Apai Janggut : Pendekar yang Menerapkan Ilmu Padi (Bagian 3 dari 10 Tulisan)

  • Apai Janggut di los rumah panjai Sungai Utik: tuai rumah bertato bunga terong.

"Kena sayat ilalang saja saya luka. Apalagi kena pedang," kata Bandi Anak Ragae. Hal itu saya tanyakan kepadanya, sekaitan dengan kabar yang beredar luas. Bahwa lelaki yang memilih hidup membujang hingga tua karena panggilan spiritual, adat, dan budaya Iban itu kebal.

Demikianlah biasanya pedekar. Jika kita membaca cersil Kho Ping Hoo, seperti Apai tabiat orang super. Menerapkan ilmu padi.

Orang mengenalnya sebagai “Apai Janggut”, tuai rumah (kepala kampung) Sungai Utik, Kecamatan Embaloh, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, adalah representasi Laja. 

Nama aslinya Bandi. Lengkapnya: Bandi Anak Ragae. Setidaknya, dari sisi nama, ia mewarisi tradisi kaum Iban yang selalu menyebut seseorang anak siapa? Dengan demikian, Ragai adalah nama ayahnya.

Di Kalbar umumnya, khususnya di Sintang dan Kapuas Hulu, hampir semua orang kenal Apai Janggut. Ia pemangku hutan adat di sana, sekaligus pelesteri seni budaya. 
Baca Apai Janggut: Pendekar Lingkungan Dari Sungai Utik (Bagian I Dari 10 Tulisan)


Di tengah-tengah makin tergerusnya seni budaya Dayak oleh modernisasi dan berbagai kepentingan ekonomi atas nama pembangunan, rumah panjang atau dalam bahasa Ibaniknya “rumah panjai”, bangunan tradisional 
khas Dayak yang mencerminkan kehidupan komunal dan gotong royong, pun semakin langka.

Apai bisa berjalan kaki dari Sungai Utik ke Putussibau dalam tempo dua jam, sementara mobil menempuhnya sejam. Pak Igoh yang menyaksikannya sampai takjub. Dan mengisahkannya pada Munaldus se-gai suatu keheranan.

Kini, rumah panjang di Kalimantan dapat dihitung jumlahnya dengan jari. Salah satunya, rumah panjang Sungai Utik. Letaknya di pinggir sungai Embaloh.

Seperti zaman baheula, rumah bulai, rumah rakyat, yang memang dibangun di tepi sungai untuk memudahkan berbagai kepentingan. Selain sebagai transportasi, sungai pada waktu itu multifung

si. Antara lain, untuk mandi, cuci, sekaligus kakus. Namun, dirancang sedemikian rupa, agar masing- masing fungsi berjalan alami.

Pada usia lebih dari 80 tahun tahun, Bandi masihlah gagah perkasa. Citra ganteng dan perkasa seperti abadi tergores di wajah dan sekujur badannya. 


Apai bertato. Tatonya bunga terong yang tertera di bahu depan bagian atas. Orang Ibanik semua mafhum dari letak dan bentuk tato, seseorang berasal dari kelas sosial apa? 
Baca Apai Janggut: Pendekar Lingkungan Dari Sungai Utik (Bagian 2 Dari 10 Tulisan)


Bunga terong juga menunjukkan sejauh mana perjalanan sudah ditempuh. Keturunan Keling Kumang generasi 7 ini pun lancar berkisah ihwal sejarah masa lalu. Yakni sebuah imperium kaum Ibanik yang diperintah oleh Keling Kumang yang dikenal dengan Kerajaan “Buah Main”. 

  • Penampakan interior dan eksterior rumah panjai Sungai Utik.

Lelaki Iban ini bisa berjalan kaki dari Sungai Utik ke Putussibau dalam tempo dua jam, sementara mobil menempuhnya sejam. Pak Igoh yang menyaksikannya sampai takjub, dan mengisahkannya pada Munaldus sebagai sebuah keheranan.

Ditengarai bahwa kerajaan Buah Main terbentang dari Semitau Tua, Ketungau, Mungguk Bejuah, Hutan Berangan, hingga ke Batang Lupar, kemudian Sri Aman.

 

Dalam talkshow di RRI Pro1 Sintang bersama Yohanes RJ dan Masri Sareb pada 5 Juni 2015, Bandi membeberkan bahwa kaum Ibanik di bawah Keling Kumang hidup rukun dan makmur. Hal itu, tak lain, karena suri teladan yang diberikan pemimpinnya. 


Selain itu, prinsip “Betungkat ke adat basa, bepegai ke pengatur pekara” yang berarti: menjunjung tinggi hukum adat, berpegang pada pengatur perkara (tetua adat), dipegang teguh dan dilaksanakan secara saksama.


“Semangat Keling Kumang harus dipelihara
dan dijunjung tinggi. Salah satunya, menjunjung hukum adat dan taat pada tetua,” tegas Bandi. (Bersambung)

 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url