Liu Ban Fo Itu: Munaldus

Munaldus alias nama penanya: Liu Ban Fo.


SANGGAU NEWS : Liu Ban Fo, yang juga dikenal dengan nama Munaldus, seorang penulis dan sastrawan yang karya-karyanya sangat khas. 

Lelaki ugahari, yang dikenal mahal di dalam menyunging senyuman ini, lahir pada 1963 di Tapang Sambas, Kabupaten Sekadau.

Awalnya, dikenal sebagai penulis nonfiksi, ia kemudian memfokuskan diri dengan tekun pada genre novel-sejarah. Yang membedakan dirinya dari yang lain adalah kemampuannya dalam menggambarkan dengan kuat latar tempat dan waktu peristiwa dalam karyanya.

Karakteristik utama dari karya sastra Liu Ban Fo alias Munaldus adalah kemampuannya dalam menghadirkan latar belakang yang sangat hidup. Sedemikian rupa, sehingga pembaca merasakan dan meresapi suasana tempat dan waktu yang digambarkan. 

Apa yang dikembangkan Munaldus boleh disebut suatu inovasi. Cirinya, antara lain memberi nilai tmbah pada sesuatu yang telah ada. Ini merupakan ciri khas dari sastra lokal, namun melalui kekuatan unsur-unsur sastra yang ada dalam karyanya, ia berhasil menjadikannya sebagai sastra universal.

Baca Gajah Di Pelupuk Mata Mahkamah Konstitusi

Selain itu, Liu Ban Fo juga memiliki keahlian dalam mengemas pengalaman dan pengamatan pribadi menjadi karya sastra yang memikat. 

Ia mampu meramu pengalaman-pengalaman tersebut dengan sangat cermat. Sedemikian rupa, sehingga menciptakan karya sastra yang tidak hanya menghibur pembaca, tetapi juga mampu merekonstruksi masyarakat zamannya. 

Inilah yang sering disebut sebagai "sastra kontekstual". Yaitu sastra yang tidak hanya menggambarkan realitas sosial dan budaya saat itu, tetapi juga mampu meresapi dan merepresentasikannya secara mendalam.

Dengan bakatnya yang unik dalam menggabungkan elemen-elemen sastra, pengamatan pribadi, dan pengetahuan sejarah, Liu Ban Fo alias Munaldus telah menciptakan karya-karya sastra yang menjadi warisan budaya dan literatur yang berharga, serta memberikan kontribusi penting dalam pemahaman kita tentang sejarah dan kehidupan manusia.

Pembelajar yang ulet
Meraih gelar M.A. di Amerika Serikat dalam bidang pendidikan Matematika, Munaldus menunjukkan hasratnya untuk belajar dan mengejar pengetahuan di luar-nya. Pengalaman di luar akademik intinya telah memperkayanya dalam berbagai aspek kehidupan.

Baca Harvey Mackay: Buku Mengubah Hidup

Di Amerika, Munaldus menghabiskan banyak waktunya di perpustakaan. Di sana, ia menemukan sebuah kultur pembelajaran yang berbeda, di mana akses ke pengetahuan tidak selalu mudah. 

Ia pernah berbagi cerita mengenai pengalamannya dengan kata-kata yang penuh makna, "Di Amerika, saya selalu ngendon di perpustakaan. Ada buku yang hanya boleh dibaca di tempat. Kalau ingin fotokopi, terdapat pembatasan."

Pernyataan ini mencerminkan dedikasinya terhadap pencarian pengetahuan, bahkan jika itu berarti harus menghadapi keterbatasan dalam mengakses sumber daya akademik. 

Ia menggambarkan betapa pentingnya buku-buku tersebut, sehingga ia rela menghabiskan waktu di perpustakaan untuk meresapi dan memahami isi dari buku-buku tersebut, meskipun ada batasan dalam hal penyalinan. 

Pengalamannya ini menunjukkan semangatnya yang tak kenal lelah dalam menjelajahi ilmu pengetahuan, serta kemauannya untuk terus belajar di luar bidang intinya. 

Selain itu, pernyataan ini juga dapat diartikan sebagai penghormatan kepada tempat-tempat yang menyimpan harta intelektual, yakni perpustakaan, dan mengingatkan kita akan pentingnya akses terbuka terhadap pengetahuan dalam pembelajaran dan pertumbuhan pribadi.

General statement
Saya memiliki kesempatan untuk beberapa kali berdiskusi dan berbagi meja dengan Munaldus dalam konteks narasumber penulisan kreatif. Dalam pengalaman-pengalaman tersebut, saya belajar menghargai pendekatan ketatnya terhadap nalar dan elemen-elemen inti dalam penulisan kreatif.

Salah satu hal yang sangat diperhatikan oleh Munaldus adalah apa yang ia sebut sebagai "general statement." 

