Bologna Book Fair 6 : Dua Gadis Italia Penjual Coca Cola


Hotel Jollly, Bologna yang ciamik telah kita masuki suasananya pada tulisan sebelumnya. 

Kali ini narasi kita arahkan ke dua wanita Italia penjual Coca Cola.

Terus terang. Terang terus. Jika hidup ini berisi buku-buku saja tanpa bumbu, akan terasa hampa dan hanya membosankan. Jika tidak sesekali diselipkan dengan bumbu-bumbu wanita di sekitar kita. 

Sejauh mata memandang, sekitar hotel Jolly dipenuhi nuansa gothik di mana-mana. Berjalan agak ke samping lalu ke belakang. Ada sebuah mini kafe. 

Di situ dua gadis Itali, cantik dan muda, menjual Coca Cola. Saya dan Bimo, entah mengapa, selalu bersemangat untuk memesan soft drink itu, padahal di Indonesia gak selera sama sekali.

2 gadis Italia penjual Coca Cola

Dua gadis Italia itu, agaknya, punya naluri. Sebagai wanita, sudah pasti, mereka tahu. Dua pria Indonesia ke kedai mereka, bukan semata-mata karena terdorong keinginan membeli Coca Cola. 


Penampakan dari jarak dekat dua gadis Italia penjual Coca Cola itu.

Hotel Jolly yang tidak hanya mempesona dengan lokasinya yang strategis, tetapi juga menyuguhkan berbagai kemudahan dan kenyamanan bagi para pengunjungnya. Menyusuri sekitar hotel, mata ini terhanyut dalam nuansa gothik yang merayap di setiap sudut.

Berjalan agak ke samping dan kemudian ke belakang, sebuah kejutan kecil menghampiri. Tersembunyi di balik pepohonan, muncullah sebuah mini kafe yang begitu mengundang. 

Di sana, dua gadis Italia yang cantik dan muda, mempesona dengan senyuman mereka, menjadi penjaga kecil dunia rasa. Mereka dengan lincah menjual Coca Cola, merajut suatu kisah di balik meja kafe kecil itu.

Saya dan Bimo, dua penjelajah asal Indonesia yang tidak mengerti mengapa, selalu merasakan semangat yang membara untuk memesan soft drink tersebut, padahal di tanah air, minuman bersoda itu tidak selalu menjadi pilihan favorit. Namun, di Hotel Jolly yang sarat gothik dan dikelilingi oleh pesona kota yang tak bisa dilupakan, rasa Coca Cola itu tampak memiliki kelezatan yang tak tergantikan.

Gaya Ariobomo menikmati Coca Cola.

Seolah membaca lebih dari sekadar pesanan minuman soda, mereka mengerti bahwa kedatangan dua lelaki, saya dan Bimo, ke kedai mereka tidak semata-mata untuk mendapatkan segelas Coca Cola yang menyegarkan. Mereka punya kepekaan akan nuansa tak terungkap di udara, dapat merasakan getaran yang mengalun di balik kata-kata sederhana.

Saat mata mereka bertemu, kilatan pengertian melewati sudut-sudut matanya. Naluri wanita yang cerdas, mereka tahu bahwa di balik senyum dan obrolan ringan, ada kisah yang mungkin ingin dibagikan atau mungkin juga hanya ingin meresapi momen di tempat yang asing.

Lupa buku sejenak

Dua gadis Italia itu. Dalam keterampilan mereka menjual Coca Cola, juga menjadi pencatat kisah tanpa kata. "Kini mereka pasti sudah tua juga," cetus Bimobeberapa hari lalu.

Dari Bimo-lah saya menerima ilustrasi utama narasi ini.

Ya, gadis Itali! Mereka mampu mengenali bahwa di antara keceriaan perbincangan ringan, ada lebih banyak lagi yang ingin diungkapkan oleh dua lelaki yang berada di sana. 

Naluri wanita, seperti sebuah mata air yang tak pernah kering. Mengalirkan ceritadi antara aroma kopi dan semilir angin kota Bologna, yang sibuk.

  • Rangkaya Bada

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url