menemukan ayah anaknya dengan cara memberinya sebatang tebu sebagai penunjuk. 

Penulis lebih tertarik menelusuri teks yang menyebut bahwa perjalanan Daranante mencari Babai Cinga menelusuri Sungai Sekayam, masuk jauh ke Sungai Entabai, di sebuah kampung yang disebut-sebut sebagai Tampun Juah.Keduanya bertemu. 

Setelah pertemuan itu, mereka berpisah (diduga karena tugas masing-masing). Dalam perjalanan pulang, rombongan Daranante bertemu Dakkudak yang dibaiat memerintah kerajaan Sanggau, tetapi kemudian tidak mampu.

Dakkudak tidak berhasil memimpin Sanggau, segala persoalan tidak bisa diatasinya. Ditengarai, Dakkudak adalah orang asing, sehingga tidak memahami kondisi dan adat istiadat budaya setempat. Maka diganti oleh Dayang Mas, keturunan Dara Nante untuk memerintah Sanggau. 

Pada masa Dayang Mas inilah pusat kerajaan Sanggau dipindahkan ke Mengkiang. Dayang Mas dibantu siaminya, Nurul Kamal, keturunan kiayi Kerang dari  Banten. Dayang Mas diganti Dayang Puasa. Raja berikutnya adalah Abang Gani.

Menarik melihat setting peristiwa persinggahan Daranante dekat muara Sekayam dan pertemuannya dengan Babai Cinga. Itu adalah pertemuan dua suku. Pertemuan sungai dan sungai (muara) simbol yang sangat dalam. Maka abad 13, atau –sesuai konvensi—tahun 1310 adalah tonggak sejarah sosial yang kompromis. Meskipun, Babai Cinga da Daranante ini punya dua versi: sudut pandang Dayak dan sudut pandang Melayu (Sinan/Senganan). 

Dalam perkembangan, Daranante yang keturunan Melayu di kisah-kisah lisan menjadi dominan dibanding suaminya, Babai Cinga.

Itulah dalam media bias disebut bagaimana penguasa (sultan-sultan) to spoon --menyendok/mengambil-- bagian-bagian kisahan yang menurutnya menguntungkan dan menafikan bagian yang merugikan. Lama-lama terbentuk apa yang disebut dengan "cumulative impact", persepsimasyarakat, bagaimana yang namanya "kebenaran" bisa dibangun secara ideologis.

Hal yang menarik, terdapat tahun yang berbeda sejarah Sanggau, bergantung kepada KAPAN yang dianggap tonggak? Pilihan kompromis, dan terbaik, menurut saya --dan akan saya pertahankan nanti di forum diskusi-- adalah 7 April 1310 [2], bukan 1616. Saat Daranante singgah di sebuah muara sungai, dekat masjid Jami, atau keraton kerajaan Sanggau kini dalam perjalanannya mencari Babai Cinga yang masuk ke Sungai Entabai.

Penetapan tahun akan sangat penting dan mempengaruhi secara psikologis dan pemilahan-pemilahan, terutama jika yang diambil adalah tonggak 1616. Perda mengenai Tahun Berdirinya Sanggau prosesnya sudah sangat bagus: didadarkan dalam seminar ilmiah, mencari titik temu, dan jangan lupa: bikinkan latar penetapannya dengan argumen-argumen dan berbagai pertimbangan dan alasan.

Yang kompromis adalah tahun 1310. Inilah makna terdalam dari "sejarah sosial" yang menyertakan bukan hanya pelaku utama peristiwa, melainkan juga masyarakat. Jika tahun lain, itu bukan sejarah sosial.

Tonggak sejarah lain
Dahulu kala, oleh karena keterbatasan manusia terpelajar dan kesadaran mengenai menulis dan mendokumentasikan sejarah masih langka maka sulit menemukan sumber-sumber primer yang mendukung studi dan penelusuran sejarah dari sumber primer. Bukan salah siapa-siapa, sebab memang demikianlah manusia berkembang sesuai dengan perkembangan zaman dan teknologi sebagaimana digambarkan Fidler dalam Mediamorfosis[3].

