Belajar dari Sukses dan Gagalnya VOC : Sekolah Konglomerasi Koperasi dan Kepemimpinan (3)

17 haaren (tuan takur) pendiri Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Ist.

Preambul:
Kolaborasi, bukan kompetisi, adalah keniscayaan pada era saat ini di dalam membangun sebuah bisnis atau korporasi. Gerakan CU Keling Kumang (GCUKK) memikirkan, dan mulai mewujudkan bagaimana jaringan sangat menentukan kemajuan dan keberlanjutan sebuah kompeni. 

Untuk memperdalam wawasan sejarah, sekaligus menajamkan konsep "sosiopreneur" ala GCUKK, Masri Sareb Putra melakukan riset sejarah tentang berdiri, kembang, dan jatuh bangunnya Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Siapa yang mendirikannya? Berapa banyak kapal yang dimiliki? Berapa juta orang Eropa diangkut oleh kapal VOC? Dan apa yang menyebabkan VOC bubar?

Ikuti serial panjang tulisan ini!

***

Munaldus, M.A., seorang teman dekat dan lawan dalam diskusi saya, dengan tegas mengajukan gagasan mendirikan Sekolah Konglomerasi Koperasi dan Kepemimpinan (S-3K). 

Baca Munaldus: Sekolah Konglomerasi Koperasi Dan Kepemimpinan

Gagasan mendirikan S-3K ini muncul setelah berdirinya Institut Teknologi Keling Kumang (ITKK), Sekadau,  sebuah lembaga pendidikan tinggi yang diusulkan oleh anggota Credit Union Keling Kumang, dengan tujuan mewujudkan impian memiliki setidaknya satu sarjana di setiap keluarga. 

Wacana yang dilempar oleh CU Keling Kumang biasanya tidak hanya berada dalam ranah abstrak. Tetapi secara nyata merambah ke arah pembentukan institusi pendidikan yang unik dan bermakna.

Kompeni zaman now: Konglomerasi Koperasi berbasis sosiopreneur 

Proses pendirian ITKK menjadi tonggak penting, menandakan langkah awal menuju visi "1 keluarga satu sarjana". 

Dalam suasana di mana gagasan-gagasan sering kali hanya sebatas perbincangan tanpa tindakan konkret, Munaldus menghadirkan nuansa perubahan yang lebih nyata dan berwujud. Gagasan ini tidak hanya sekadar wacana yang mengambang di awang-awang, tetapi memiliki potensi nyata untuk menjadi kenyataan, meskipun mungkin dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Baca Belajar Dari Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) : Modal Nekad (2)

Sejalan dengan semangat koperasi dan kepemimpinan, S-3K diusulkan sebagai sebuah lembaga pendidikan yang akan menjadi landasan bagi terbentuknya sarjana-sarjana baru dalam keluarga-keluarga anggota Credit Union Keling Kumang. 

Keberadaan S-3K diharapkan tidak hanya menjadi tempat untuk mengejar pengetahuan akademis, tetapi juga sebagai pusat pembelajaran kepemimpinan dan koperasi. Gagasan ini mencerminkan tekad untuk mengembangkan potensi anggota Credit Union Keling Kumang dalam bidang pendidikan dan kepemimpinan.

Dengan mengambil langkah nyata dalam mewujudkan S-3K, Munaldus dan para pemangku kepentingan terlibat dalam sebuah perjalanan yang memiliki dampak besar pada masyarakat. Visi 1 keluarga satu sarjana tidak lagi hanya menjadi impian, melainkan sebuah cita-cita yang dapat dikejar dan dicapai melalui pendirian institusi pendidikan yang berfokus pada koperasi dan kepemimpinan. 

Gagasan 1 keluarga satu sarjana ini, yang semula hanyalah sebatas pembicaraan, dengan langkah-langkah konkret, berpotensi menjadi sebuah perubahan positif dan memberikan manfaat jangka panjang bagi komunitas Credit Union Keling Kumang serta masyarakat secara luas.

Baca Belajar Dari Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) : Modal Nekad (2)

Tekad Gerakan CU Keling Kumang untuk bertransformasi menjadi lembaga korporasi dengan model sosiopreneurship adalah langkah maju yang ambisius dan penuh makna. Konsep sosiopreneurship menghadirkan perkawinan unik antara aspek perusahaan dan kegiatan sosio-karitatif, menciptakan harmoni antara tujuan bisnis dan dampak positif bagi masyarakat. 

Program Studi Entrepreneurship

Dalam upaya membangun moral dan mendukung visi 1 keluarga satu sarjana, modal menjadi unsur kunci, dan inilah yang menjadi landasan bagi Program Studi Entrepreneurship di ITKK.

Program Studi Entrepreneurship di ITKK tidak hanya bertujuan untuk mengasah keterampilan bisnis, tetapi juga untuk menggali kemampuan dan naluri kewirausahaan yang mendasari semangat sosiopreneurship. 

Baca CU Keling Kumang : Kisah Sukses Anggota

Dalam konteks ini, semangat Kompeni Hindia Belanda mungkin dapat dijadikan patokan, namun perlu dilakukan koreksi penting. 

