Ketika Karet Bertumbangan di Kalimantan Barat diganti Sawit, Kopi, dan Kakao

Kade' na' motokn gatah, nak ngacooos diri' --kata orang Nyarumkop.

Karet. Yang nama Latinnya hevea brasiliensis ini terancam hanya akan tinggal kenangan.


Tanaman yang selama ini diusahakan getahnya menjadi uang itu kini bukan lagi komoditas primadona. Sudah jatuh harganya selama 10 tahun terakhir, tertimpa tangga pula oleh keberadaan sawit. 

Pada zaman baheula, hingga berakhir pemerintahan SBY, karet adalah komoditas andalan orang Dayak. Harga perkilo, setara harga beras dan gula. "Cucuk!' meminjam istilah orang Jawa. 
Baca Karet Dan Pilunya Lagu Pilo "Krisis Global" : Selamat Tinggal Karet Rakyat

Setelah harga karet main ngaret, tidak naik-naik selama 10 tahun terakhir, kini banyak karet rakyat (lan baw), ditebang di Kalimantan Barat. Sedangkan karet unggul, tak peduli, juga direbahkan semuanya, jatuh ke tanah jadi umpan api. 

Lahan karet kini berganti penghuni. Menjadi kebun sawit, lada, kopi, dan palawija. Dayak mulai beralih ke komoditas yang sangkil dan mangkus cara kerja hasilnya. Bukti bahwa 

Dayak smart people!

Karet adalah komoditas yang mendominasi kehidupan orang Dayak di Kalimantan sesuai dengan riwayat sejarahnya. Harga karet, pada masa itu, setara dengan harga beras dan gula, dan menjadi tulang punggung ekonomi mereka. 

Dalam semangat tinggi, penduduk lokal menggantungkan hidup mereka pada penghasilan dari karet, sering menggunakan kata "Cucuk!" yang dipinjam dari bahasa Jawa sebagai semangat dalam menjalani setiap harinya.

Namun, sepuluh tahun terakhir telah menyaksikan perubahan dramatis dalam industri karet. Harganya jatuh terus menerus, dan kehadiran sawit di pasar komoditas telah mengambil alih peran utama yang pernah dimainkan oleh karet. Fluktuasi harga yang tidak pasti telah membuat karet tidak lagi dapat diandalkan sebagai sumber mata pencaharian yang stabil.
Baca Karet: Tanaman Berjasa Yang Terancam Ditebang Di Sanggau Dan Sekitarnya

Lagu "Krisis Global" oleh Pilo menggambarkan dengan tepat kondisi ini. Dalam liriknya, Pilo mencatat bagaimana harga karet naik dan turun secara tidak terduga, menghadirkan ketidakpastian bagi para petani karet. Lirik lagu ini mengundang pemikiran mendalam:

motokng gotah mae tontu roga
korija koyuh odu' langetn onya
nyen nasib midop bi ompu' bonua..................

Lagu ini mencerminkan perubahan yang tidak terduga dan sulit diperkirakan dalam industri karet. Harga karet yang fluktuatif dan tidak stabil membuatnya sulit diandalkan sebagai sumber pendapatan yang konsisten bagi masyarakat Dayak.

Pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), harga karet mencapai puncaknya di atas Rp 20.000 per kilogram. Hal ini memberikan keuntungan besar terutama bagi para petani karet atau rakyat akar rumput, yang merasa makmur dan sejahtera berkat lonjakan harga tersebut. Era ini, sering dianggap sebagai masa kejayaan karet di Indonesia, memainkan peran penting dalam menyelamatkan orang Dayak dari kondisi paceklik.

Karet memiliki sifat ekonomi yang menguntungkan pada masanya. Dapat dipanen pagi hari dan dijual pada siang hari dalam bentuk karet basah. Hasil dari nyadap karet memungkinkan masyarakat Dayak untuk memperoleh pendapatan yang relatif stabil dan menghindarkan mereka dari keterdesakan makanan dan minuman pada hari itu. Dengan kata lain, karet memberikan jalan keluar ekonomi bagi masyarakat Dayak untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Namun, setelah era keemasan karet ini, harga karet mulai merosot. Banyak petani karet yang akhirnya memutuskan untuk menebang pohon-pohon karet mereka. Bahkan karet unggul pun tidak dapat menghindari nasib serupa karena harga yang stagnan membuatnya tidak lagi menguntungkan. Hutan karet yang dulu subur dan produktif pun beralih fungsi menjadi kebun sawit, lada, kopi, dan palawija.

Namun, meskipun menghadapi tantangan yang berat, masyarakat Dayak bukanlah orang-orang yang menyerah begitu saja. Mereka cerdas dan tangguh dalam menghadapi perubahan. Mereka mulai beralih ke tanaman lain seperti sawit, kakao, lada, kopi, dan lainnya yang memiliki potensi ekonomi yang lebih baik.

Dalam konteks lagu "Krisis Global" oleh Pilo, tergambar dengan jelas bagaimana perubahan dalam harga karet telah mengganggu kehidupan masyarakat yang bergantung padanya, dan mereka mungkin terpaksa mencari alternatif lain untuk mencari nafkah. Ini mencerminkan realitas yang dihadapi oleh banyak komunitas yang bergantung pada komoditas pertanian atau perkebunan yang harganya dipengaruhi oleh pasar global yang berfluktuasi.

Kisah sejarah karet dalam kehidupan masyarakat Dayak adalah kisah perubahan dan adaptasi. Dari masa keemasan karet hingga fluktuasi harga yang sulit diprediksi, mereka terus berjuang dan mencari cara untuk mengatasi tantangan ekonomi yang terus berubah. Ini adalah bukti kecerdasan dan ketahanan mereka dalam menghadapi perubahan yang tidak pernah berhenti. Meskipun karet tidak lagi menjadi komoditas primadona, masyarakat Dayak terus bergerak maju, mencari alternatif, dan menjalani kehidupan mereka dengan semangat yang tinggi, seperti yang mereka lakukan pada masa karet masih menghiasi kebun mereka.*)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url