Tonggak lain dapat mengambil datangnya siar dan pengaruh agama Islam ke Kalimantan pada abad ke-14 bersamaan dengan ekspedisi Cheng Ho[4], tetapi ini mengandung konsekuensi menjadi “sejarah searah”, tidak bisa dikatakan sebagai sejarah sosial karena tidak melibatkan seluruh komponen sosial kemasyarakatan dari berbagai kelas dan latar. 

Jika siar Agama Islam dalam kurun waktu ini masuk Borneo Barat maka dapat ditarik kesimpulan bahwa: itu terjadi pada Pelayaran ke-3 Laksamana Cheng Ho dalam kurun waktu 1409-1411.

Data sejarah mencatat bahwa hubungan kerajaan Tanjungpura dan Sanggau sudah terjalin sejak tidak lama setelah hubungan diplomatik kerajaan Sintang dan Sanggau berlangsung baik. Disebutkan (Lontaan, 1975: 172 ) Abang Gani bergelar Kiai Dipati Kusuma Busu Negara datanglah raja dari Matan (Tanjungpura) mengawini putri Sanggau bernama Dayang Seri Gemala bergelar Ratu Ayu. 

Namun, karena satu dan lain hal, akhirnya Ratu Ayu diminta untuk pulang kembali ke Sanggau. Siar Islam, atau Islam masuk ke Sanggau ditengarai bersamaan dengan hubungan baik antara kerajaan Sanggau dan Tanjungpura. Antara abad pengujung 14 – 16. Jadi tahun masuknya siar Islam ke Sanggau abad 16 sangat boleh jadi berdasar kepada berbagai studi interteks sebagaimana dipaparkan.

Sejarah kerajaan Sanggau mencatat Panembahan Gusti Ali Akbar memerintah dari 1944-1956. Sayangnya, kurang beruntung bagi Gusti Ali Akbar, sebab pada saat pemerintahannya beliau diintervensi kekuasaan asing yang ditandai dengan dikirimkannya oleh Belanda Asisten Residennya bernama Riekerk. Dengan segera Riekerk menjalankan politik divide et impera.

Tindakan pertama yang dilakukannya ialah menurunkan Gusti Ali Akbar dari tahta kerajaan. Dan pada saat bersamaan mengangkat Panembahan Gusti Mohammad Thaufig sebagai panembah17 yang memerintah hingga penyerahan swapraja. 

Swapraja terakhir dipimpin Uray Mohamad Johan. Pada saat inilah terjadi penyerahan pemerintahan Swapraja Sanggau ke tangan M.Th. Djaman, seorang Dayak, selaku Kepala Daerah Swatantra Tk. II Sanggau pada tanggal 2 Mei 1960. Penyerahan ini, sekaligus menandai berakhirnya era kerajaan Sanggau dan nantinya ganti menjadi ibukota Kabupaten Sanggau.

Suksesi kerajaan terus berlangsung hingga pemangku kekuasaan kerajaan Sanggau jatuh pada Panembahan Mohammad Ali Mangku Negara (1814-1825). Lalu, jatuh lagi ke tangan Sultan Ayub Paku Negara (1825-1830) yang, pada saat pemerintahannya, mendirikan Masjid Jami di pusat kerajaan Sanggau.

Sejarah kerajaan Sanggau unik. Barangkali sulit menemukan duanya di dunia. Kerajaan yang diawali dan didirikan bangsawan Melayu sejak zaman kolonial, dan masih berlangsung hingga zaman peralihan, akhirnya ditutup oleh “raja” dari keturunan Dayak. 

Cukup banyak tokoh Dayak dari Sanggau aktif di dalam berjuang untuk kemerdekaan Indonesia, antara lain Pang Suma, Pang Sulang, Pang Dandan, Pang Budjang semasa penddukan Jepang yang dikenal dengan nama "Sungkup".

Baca Pang Budjang Salah Seorang Pejuang Perang Madjang Desa Dari Lintang Yang Dilupakan

Setelah Indonesia merdeka, tidak kalah muncul tokoh Dayak setempat membangun Sanggau. Antara lain M. Th. Djaman yang menjadi bupati Sanggau. Ia meninggalkan banyak legas di berbagai bidang. Untuk itulah rumah sakit umum didedikasikan dan diberi nama "M. Th. Djaman". 

