CU Keling Kumang di Sanggau

Branch-office CU Keling Kumang, Sanggau.

Desa mengepung kota. Ini kata-kata mustajab yang meluncur dari salah seorang pendiri, sekaligus general manager (GM) CU Keling Kumang 20 tahun, Munaldus Nerang, M.A..

Dalam dunia psikologi, itu yang dinamakan "self fulfilling prophecy". Kita akan menjadi seperti apa yang dipikirkan. Maka terjadilah demikian. Mengapa? Sebab ketika seluruh daya cipta, daya upaya dan kehendak diarahkan mencapai satu hal, maka alam semesta akan mendukug,

Begitulah Credit Union (CU) Keling Kumang hari ini.CU ini saat ini punya aset 1,9 T dengan 216.503 anggota. Di Kalimantan Barat, dikenal sebagai Bank Dayak.  Padahal, ide sederhana. Ingin memberi yang terbaik bagi warga desa. Gagasan kecil berdampak besar yang lahir di sebuah rumah kontrakan.

Di Sanggau, CUKK punya kantor cabang yang kerap mereka namakan Branch-office (BO). Melayani masyaakat seluruh kabupaten. Di tiap kecamatan, ada kantor juga. 

Alamat
Jln. Masjid Agung No. 10, Kelurahan Ilir Kota, Kabupaten Sanggau

Jangan melihat hari ini. Tapi tengoklah ketika awal gagasan CU ini didirikan. Modal dengkul. Nekad dari 4 bersaudara yang ingin memutus rantai setan belenggu kemiskinan keluarga dan warga kampung. Sebab, kata Munaldus, salah seorang pengagas, "Kemiskinan ibarat pendarahan. Harus dihentikan."

Ini nukilan kisahnya.

Pontianak yang dilintas garis khayal khatu­ listiwa senantiasa menyimpan pesona. Hanya di kota ini matahari bermain-main dengan sinarnya, bayangan pun akan hilang ketika kita dan benda apa saja berada tepat di atas garis khatulistiwa. Itulah Equinox.

Bayangan Bujang juga tertelan di kota kenangan itu seperti gerhana menelan bulan. Pada tanggal 29 September 1992 - 1 Oktober 1992 diadakan pertemuan Komisi Komsos Keuskupan untuk regio Keuskupan Agung Pontianak di Kantor Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Agung Pontianak, yang satu Kompleks dengan Kantor Yayasan Perum Pontianak.

Kemiskinan ibarat pendarahan. Harus dihentikan --Munaldus.

Dari Komisi Komsos Keuskupan Ketapang, Musa adalah salah satu yang diutus untuk meng hadiri pertemuan tersebut. Maka pada hari Minggu, tanggal 27 September 1992 laki-laki tertua itu berangkat dari Ketapang dan tiba di Pontianak keesokan harinya, yaitu Senin, tanggal 28 September 1992. 

Turut serta dalam rombongan, Musa meng­ gunakan KM Saroha, kapal motor berbodi kayu yang memerlukan jangka waktu tempuh sekitar 20 jam perjalanan, berangkat sore hari dari Ketapang dan tiba siang hari keesokan harinya di Pontianak. Kala itu akses ke Pontianak masih sulit dan lama, serta terasa mahal. Jaringan telepon seluler seperti hand phone atau smartphone belum ada.

Pada saat sudah berada di Pontianak, Musa memberi­ tahu adik-adiknya yang tinggal di Pon­ tianak bahwa dirinya sedang berada di Pontianak untuk mengikuti kegiatan Komsos. Adik-adiknya yang laki-laki pada saat itu semua tinggal di Pontianak. Mereka adalah Munal, Masiun, dan Mikael yang belum lama pindah ke kota kha­ tulistiwa dan bekerja di sebuah Perusahaan kayu, PT Tanah Sakti, Wajok, Pontianak. Adik pe­rempuan mereka, Martina (alm.), kala itu tinggal bersama Masiun, di rumah kontrakan, Gg. Selat Lombok II, Siantan, Pontianak.

Mendengar saudara tertua mereka ada di Pon­ tianak, adik-adik mengundangnya untuk beranau ke rumahnya. Tetapi Munal yang cerdas menggagas agar bertemu di salah satu rumah mereka dan diputuskan tempatnya di rumah kontrakan Ma­ siun, karena letaknya relatif di tengah antara Munal dan Mikael. Disepakati juga mengundang warga kampung asal Sekadau yang kala itu bekerja di Pontianak, seperti Hadrianus Lukas, Sekun, dan Ali Pius (saudara Sekun).