Berbeda dengan Cina dan kelompok yang membawa budaya mereka ke Nusantara, Belanda dan Jepang datang dengan cara yang berbeda, yakni melalui penjajahan paksa. Hal ini memunculkan dinamika sosial dan budaya yang tidak berkelanjutan, karena keberlanjutan tidak dapat dibangun atas dasar penjajahan dan penindasan.

Dengan mengkritisi dan mengoreksi model sejarah yang dibawa oleh Belanda dan Jepang, Gerakan CU Keling Kumang meneguhkan nilai-nilai lokal dan budaya asli Nusantara. Dalam menciptakan lembaga korporasi dengan semangat sosiopreneurship, keberlanjutan harus ditempuh dengan menghormati dan memperkaya budaya lokal, bukan dengan cara-cara yang merugikan dan merendahkan. 

Dengan demikian, model bisnis dan pendekatan sosial ekonomi yang diusung oleh Gerakan CU Keling Kumang diharapkan dapat menjadi inspirasi dan contoh positif bagi perkembangan masyarakat dan ekonomi lokal.

Belajar dari Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC)

Terlepas dari apakah kita menyukainya atau tidak, memahami fakta sejarah tentang kejayaan, kejatuhan, dan kebangkitan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) merupakan sebuah kewajiban. Melibatkan diri dalam pemahaman mendalam mengenai perjalanan kompeni tersebut dapat memberikan wawasan berharga tentang dinamika sejarah ekonomi, politik, dan sosial pada masa itu.

VOC, sebagai perusahaan dagang Belanda pada abad ke-17 dan ke-18, meraih kejayaan yang signifikan dalam perdagangan rempah-rempah dan komoditas Asia. Keberhasilan ini tidak hanya bersumber dari keahlian bisnis mereka tetapi juga dari faktor-faktor tertentu, seperti kebijakan pemerintah Belanda, teknologi pelayaran yang unggul, dan dominasi wilayah perdagangan.

Menjelang akhir abad ke-18, VOC mengalami kejatuhan yang dramatis. Faktor eksternal dan internal seperti persaingan dengan perusahaan perdagangan lain, perubahan dalam tata kelola perusahaan, dan krisis keuangan menyebabkan kebangkrutan VOC. Kehancuran tersebut mencerminkan kompleksitas tantangan yang dihadapi oleh entitas bisnis yang berskala besar pada masa itu.

Penting untuk membuka dan memahami akar penyebab keberhasilan VOC sekaligus penyebab kemundurannya. Kajian ini melibatkan eksplorasi mendalam terhadap aspek-aspek seperti kebijakan ekonomi, hubungan internasional, inovasi teknologi, dan faktor-faktor sosial yang mendukung atau merugikan VOC. 

Dalam proses belajar ini, kita dapat menarik pelajaran berharga untuk diterapkan pada konteks bisnis dan sejarah masa kini.

Menggali fakta sejarah tentang VOC juga dapat membantu kita memahami peran eksploitasi kolonial pada masa itu dan dampak jangka panjangnya terhadap masyarakat dan wilayah yang terlibat. Dengan menghadapi kenyataan sejarah ini, kita dapat lebih cermat dalam membahas dan merespons tantangan-tantangan serupa yang mungkin muncul dalam konteks globalisasi dan perdagangan saat ini.

Sedemikian rupa, sehingga tanpa memandang preferensi pribadi, penjelajahan dan pembelajaran mendalam mengenai VOC dapat memberikan wawasan berharga yang tidak hanya terbatas pada sejarah bisnis Belanda tetapi juga pada pemahaman lebih luas tentang evolusi ekonomi global dan dinamika kekuasaan pada masa lampau.

Total angka untuk dua abad operasi Perusahaan, untuk omset perdagangan, pengiriman, dan personel, sangat mengesankan. Meskipun pengembalian semakin berkurang, bisnis ini beroperasi dalam skala yang jauh lebih besar pada abad kedelapan belas daripada pada abad ketujuh belas. 

Kapal dan kekayaan VOC

Sebagai contoh, secara total, VOC melengkapi sekitar 4.700 kapal, hampir 1.700 pada abad ketujuh belas dan sekitar 3.000 pada abad kedelapan belas. Antara tahun 1602 dan 1700, sebanyak 317.000 orang berlayar dari Eropa dengan kapal-kapal ini. Sementara antara tahun 1700 dan 1795 jumlah ini mencapai 655.000 orang. Angka perdagangan mengkonfirmasi adanya pertumbuhan bisnis setelah tahun 1700. Luar biasa!

Pengeluaran untuk peralatan, yaitu pembangunan kapal dan persiapan, serta uang dan barang yang dikirim ke Asia, mencapai jumlah 370 juta gulden antara tahun 1640 dan 1700, dan 1.608 juta gulden pada tahun 1700-1795. 

Selama periode ini, harga pembelian barang kembali yang dikirim pulang dari Asia mencapai 205 dan 667 juta gulden masing-masing. Harga penjualan barang kembali ini adalah 577 juta gulden pada periode pertama dan 1.633 juta gulden pada periode kedua.

(bersambung)


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url