Daranante - Babai Cinga
Sejarah telah mencatat (Lontaan, 1975) bahwa pendiri kerajaan Sanggau adalah Daranante yang ditengarai berasal dari Labai Lawai (Sukadana), keturunan Majapahit. Sedangkan suaminya adalah Bagai Cinga, seorang penduduk asli setempat yang dipastikan adalah orang Dayak.

Tidak mengherankan bahwa perkawinan keduanya menurunkan orang Dayak yang kini dikenal Dayak dan Senganan, yakni Dayak yang memeluk agama Islam. 

Berdasarkan horizon sejarah inilah maka di Sanggau (juga Sintang) maka yang disebut “Melayu” itu adalah Senganan, yang aslinya orang Dayak. Dalam konteks sejarah itulah, maka orang Dayak yang tinggal di pesisir, yang telah memeluk Islam itu, disebut “Senganan”. 

Mereka memanggil “Somang” kepada Dayak, selanjutnya orang Dayak menyebut mereka “dompu”. Hanya dalam perspektif sejarahlah semua fenomena masa kini tentang Dayak dan Senganan dapat dipahami. Kedua-duanya adalah keturunan yang sama dari Nara Nante dan Babai Cinga.

Menurut hikayat, pecahan rombongan Dara Nante - Babai Cinga ini mudik menyusuri Sungai Kapuas, melewati Semuntai, hingga mendirikan kerajaan Sekadau.

Baca Semuntai: Jembatan Menghubungkan Sanggau Dan 4 Kabupaten Di Hulu Sungai Kapuas

Pada waktu itu, belum ada jalan darat. Apalagi ferri dan jembatan penyeberangan. Sungai pada zaman itu adalah jalur transportasi utama. Sedemikian rupa, sehngga sungai Kapuas boleh dikatakan sebagai urat nadi transportasi yang vital di seluruh Kalimantan Barat. 

Sungai Kapuas ini yang digunakan para migran dari Tampun Juah, trutama suku Iban, untuk melakukan perpindahan ke Hulu Sungai Kapuas. Iban kini terkonsentrasi di Kabupatan Sekadau, Sintang, dan Kapuas Hulu. Orang Iban hanya sedikit saja yang bermukim di kabupaten Sanggau, mereka sebagai pegawai, guru, rohaniwan, dan pendeta.

Baca Rumah Panjai Orang Iban

Sejarah: Saksi kebenaran
Berbagai tonggak sejarah, berikut manakah yang merupakan sejarah sosial (histrory) dan manakah sejarah sekelompok atau orang tertentu (his story), sudah dipaparkan. Tiga hal wajib dalam studi sejarah sudah didapat: pelaku, peristiwa, dan setting. Dua hal kita sama sepakat menyangkut tokoh, peristiwa, dan setting tempat. Namun, setting waktu masih belum sepakat terutama menyangkut tahun.

Silakan Panitia atau Tim memilih tahun yang dijadikan tonggak berdirina Kota Sanggau, berikut argumen dan konsideransnya. Hanya sekadar usulan: tetapkanlah tonggak yang merekat semua elemen masyarakat, jangan sampai penetapan hari jadi justru menciderai dan melukai salah satu elemen. Konsekuensi penetapan itu lama. Dan yang namanya “dendam sejarah” tidak pernah bisa diobati, termasuk oleh waktu.

Sebagaimana ditegaskan pakar sejarah ternama, Marcus Tullius Cicero (106 – 43 SM) sejarah (historia) setidaknya berfungsi 5 hal.

  1. Historia vero testis temporum (sejarah adalah saksi zaman).
  2. Lux veritatis (sinar kebenaran).
  3. Vita memoriae (kenangan hidup).
  4. Magistra vitae (guru kehidupan).
  5. Nuntia vetustatis (pesan dari masa silam).

Siapa yang tidak belajar sejarah, ia dikutuk sejarah. Mari kita belajar agar jangan dikutuk! Sanggau yang semula kabupaten dengan wilayah yang luas, dimekarkan menjadi Kabupaten Sekadau.