Baginya, general statement adalah fondasi utama dari sebuah narasi, yang akan menjadi pijakan untuk seluruh cerita yang akan dikembangkan. Ia sangat cermat dan tegas dalam memastikan bahwa general statement tersebut benar-benar tepat dan akurat.

Baca Clara Ng, Inspirasi Hobi (Menulis) Bisa Jadi Profesi

General statement yang salah atau tidak tepat dapat membawa dampak yang signifikan pada keseluruhan cerita. Munaldus percaya bahwa jika general statement sudah salah, maka seluruh konstruksi cerita berikutnya akan berantakan. 

Dalam pelatihan kepemimpinan di kalangan Puskhat, ada dua hari sesi menulis dan membuat general statement. Munal dan saya narasumber tetapnya. Dan.... pasti. Peserta pada "takut" melihat wajah Pak Munal waktu sesi itu. Bagai anak bersalah yang takut menatap wajah orangtuanya.

Oleh karena itu, ia selalu memastikan bahwa general statement tersebut benar dan kuat sebelum melanjutkan ke tahap berikutnya dalam penulisan.

Pendekatan Munaldus ini mengajarkan pentingnya dasar yang kuat dalam penulisan kreatif. Ia memahami bahwa sebuah cerita yang baik dimulai dari dasar yang kokoh, dan general statement yang benar adalah kunci untuk membuka pintu menuju pengembangan cerita yang mendalam dan meyakinkan. 

Dalam hal ini, ia tidak mengenal kompromi. Karena ia tahu betapa pentingnya elemen ini dalam menciptakan karya sastra yang berkualitas.

Dalam sebuah kelompok penulisan kreatif yang melibatkan 30 peserta, ternyata tidak ada yang mampu membuat general statement yang sempurna. Namun, kehadiran Munaldus sebagai narasumber menjadi penyelamat dalam situasi ini. Ia dengan sabar dan penuh dedikasi memperbaiki cara peserta dalam membuat general statement, tanpa pandang bulu.

Pengalaman ini bisa jadi mengecewakan bagi peserta, terutama mereka yang memiliki pendidikan tinggi seperti S-2. Namun, sikap Munaldus yang tegas dalam menyempurnakan general statement merupakan cermin dari komitmennya terhadap kualitas dalam penulisan kreatif. Ia tak segan untuk "mengoyak-oyak" pekerjaan mereka yang tidak memenuhi standar yang ia yakini.

Meskipun sikap ini mungkin terdengar keras, itulah yang menjadi ciri khas Munaldus, atau "Pak Munal," sebagaimana yang dikenal oleh banyak orang. Aktivis Gerakan CU Keling Kumang menghargainya sebagai pribadi yang penuh integritas, seorang intelektual, dan seorang pegiat literasi. 

Munaldus memiliki standar yang tinggi dalam karya-karyanya, dan ia berusaha untuk mentransmisikan nilai-nilai ini kepada peserta agar mereka dapat menghasilkan karya yang lebih baik. Meskipun terbesit ada rasa kasihan pada awalnya, akhirnya para peserta dapat menghargai upaya Munaldus dalam membantu mereka berkembang sebagai penulis yang lebih baik.

Saya yang punya habitus menulis, dan belajar logika formal selama 4 semester, merasa di-refresh oleh paparan Munal terkait general statement. Karena ada dasar, saya memahami general statement sebagai sebuah "premis mayor" dalam logika, atau pernyataan pokok. Jika runtuh pernyataan pokok, maka seluruh bangun narasi pun berantakan. Ibarat seorang tukang yang membangun rumah di atas pondasi pasir. 

Inilah kemudian yang saya pahami sebagai "meta-teori" dalam bangun logika klasik, di mana pernyataan umum seperti "Semua makhluk hidup perlu makan" (general statement) disebut sebagai premis mayor yang kemudian diturunkan menjadi premis minor (term antara) untuk menghasilkan konklusi. 

Adapun bangun atau strutur kalimatnya, harus aktif dan berupa kalimat pernyataan karena hanya kalimat pernyataan (statement) yang dapat dinilai benar/salah.

Demikian Munaldus sangat concern pada general statement. Tidak ada kompromi. Baginya, seorang penulis salah di dalam membangun general statement merupakan "dosa besar" yang tidak terampuni. Maka dia wajib bertobat. Dan kembali ke jalan yang benar!

Dalam pelatihan kepemimpinan di kalangan Puskhat, ada dua hari sesi menulis dan membuat general statement. Munal dan saya narasumber tetapnya.

Dan.... pasti. Peserta pada "takut" melihat wajah Pak Munal waktu sesi itu. Bagai anak bersalah yang takut menatap wajah orangtuanya.

