Belajar Plus dari Murry - Bagian I

  • Saya bergambar, eh... foto bareng dengan Murry (kiri).
Preambul:
Tak terbetik sebelumnya. Bahwa apa pun bisa dijadikan: buku. Rasa kagum, cinta akan rentak irama drumnya, warna pita suara yang srak-srak basah, potongan rambut, serta keramah-tamahan pria bernama lengkap Kasmuri ini mendorong hati dan menggerakkan semangat saya menggali, dan ingin tahu tentangnya lebih dalam. 

Maka tersusunlah, dalam senarai buku yang akan saya tulis dan publikasikan tahun 2024 buku seperti judul narasi di atas. Kiranya di mana pun berada, spirit dan tekad kita seperti Murry: menjadi plus di tempat dan komunitas yang telah ada. Berarti di mana saja berada, kita setidak-tidaknya menjadi part of solution jika tidak mampu menjadi unsur +. 

Serial tulisan "Belajar Plus dari Murry" dimuat di media digital tercinta kita ini. Mulai hari, tanggal, bulan, dan tahun: Jumat, 23 Febuari 2024.

Selamat mengikuti!

SANGGAU NEWS : Jangankan firasat. Bermimpi pun tidak. Bahwa suatu ketika, kelak di kemudian hari, saya bisa berjumpa. Bertatap muka. Lalu bergambar (iih jadul banget "bergambar", foto bareng, kale?) dengan lelaki penyuka rambut gondrong bernama lengkap Kasmuri.

Tidak pernah membayangkan bahwa suatu saat nanti akan tercipta pertemuan pribadi yang tak terlupakan dengan Murry. Bagi saya, Murry adalah sosok besar dalam jagat musik Indonesia, sementara saya hanya seorang pengagum yang mencintai dengan gila karya seninya dari kejauhan. 

Pertemuan tak terduga

Rasanya seperti bertemu dengan bintang kecil di langit yang tinggi. Oleh karena itu, istilah "tribut" tampak begitu akurat untuk menggambarkan perasaan saya dalam seluruh jalinan narasi ini.

Baca KOES PLUS : Gambar Sampul Depan Kasetnya Di Anjungan KalimantanTaman Mini Indonesia Indah

Meski begitu, ketika saya merenung dan kembali membuka album lama, saya tak bisa menghindari ingatan akan judul album Koes Plus yang berjudul "Kembali," yang dinyanyikan dengan penuh makna oleh Murry. 

Judul itu pun menjadi titik balik dalam perjalanan narasi ini, seolah memberikan isyarat bahwa kita seharusnya selalu membuka diri terhadap kemungkinan-kemungkinan baru, meskipun pada awalnya kita ragu atau merasa seperti sekadar penonton.

Dengan semangat yang baru, saya memutuskan untuk melanjutkan penulisan ini. Saya memasuki dunia eksplorasi dan memanggil kembali kenangan-kenangan lama. 

Sudah hampir tiga puluh tahun yang lalu, waktu pertama kali saya bertatap muka dengan Murry dan dua personel Koes Plus lainnya, Yon dan Yok. Namun, satu sosok yang tak bisa bergabung pada pertemuan itu adalah Toni, yang sudah meninggalkan kita pada saat api biru menyapu kehidupannya.

Pertemuan itu, bagaimanapun, adalah momen yang akan selalu saya kenang. Itu adalah saat-saat langka. Ketika saya bisa merasakan dekatnya aura kreativitas dan dedikasi dalam musik dari orang-orang yang telah mengubah lanskap musik Indonesia. 

Saya ingin berbagi cerita ini sebagai penghormatan kepada mereka, terutama kepada Murry, sebagai wujud apresiasi dan rasa terima kasih saya atas warisan musik mereka yang tak ternilai. Kiranya melalui tulisan ini, kita semua bisa lebih menghargai dan menginspirasi nilai-nilai inovasi, kreativitas, dan dedikasi dalam perjalanan kita sendiri.

Murry teladan hidup

Murry adalah teladan hidup. Sosok yang mengajarkan kita. Tentang sebuah pelajaran berharga tentang bagaimana memberikan nilai tambah kepada suatu kelompok atau komunitas yang telah ada sebelumnya. 

Tak syak lagi. Kasmuri adalah bukti bahwa inovasi, kreativitas, dan dedikasi dapat menjadi kunci untuk membawa perubahan yang signifikan dalam sebuah entitas yang sudah ada.

Kasmuri lahir pada tanggal 19 Juni 1949 di Jember. Pria yang di masa tua memelihara cambang ini tumbuh pada masa di mana musik Barat, khususnya The Beatles, meraih ketenaran  dan aplaus penonton dan penggemarnya di seluruh dunia. 

Namun, tantangan besar menghadang para penggemar musik seperti Murry di Indonesia, karena akses terbatas terhadap musik Barat dan adanya ketidaksetujuan terhadap budaya Barat.

Namun, Murry tidak hanya menjadi penggemar musik. Dia memutuskan untuk berkontribusi aktif dalam dunia musik dengan mendirikan band Patas Band di Surabaya pada tahun 1963, ketika usianya baru 14 tahun. Keputusan ini menunjukkan inovasi dan tekadnya untuk berkreasi dalam dunia musik. 

Murry tidak hanya mengikuti tren musik yang ada, tetapi juga menciptakan sesuatu yang baru bersama teman-temannya.

Baca Baga

Kemudian, saat kesempatan datang dan dia bergabung dengan Koes Plus, dia membawa inovasinya ke dalam kelompok yang sudah mapan. Permainan drumnya yang rapi dan fokus pada harmonisasi musik menjadi nilai tambah yang sangat berharga bagi band tersebut. 

Meskipun awalnya mereka menghadapi kesulitan dalam penjualan album pertama Koes Plus, Murry dan rekan-rekannya tidak pernah menyerah. Setiap persoel legenda grup band Indonesia ini terus bekerja keras. Mereka berinovasi dalam musik, dan akhirnya mencapai kesuksesan yang luar biasa dalam industri musik Indonesia.

Memberi nilai tambah kepada kelompok atau komunitas yang sudah ada

Dalam perjalanan hidupnya, Murry memperlihatkan kepada kita bahwa untuk memberikan nilai tambah kepada kelompok atau komunitas yang sudah ada. Kita patut belajar memberi plus ini dari Murry.

Murry juga mengajarkan inovasi untuk menciptakan hal baru. Kreativitas untuk menginspirasi dan mengubah. Serta dedikasi yang tak tergoyahkan untuk menghadapi segala rintangan.

Kisah hidup Murry adalah sumber inspirasi bagi kita semua. Dia membuktikan bahwa dengan semangat dan usaha keras, kita dapat membuat perbedaan yang signifikan dalam komunitas atau kelompok yang kita ikuti. 

Mari belajar dari kisah Murry. Kita terus berusaha memberikan nilai tambah dalam setiap aspek kehidupan ini. Seperti yang telah sosok inspirasi lakukan dalam dunia musik Indonesia. Terutama sumbangsihnya pada Koes Plus.*)

  • Masri Sareb Putra, Koes Plus maniak.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url