Hal yang cukup unik adalah bahwa Sanggau mayoritas penduduknya suku Dayak (terbanyak rumpun Bidayuh), di samping Iban, dan sedikit Kanayatn. Senganan juga merupakan mayoritas yang kedua. Cukup banyak pula jumlah etnis Jawa, mereka adalah para transmigran yang bermukim di daerah Kecamatan Mukok dan Jangkang yaitu di SP 1, 2, 3, dan 4.

Kebanyakan masyarakat Sanggau memeluk agama Katolik yang diperkenalkan para misionaris dari Ordo Kapusin pada tahun 1905.

Baca Keuskupan Sanggau Pemekaran Dari Keuskupan Agung Pontianak

Pada awal mula, kepala gereja lokal (Keuskupan Sanggau) adalah Mgr. Julius Giulio Mencuccini, C.P., Uskup Keuskupan Sanggau. Ia menjabat sebagai uskup Sanggau dari 22 Januari 1990 - 18 Juni 2022. Staf pastoral Keuskupan Sanggau kemudian diteruskan kepada penggantinya, sesama Kongregasi Pasionis, Mgr. Valentinus Saeng, C.P.

Baca Mgr. Dr. Valentinus Saeng, CP: Uskup Sanggau Asal Sekadau

Sanggau Kini
Sebagai "ibu kandung" yang melahirkan Kabupatan Sekadau, Sanggau tentu tidak ingin tertinggal di berbagai bidang dari anaknya yang kini telah berdiri sebuah institut. Berbagai pembangunan memang menggeliat, namun infrastruktur jalan raya masih belum cukup memadai. 

Satu-satunya jalan yang tergolong kondisinya "sangat bagus" adalah jalan negara yang menghubungkan Pontianak - Kuching yang melintas Kabupaten Sanggau hingga perbatasan di mana dibangn pos lintas batas (PLB) yang cukup mewah di Entekong.

Di Bidang literasi dasar yakni baca-tulis, Kabupaten Sanggau mulai literat. Terbukti cukup banyak komunitas membaca-menulis yang ada di sana, antara lain Bumi Menulis. Bahkan istri bupati Sanggau Paolus Hadi, dinobatkan sebagai "Bunda Literasi".

Baca Arita | Bunda Literasi Kabupaten Sanggau

Literasi yang juga berarti melek, cerdas, pandai, terampil di bidang lain pun makin dinikmati masyarakat Sanggau seiring dengan semakin terbukanya pemerintah dan penduduk pada peran swasta. Credit Union (CU) di Sanggau bukan hanya tumbuh dan bekembang, melainkan juga menggeliat dan menyebar ke seluruh desa. 

Baca Credit Union (CU) Tumbuh Subur Di Kalimantan, Mengapa?

CU Keling Kumang di Sanggau

Kini perekonomian di desa-desa kian menggeliat. Kita dapat menyebutnya sebagai era kebangkitan ekonomi kerakyatan. Di mana partisipasi masyarakat sangat tinggi di berbagai sektor pembangunan. 

Sudahlah tentu bahwa partisipasi masyarakat dalam pembangunan ini tidak terlepas dari faktor sejarah. Nilai-nilai yang ditanamkan para misionaris asing, pembangunan di sektor pedidikan, kesehatan, dan politik; turut mempengaruhi. 

Dahulu kala, titik awal kebangkitan gerakan pemberdayaan Dayak dimulai dari Sanggau. Yaitu retret (pertemuan rohani) para guru Katolik yang diberi nama Dayak in Action (DIA) pada tahun 1945 yang merupakan cikal bakal berdirinya Partai Persatuan Dayak (PPD) yang dibidani oleh duo tokoh Dayak Kalbar pada saa itu yakni Oevaang Oeray dan F. Palaunsoeka. Pada 1 November 1945, DIA bermorfosis menjadi Partai Persatuan Daya (PPD). Dayak tercatat dalam sejarah pernah memiliki partai sendiri.

Sanggau pun mencatat sejarah sebagai tempat Pembukaan Kongres Partai Persatuan Daya (PD) di Sanggau, Kalbar, 10-13 Juli 1950.