Kisah hidupnya sendiri
Karya-karya tulis Liu Ban Fo memiliki daya tarik dan keunikan tersendiri, terutama karena, meskipun kebanyakan disajikan dalam bentuk fiksi naratif, mereka memiliki akar yang dalam dalam pengalaman pribadinya. Sang istri, yang mengenalnya lebih baik daripada siapa pun, melihat karya-karya suaminya sebagai refleksi dari dirinya sendiri.

Misalnya, karya Mimpi Dunia Lain merupakan salah satu contoh yang menonjol. Dalam kisah ini, Liu Ban Fo menggambarkan sebuah dunia alternatif di mana ia bermimpi bertemu dengan Gerakan CU Keling Kumang dan entitas-entitas yang menjadi bagian integral dari gerakan tersebut di masa depan. Ini bukan hanya cerita biasa, tetapi juga sebuah visi yang sangat pribadi dari masa depan, yang sangat dipengaruhi oleh imajinasi dan nilai-nilai yang dipegang oleh sang penulis.

Pentingnya karya semacam ini adalah bahwa mimpi-mimpi tersebut dalam cerita seolah menjadi nyata. Dalam kehidupan Liu Ban Fo, banyak elemen yang ia gambarkan dalam Mimpi Dunia Lain ternyata menjadi kenyataan. Ini adalah contoh nyata dari bagaimana imajinasi dan kreativitas dalam penulisan kreatif dapat menjadi kekuatan yang mendorong perubahan dalam kehidupan nyata.

Bagi Liu Ban Fo, karya-karya fiksinya bukan sekadar cerita fiksi, tetapi juga catatan imajinatif yang meresap dalam pengalamannya dan visinya tentang dunia. Mereka mencerminkan gagasan, harapan, dan impian pribadinya, yang terkadang dapat menjadi kenyataan. 

Mimpi Dunia Lain adalah contoh nyata bagaimana karya sastra dapat menjadi jendela ke dalam jiwa penulis dan juga bagaimana karya tersebut dapat mempengaruhi dan membentuk perjalanan hidupnya.

Sastrawan Dayak
Liu Ban Fo adalah seorang sastrawan yang memiliki pengaruh signifikan dalam literatur Dayak. Kehadirannya dalam dunia sastra telah mencatatkan namanya di Wikipedia sebagai salah satu sastrawan Dayak yang penting. Ia telah memberikan kontribusi berharga dalam mempromosikan dan melestarikan warisan sastra dan budaya masyarakat Dayak.

Sebagai seorang sastrawan Dayak, Liu Ban Fo tidak hanya menciptakan karya-karya sastra yang menarik, tetapi juga memperkaya literatur Dayak dengan cerita-cerita yang menggambarkan budaya, tradisi, dan nilai-nilai yang mendalam. 

Karyanya menarasikan kisah-kisah yang terinspirasi dari kehidupan sehari-hari masyarakat Dayak, serta menyajikan perspektif yang unik tentang perjalanan sejarah dan perkembangan budaya mereka.

Atas kiprah, peran, dan karyanya; Liu Ban Fo tersenarai dalam 45 sastrawan Dayak di Wikipedia.

Baca Sastrawan Dayak

Dengan pencapaian ini, Liu Ban Fo telah menjadi bagian tak terpisahkan dari warisan sastra Dayak, dan nama-namanya tercatat di Wikipedia adalah pengakuan atas dedikasinya terhadap sastra dan budaya Dayak yang berharga. Ia terus menginspirasi generasi baru sastrawan dan memastikan bahwa warisan sastra Dayak terus hidup dan berkembang dalam era modern.

Jika sidang pembaca ingin tahu lebih lanjut tentang Munaldus, kunjungi ini:

Baca Munaldus Nerang

Keterlibatannya dalam dunia sastra Dayak juga merupakan sebuah langkah penting dalam memperkenalkan dan melestarikan bahasa dan budaya Dayak. 

Karya
Karya tulis Liu Ban Fo dalam bentuk buku ber-ISBN, antara lain:

  1. CU: Kendaraan Menuju Kemakmuran (2012)
  2. Hidup Berkelimpahan Bersama Credit Union (2013)
  3. Kiat Mengelola Credit Union (2014)
  4. Exciting Journey (2015)
  5. Optimze People (2015)
  6. Revolusi Mental (2015, bersama 19 pengarang lain)
  7. Beware The Beast Within (2016)
  8. Simphoni Di Tanah Dayak (2016)
  9. Koperasi: How To Grow and Sustain (2017)
  10. Kidung Di Tampun Juah (2017)
  11. Mimpi Dunia Lain (2018)
  12. Yo Te Amo (2018)
  13. Metodologi Kredit Usaha Produktif (2019)
  14. Ilmu Credit Union (2020)

Melalui tulisannya, Liu Ban Fo telah memainkan peran penting dalam melestarikan tradisi lisan dan nilai-nilai budaya, serta mempromosikan pemahaman yang lebih dalam tentang kehidupan masyarakat Dayak.

(Masri Sareb Putra)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url