Sawit di Sanggau: Di mana Lahan Luas Kawasan Hutan Lindung


1/5 dari total luas suatu wilayah ditanami sawit, lingkungan masih bisa terjaga asri. Ini rumusan yang telah menjadi aksioma!

Mengingat Kapupaten Sanggau yang luasnya 12.857,70 km² , maka secara teori kabupaten di tapal batas dengan luar negeri (Sarawak, Malaysia) ini dapat tetap lestari.

Pada ketika ini, yang menjadi lahan perkebunan sawit adalah Kecamatan Parindu, Mukok, Kembayan, dan sebagian Tayan. Kecamatan Jangkang, perusahaan sawit: no entry sebab merupakan hutan lindung.

Lahan Sawit di Sanggau adalah sebidang tanah yang luas yang telah ditanami dengan kelapa sawit. Pohon-pohon sawit menjulang tinggi membentuk pemandangan yang hampir tak berujung, membentang sejauh mata memandang. 

Daerah ini telah menjadi salah satu pusat produksi kelapa sawit yang penting di Indonesia, memberikan sumbangan besar bagi ekonomi wilayah dan negara.

Cerita dimulai dengan keindahan alam Kalimantan Barat yang eksotis. Lahan-lahan ini terletak di daerah yang kaya akan keanekaragaman hayati dan lanskap yang memukau. Rawa-rawa yang luas, sungai yang meandering, dan hutan yang hijau memancarkan kehidupan yang mengagumkan. Namun, keberadaan perkebunan kelapa sawit telah mengubah sebagian dari panorama ini.

Sawit, emas hijau yang dikenal luas, kini menjadi primadona sekaligus produk multidimensional yang memberi banyak manfaat. 

Kehadiran perkebunan kelapa sawit di Sanggau membawa dampak sosial yang signifikan pada masyarakat setempat. Di satu sisi, perkebunan memberikan kesempatan kerja bagi penduduk setempat, mengurangi tingkat pengangguran, dan meningkatkan taraf hidup bagi banyak orang. Namun, di sisi lain, harus diakui bahwa ada juga isu-isu sosial yang muncul seiring dengan pertumbuhan industri ini.

Alih fungsi lahan dari hutan dan lahan pertanian tradisional menjadi perkebunan kelapa sawit mengakibatkan deforestasi dan hilangnya habitat alami untuk berbagai flora dan fauna. 

Ekosistem yang sebelumnya lestari, terancam oleh penebangan besar-besaran untuk memberi ruang bagi perkebunan sawit. Ini berdampak pada kelangsungan hidup spesies-spesies langka dan bahkan mempengaruhi ekosistem air dan iklim setempat.

Selain itu, ada isu-isu mengenai tenaga kerja dan hak-hak buruh di perkebunan kelapa sawit. Beberapa laporan telah mencatat adanya pelanggaran hak asasi manusia dan upah yang rendah, yang mempengaruhi kualitas hidup pekerja. Hal ini menuntut perhatian terhadap perlindungan hak-hak pekerja dan perlakuan yang adil di sektor ini.

Sawit, atau sering disebut juga dengan “kelapa sawit adalah komoditas multiguna dan multiperan yang sangat akrab di telinga kita dan merupakan produk yang dibutuhkan Indonesia, dunia, dan ramah lingkungan. 


Produk utama sawit adalah crude palm oil (CPOatau dalam bahasa Indonesia disebut minyak mentah sawit. Sesungguhnya, produk turunan dari komoditas ini sangat beragam. 


Begitu banyak macam produk turunan sawit yang kita pergunakan dalam kehidupan sehari-hari dari mulai bangun tidur di pagi hari sampai tidur kembali di malam hari. Dari mulai sabun mandi, pasta gigi, kosmetika, minyak goreng, ice cream, dan cream pelembab, bahkan sampai ke biodiesel untuk mobil, bisa diproduksi dari tandan buah segar (TBS) tanaman sawit.

Kendati demikian, perkebunan kelapa sawit juga memainkan peran penting dalam sektor ekonomi Indonesia. Komoditas ini adalah salah satu komoditas ekspor utama negara, memberikan pendapatan yang signifikan bagi pemerintah dan kontribusi besar bagi perekonomian nasional.

Untuk mengatasi kompleksitas isu yang terlibat, langkah-langkah berkelanjutan harus diambil. Penting untuk mengakui pentingnya pelestarian lingkungan dan konservasi alam di samping pertumbuhan ekonomi. Pendekatan yang berkelanjutan harus dipraktikkan dalam cara produksi, memastikan bahwa ekspansi perkebunan tidak lagi mengorbankan hutan-hutan berharga.

Selain itu, perlindungan hak-hak buruh dan penerapan standar kerja yang adil harus ditegakkan untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan produktif bagi pekerja di sektor ini.

Bagi kalangan awam, sawit, ya sawit saja. Mereka tidak peduli, atau membedakan, bahwa sebenarnya terdapat berbagai spesies sawit. Setiaknya, ada dua spesies sawit.

Elaeis guineensis lebih banyak dibudidayakan di Indonesia karena kandungan minyaknya yang tinggi. Sedangkan Elaeis oleifera memiliki kelebihan karena tanaman tidak terlalu tinggi sehingga memudahkan pemanenan buahnya. Sekarang ini kedua spesies itu banyak dikawin silangkan untuk mendapatkan keunggulan yang dikehendaki.

Sawit, atau sering disebut juga dengan “kelapa sawit adalah komoditas multiguna dan multiperan yang sangat akrab di telinga kita dan merupakan produk yang dibutuhkan Indonesia, dunia, dan ramah lingkungan. 


Sawit merupakan produk tanaman yang berumur panjang. Ia tumbuh di tanah di daerah remote atau marginal, dan menyerap CO-2 sepanjang hidupnya yang mampu berproduksi sampai 35 tahun.


Itu pemandangan yang bisa kita saksikan sepanjang jalan Tanjung - Kebayan, yakni peremajaan kembali tanaman sawit yang telah ditanam sejak tahun 1980-an. *)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url