Oleh arus modernisasi dan pembangunan, serta keterbukaan, tidak ditemukan lagi orang Dayak di Kabupaten Sanggau yang mendiami rumah panjang seperti Ensaid di Sintang dan Sungai Utik di Kapuas Hulu. 

Ada satu dua rumah panjang Kabupaten Sanggau yaitu di Kopar, kecamatan Parindu, Pusat Damai. Kondisinya sudah sangat tua dan kurang terpelihara. Untuk memasukinya saja, kita harus ekstra hati-hati. Oleh karena kayu yang menjadi penyangga dan papan yang menjadi lantainya telah lapuk dimakan rayap di ditelan oleh waktu.

Baca Kopar: Rumah Panjang Yang Ditinggalkan

Adapun etnis mayoritas di Kabupaten Sanggau adalah Dayak, terutama Dayak Bidayuh yang tersebar di kecamatan Parindu, Kembayan, Noyan, Mukok, dan Jangkang. 

Baca Perkawinan Adat Dayak Jangkang

Suku lain penduduk Kabupaten Sanggau adalah Senganan, Jawa, dan Tionghoa. Senganan pada umumnya bermukim di pesisir atau tepi sungai seperti Kapuas, Sekayam, dan Mengkiang. Jawa bermukim di lokasi transpigrasi seperti di SP-1, 2, 3, dan 4. Sedangkan etnis Tionghoa umumnya tinggal di kota saja, seperti di Sanggau, Bodok, Sosok, Kembayan, dan Balai Karangan.

Daftar Pustaka

Alqadrie, Syarif Ibrahim dan Pandil Sastrowardoyo. 1984. Sejarah Sosial Daerah Kotamadya Pontianak. Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional, Jakarta.

Bakker J.W.M., S.J. 1972. Agama Asli Indonesia: Penelahan dan Penilaian Theologis. Yogyakarta: Puskat Bagian Publikasi.

Evans, H.N. Ivor. 1922. Among Primitive Peoples in Borneo. London: Seeley-Service & C.O. Limited.

Gadamer, Hans Georg (1989). Truth and Method. New York, Crossroad.

Geertz, Clifford. 1973. The Interpretation of Cultures. New York: Basic Books Inc. Publishers.

Grassie, William J. 2003. “Hermeneutics in Science and Religion.” The Encyclopedia of Religion and Science. Wentzel Van Huysstenn. New York, Macmillian.

Lontaan, J.U. 1975. Sejarah, Hukum Adat, dan Adat Istiadat Kalimantan Barat. Pontianak: CV Bumirestu.

Proyek Pengembangan Media Kebudayaan, Direktorat Jendral Kebudayaan, Departemen Pendidkan dan Kebudayaan. 1976. Monografi Daerah Kalimantan Barat.

Putra, R. Masri Sareb. 2010. Dayak Djongkang. Jakarta: UMN Press.



[1] Michael Grant dalam Greek and Roman Historians (Routledge, 1995: 94) sambil mengutip pendapat sejarawan tersebut mencatat bahwa sejarah sosial tidak berdiri sendiri. Ketika sejarah belum ditulis, sulit untuk membedakan antara fakta dan bukan-fakta. Ketika sudah ditulis, sejarah itu pun tidak terlepas dari si penulis dan penafsirannya serta tanda-tanda yang dipakainya untuk berkomunikasi dengan pembaca. 

Lebih lanjut Grant mencatat, “Wilhelm Bauer explained ‘that the cult of objectivity presents serious drawbacks, since its object can never be achieved’. He considers that the historian should avoid with equal care tendentiousness and colourless impartiality.”

[2] Sesungguhnya, saya hanyalah menguatkan saja apa yang sudah disepakati pada 26 Juli 2009.

[3] Terbit tahun 1977, buku itu menjelaskan kaitan antara manusia dan teknologi yang koevolusi dan koeksistensi.

[4] Bambang Budi Utomo dari Puslitbang Arkeologi Nasional “Cheng Ho: Laksamana Laut yang Disegani Umat Islam dan Buddha/Kong Hu Chu” halaman 4 menjelaskan bahwa Cheng Ho ke Kalimantan dalam rangkaian ekspedisi ke Champa, Melaka, Siam, Kalimantan, Jawa, dan Lambri.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url