Pertemuan itu, dimaksudkan untuk “bekerung, beranau, begauk”, tetapi juga mau mendiskusikan alat atau sarana apa yang dapat digunakan untuk pemberdayaan­ masyarakat di kampung, khususnya Tapang Sambas, Tapang Kemayau dan sekitarnya. Ayah mereka secara administratif berasal dari kampung Tapang Sambas dan Ibu dari kampung Tapang Kemayau; tetapi secara geografis rumah orang tua mereka berada di wilayah kampung Tapang Sambas.

Pada tahun 1992 itu, sudah dihasilkan dua orang sarjana yang berasal dari kampung ini. Mereka adalah Munaldus, Sarjana Pendidikan Matematika yang tamat­ tahun 1987 dan Masiun, Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris, tamat tahun 1991. Keduanya alumni Universitas Tanjungpura (UNTAN) yang cikal bakalnya sendiri adalah Universitas Daya Nasional yang digagas Gubernur Pertama Dayak, Oevaang Oeray.

Walaupun Musa, sebagai anak tertua, adalah perintis awal keluar dari kampung dan “membuka jalan” di Pontianak pada Juli tahun 1982, tetapi pada tahun 1992 (10 tahun kemudian) dirinya masih berstatus tamatan Pendidikan Guru Sekolah

Menengah Pertama (PGSMTP), setingkat Diploma 1 (D-1). Pada tahun itu, Musa baru memulai studi Penyetaraan Diploma 3 Pendidikan Matematika di Universitas Terbuka (UT) di Ketapang. Pada tahun 1982, ketika ia tiba pertama kali di Pontianak, tidak punya siapa-siapa; tidak punya keluarga atau kerabat di Pontianak. Satu-satunya orang yang dapat ia tuju di sana adalah Bapak Robertus Subagyo, BA,(alm.), mantan gurunya di SPG Santo Paulus Sekadau, yang saat itu sudah pindah ke Pontianak bersama keluarga, untuk menyelesaikan pendidikan sarjana Starata Satu di Untan. Mereka tinggal di Kota Baru Pontianak. Beliaulah yang paling banyak memotivasi Musa agar dapat melanjutkan studi ke Perguruan Tinggi dan menjadi sarjana.

Pertemuan di rumah kontrakan Masiun itu, dilaksanakan ketika gelap merayap kota Siantan, pada hari Kamis tanggal 1 Oktober 1992. Empat saudara berbicara santai, sembari menikmati hi­ dangan ala kadarnya­ yang tersedia. Selanjutnya, mengemuka gagasan bahwa “kita bersaudara” adalah orang pertama yang keluar dari kampung dan berhasil meraih pendidikan tinggi dan sudah bekerja di kota.

Muncul pertanyaan, “Apa yang dapat kita lakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap kemajuan dan perkembangan Tanah Kelahiran”? Jangan sampai terjadi, setelah kita berhasi dan sukses, kita lupa pada kampung halaman dan tidak ada memberikan kontribusi terhadap kemajuan kampung halaman dan masyarakat. Jangan sampai seperti pepatah, “Kacang lupa akan kulitnya”.

 Maka, muncul beberapa gagasan kala itu, misalnya mengajak masyakat menanam karet dan tidak menyerahkan tanah ke pihak perusahaan (karena perusahaan Sawit MJP sudah mulai masuk di Sekadau pada tahun 1987), mendorong agar anak-anak harus sekolah sampai menjadi sarjana,memiliki usaha dan lain-lain. Namun, tidak ada yang terasa mantap untuk dilaksanakan segera dan bagaimana caranya memulainya.

Kemudian Munal menceritakan pengalamannya bersama teman-temannya mendirikan Credit Union Pancur Kasih di Pontinak yang pada saat itu sudah mulai berkembang. Munal berpendapat bahwa nampaknya mendirikan CU di kampung adalah alat yang paling cocok untuk sarana pemberdayaan

masyarakat di kampung. Hadirin yang hadir setuju bahwa melalui Credit Union kita dapat menjangkau banyak orang, termasuk menggalakkan menanam karet dan mengajak masyarakat kampung untuk tidak menyerahkan tanah ke perusahaan dan lain-lain. Belakangan terbukti, kampung Tapang Sambas, Tapang Kemayau, dan kampung Baru tidak masuk daerah PIR Trans dan masyakat tidak menyerahkan tanah.

 Pada malam itu, kisah Musa, “Saya mengata­ kan bahwa saya tidak dapat terlibat dalam pengorganisasian dan pendirian Credit Union di kampung (malam itu, nama Credit Unionnya belum ada), karena saya tinggal jauh di Ketapang, demikian juga Mikael sulit mendapat izin tidak masuk kerja dari perusahaan, apalagi masih relatif baru bekerja di sana. Maka disepakati bahwa tugas pengorganisasian dan pendirian Credit Union di kampung diserahkan kepada Munal dan Masiun, dua sarjana pertama dari kampung Tapang Sambas-Tapang Kemayau. Saat itu, Munal sudah bekerja sebagai Dosen di UNTAN dan Masiun belum bekerja di Pancur Kasih, tetapi masih di Lembaga Kursus Bahasa Inggris ‘Gajah Mada’. Keesokan harinya, tanggal 2 Oktober 1992, saya kembali ke Ketapang.”

