Paran Sakiu: Gembala dari Mentonyek yang "Tersesat" Jadi Penulis

Paran Sakiu, S.Th., M.Pd.

SANGGAU NEWS : Buku keempat yg saya tulis segera naik cetak, mohon dukungan doanya spy menjadi penulis produktif. Berguru menulis tahun 2019 dari Bapak Masri Sareb Putra. Mencari dan membeli buku yg berkaitan dg kepenulisan dan kepengarangan. Ikut kursus menulis yang diadakan oleh Harian Kompas, ikut sertifikasi kepenulisan. Jika Bukan Tuhan mustahil terwujud. Terima kasih kepada Masri Sareb PutraMatius Mardani , Pepih NugrahaDodi Mawardi yg sudah memberi warna dan semangat.

Demikian yang terbaca pada beranda Fb-nya. Waktu almanak yang menunjukkan tanggal 25 Juli 2023. Penanda waktu mencaatat pukul 15.51 ketika status FB-nya diposting.

Paran. Sepatah saja namanya. Adapun "Sakiu" itu nama sang ayah.

Di balik gemerlap dunia modern dan perkotaan ibukota Jakarta. Ada seorang sosok ciamik bernama Paran Sakiu. 

Lahir di Mentonyek, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, pada 29 Maret 1971. Paran adalah putra dari pasangan Markus Sakiu (alm.) dan Ibu Kutat.

Perjalanan akademis Paran Sakiu dimulai di SD Inpres Mentonyek, di mana ia menyelesaikan pendidikan dasar pada tahun 1985. Tak berhenti di situ. Pada tahun 1988, ia menamatkan SMP Swasta Pate Jaya Rinjuang, Mentonyek. 

Ke Jakarta dari Menonyek, yang ketika itu belum ada di peta di Kalimantan Barat, sungguh menunjukkan nyali seorang Paran. Lalu mengadu nasib di Jakarta yang, kata orang, lebih kejam dari ibu-tiri.

Dedikasinya terhadap pendidikan terus berkembang, dan pada tahun 1991, ia berhasil menyelesaikan pendidikan menengahnya di SMAN I Karangan.

Semangatnya dalam menuntut ilmu tak terhenti di sekolah menengah. Paran Sakiu memutuskan untuk melanjutkan studi di STT Lintas Budaya Jakarta dan berhasil menyelesaikannya pada tahun 1999. 

Tidak puas dengan satu gelar, ia melanjutkan studi S-2 di Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Palangka Raya dan berhasil meraih gelar M.Pd. Oleh seniornya, Masri Sareb Putra, kerap gelar ini dikatakan membuatnya: Makin Percaya Diri.

Setelah menyelesaikan studi, ia memilih untuk memberikan kontribusi nyata dalam dunia pendidikan. Sejak tahun 2000 hingga saat ini, Paran Sakiu telah menjadi seorang Guru Agama Kristen di SMP Kristen Rahmani Taman Sari, Jakarta Barat. 

Lebih dari sekadar mengajar, ia juga turut terjun dalam pelayanan gerejawi sebagai gembala jemaat di GKRI Epifania Penjaringan, Jakarta Utara, sejak tahun 2000.

Baca Daud Yordan: Ciday Petinju Yang Lolos Maju DPD RI Dari Kalimantan Barat

Namun, keterlibatannya tidak hanya dalam dunia pendidikan dan gereja. Paran Sakiu juga aktif dalam berbagai organisasi. Ia terlibat dalam pengurus Forum Dayak Kalimantan Barat Jakarta (FDKJ) DKI Jakarta periode 2020–2025, Dewan Adat Dayak (DAD) DKI Jakarta periode 2021–2026, Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) periode 2021–2026, dan Ikatan Cendikiawan Dayak Nasional (ICDN) DKI Jakarta periode 2018–2023. 

  • Paran mesra bersama mantan pacar, penolong sepadannya yang setia.

Di bidang literasi, ia menjadi seorang penulis di Detikborneo.com dan YTPrayeh. Kiprahnya tak berhenti di situ, karena telah mencatatkan diri sebagai penulis buku dengan judul

  1. Menimba dari Sumur Yakub
  2. Hari Terakhir
  3. Usai Pesta Naik Dango 
  4. Panglima Jilah yang ditulis bersama Masri Sareb Putra, M.A., dan Matius Mardani, M.Pd., dan
  5. Forum Dayak Kalimantan Barat Jakarta (FDKJ) Rumah Kita.

Paran juga memiliki portal berita dan informasi sendiri, yakni: htp://www.pelitamentonyek.com

Di tengah kesibukan dalam berbagai kegiatan, keluarga adalah prioritas bagi Paran Sakiu. Ia menikah dengan Okseviorita dan dikaruniai tiga orang anak: Debora Tarigas Sakiu, Eliezer Fabregas Gagas Sakiu, dan Yeremia Cega Sakiu. Keluarga adalah sumber inspirasinya untuk terus berkarya dan berkontribusi bagi masyarakat.

Seorang pendidik, penulis, dan pemimpin berdedikasi, Paran Sakiu telah memberikan kontribusi yang tak ternilai bagi dunia pendidikan, gerejawi, serta masyarakat Dayak. 

Semangatnya untuk terus belajar dan memberi dampak positif bagi orang lain adalah cerminan dari sosok ciamik yang tak henti-hentinya menginspirasi banyak orang di sekitarnya. 

Dan bilamana Anda kerap melihat, atau menonton di media, setiap ada hajatan besar Dayak tingkat nasional ada sosok yang membawa doa dalam langgam dan bahasa Dayak Kanayatn, ini dia orangnya. 

Baca Cincin Bermata Biru Murry Yang Bikin Haru

Mantra-mantra yang ia bawa teruntai indah dengan lafas yang fasih. Menjadikan Paran seorang pendeta Dayak yang sungguh berakar pada adat dan budaya. Ia sendiri adalah teologi kontektual, yang hidup. (Rangkaya Bada)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url