 Maka berbekal rekomendasi pertemuan itulah, selanjutnya Munal dan Masiun mempersiapkan pengorganisasian pendirian Credit Union di kampung, yang kemudian dikenal dengan nama Credit Union Keling Kumang (CUKK), yang resmi berdiri pada tanggal 25 Maret 1993. Sejak 20 April 2011, CUKK sudah memiliki Badan Hukum provinsi dengan No. 50 b/BH/PAD/X.

Kantor pertama CUKK, bukanlah di lokasi kantor pusat Tapang Sambas saat ini, melainkan sedikit ke jalan ujung, jika dari arah Sekadau maka sekitar 0,5 km sebelah kanan jalan ke arah Sintang. Sudah tidak digunakan lagi kantor aslinya, sebab selain tanahnya tidak begitu luas, juga di sekitarnya lahan orang. Sedangkan lokasi kantor pusat saat ini lahannya luas, milik keluarga besar Nerang, bahkan masih terhampar puluhan hektar lagi lahan kosong yang akan menjadi hutan adat untuk konservasi.

Dalam sebuah laporan resmi terbaca bahwa Neraca Kopdit CU Keling Kumang per 31 Desember 2017 total asetnya adalah sebesar Rp1,3 T. Anggotanya: 160.000.

Ada sebuah ungkapan yang sangat mashyur, “Roma non aedificavit in a die.” Kota Roma dengan segala kemegahannya jangan dikira dibangun hanya dalam tempo semalam, seperti dalam kisahan Loro Jonggrang.

CU Keling Kumang menjadi seperti, dan sebesar hari ini, tentu bukan jatuh dari langit, melainkan berproses. Bulan Juli tahun 2017, dalam rangkaian memperingati Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) ke-70 di Makassar, Valentinus, CEO CUKK mengangkat tinggi-tinggi sebuah piagam bergengsi. Atas nama lembaga, ia menerima penghargaan Koperasi Berprestai dan Bhakti Koperasi, yang diterimakan oleh Menteri Koperasi dan UKM, AAGN Puspayoga.

Dalam kesempatan langka itu pula, KKG mendapatkan dua jenis penghargaan. Yaitu berupa plakat untuk CUKK sebagai Koperasi Berprestasi tahun 2017 kelompok Koperasi simpan pinjam. Lalu berbentuk piagam bernomor: 20/KEP/M.

KUKM/VI/2017 untuk ketua Pengurus KKG, Mikael atas Dharma Bhakti dalam memajukan kegiatan koperasi dan UKM.

 Kiranya prestasi dan pengakuan itu semua merupakan hasil kerja bersama, bahu membahu, antara pengurus, pengawas, dan anggota dalam satu kesatuan visi, spirit , dan gerak langkah yang sama: demi kejayaan Kerajaan Buah Main. Bukankah sinergi senantiasa didengung-dengungkan oleh para pemangku amanah serta para pendiri CUKK? Dari kata Yunani, “sun” dan “ergon” yang berarti: melangkah, atau berjalan, bersama-sama.

Hari ini, sebagai induk, seperti dalam filosofi pisang, CUKK sudah beranak pinak dan melahirkan berbagai unit usaha yang tergabung dalam Gerakan CU Keling Kumang (GCUKK) dengan 3 deputi. Masing-masing deputi fokus pada usaha atau entitas yang berdiri sendiri dalam gerakan yang sama.

Sanggau salah satu lahan subur bagi  Gerakan CU Keling Kumang. Sebagaimana terkait narasi sebelumnya, koperasi hanya bisa tumbuh di tengah masyarakat yang saling percaya. Suatu komunitas yang saling berbelarasa. Yang gotong royong. Guyub. 

Baca  Credit Union (CU) Tumbuh Subur Di Kalimantan, Mengapa? https://www.sanggaunews.com/2023/05/credit-union-cu-tumbuh-subur-di.html

Masyarakat Sanggau patut bersyukur sebagai wilayah pelayanan CUKK. CUKK bukan saja mitra dalam hal mengentaskan kemiskinan, melainkan juga part of solution (bagian dari pemecah masalah). Yang pertama dan utama dari semuanya adalah masyarakat cerdas mengelola keuangan. Kehadiran CUKK menumbuhkan dan mengokohkan financial literacy masyakat.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url