Belajar Dari Sukses Dan Gagalnya VOC : Dayak Dijajah Hindia Belanda "hanya" 60 Tahun (4)

 

Jejak sejarah VOC di pelabuhan Sunda Kelapa.

SANGGAU NEWS : Semburat warna merah bianglala menerangi langit kota Jakarta.
 
Tatkala bandar ini menjadi satu-satunya persinggahan bagi para pedagang mancanegara. Dengan kegaguman bercampur rasa heran, saya memasuki pelabuhan Sunda Kelapa. Saya bayangkan sebagai meneer di sana. Di mana Sunda Kelapa pada masanya menjadi pusat kendali perusahaan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).

Memandang VOC dari perspektif berbeda

Atas keheranan bercampur kekaguman itu, kepala saya berjejal dengan berbagai pertanyaan. Saya kini mempunyai sudut padang yang berbeda memandang Kompeni Hindia Belanda. Baiklah! Telah dituliskan serial narasinya di portal berita dan inofrormasi kita tercinta ini sekadar berbagi. 

Baca Belajar Dari Sukses Dan Gagalnya VOC : Sekolah Konglomerasi Koperasi Dan Kepemimpinan (3)

Jika membaca sejarah VOC, dari datang naik kapal hingga sampai Batavia, terjadi banyak intrik busuk dan pembunuhan sesama penumpang. Bahkan, jauh mengerikan dibanding suku asli Borneo, yang dilabeli sebagai "liar" dan belum beradab. 

Depan galangan kapal dan mercusuar yang angkuh meski mulai miring yang terletak di bibir pantai Batavia, saya sempat tercenung. Sekaligus, berdecak kagum. 

Saya teringat Amok, guru sejarah saya ketika SD, tahun 1970-an. Begitu hidup ia mengajar sejarah ketika menerangkan pelabuhan Sunda Kelapa dan peran pentingnya bagi VOC. Dulu baca saja sejarahnya di buku pelajaran. Saya tertarik melakukan Napak Tilas kompeni, sebab pengen jadi kompeni juga. 

Kita juga bisa mendirikan kompeni dagang. Namun, jangan berujung pada kegagalan seperti VOC. Belajarlah dari kegagalan, dan kesalahan mereka.

Saya baca sejarah VOC, very very interested termasuk perniagaan lada di Nusantara. Julukan sebagai "the king of spices" --rajanya rempah-rempah, tak pernah dicabut dari tanaman bernama Latin "piper nigrum", tumbuhan monokotil (berkeping satu).

Rempah yang menghangatkan badan, menyehatkan tubuh, sekaligus menyedapkan segala masakan. Ia digemari suku bangsa terutama Eropa, dan orang yang tinggal di daerah dingin. Namun, juga disukai penduduk yang tinggal di daerah tropis sebagai bumbu penyedap setiap masakan.

 Dari sisi akademik, saya sarjana filsafat dan master di bidang ilmu sosial. Namun, sangat menyukai sejarah. Akhir-akhir ini, penelitian saya ihwal sejarah, terutama yang terkait dengan Dayak dan KeDAYAKAN. Hampir selalu saya menggunakan pendekatan (teori) konstruktif-interpretif daripada historiografi.

Tanah Dayak hanya dijajah "hanya" sekitar 60 tahun

Kita menemukan fakta mengejutkan yang berikut ini: Tanah Dayak hanya dijajah kompeni Belanda "hanya" sekitar 60 tahun saja. Yang 3,5 abad itu Tanah Jawa. Fakta-sejarah ini harus diajarkan kepada anak cucu secara jujur, apa adanya. The Rise and the Fall of VOC Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) didirikan pada 20 Maret 1602 adalah persekutuan dagang asal Belanda yang memonopoli perdagangan di Asia.

Didirikan 17 tuan-tuan (Disebut "Heeren XVII "), VOC merajalela terutama di Nusantara selama hampir 350 tahun. VOC bubar pada 31 Desember 1799 meninggalkan utang 136,7 juta gulden.

Utang dan sebab VOC bubar

Adapun sebab VOC bubar:
1) Korupsi para pejabat VOC di berbagai cabang
2) Biaya perang dan sumber daya yang dikerahkan untuk melawan raja-raja lokal Nusantara.

Maka jika ingin sebuah perusahaan/ lembaga langgeng maka jangan mengulangi sejarah Kompeni (dari kata Belanda "compagnie). Kompeni bergerak juga di bidang usaha perkebunan yang popuper disebut "onderneming", khususnya teh dan karet.

Di Borneo, NIRUB (Netherland Indie Rubber) dan beberapa kapal berlayar di bawah permukaan air. Badannya timbul tenggelam bagai ikan hiu. Kadang tidak diketahui datangnya tiba-tiba saja muncul begitu saja. Bunyi mesinnya terdengar dari knalpot cerobong ke atas permukaan air. Mendengar bunyinya seperti raksasa batuk --demikian kisah nenekku-- penduduk pada terbirit-birit, tidak ada yang berani menghampiri. Jenis karet yang ditinggalkan kompeni dan sampai sekarang masih dibudidayakan di Kalimantan, termasuk saya, adalah: landbaw. 
Peninggalan VOC di area pelabuhan Sunda Kelapa pada ketika ini.

Lada: casus belli  Perang Banjar

Lada yang diwariskan pompeni pada awal mula, adalah betuk kuasa Kompeni Hindia Belanda (VOC) adalah ekonomi. Namun, lada pula yang menjadi casus belli (sebab perang) di Banjar. Pandainya VOC memainkan taktik adudomba dan pecah belah, sungguh luar biasa.

Lada, sahang, satu di antara komoditas rebutan kompeni dengan Inggris dan Portugis. Kita dapat mencatat sejarahnya fakta yang berikut ini. 1602: Kapal East India Company mendarat di pulau Sumatera.

Perdagangan lada mulai di pulau ini. Para pedagang ini dalam misi mereka singgah di Johor (Malaysia), Siam, Amboyna (pulau kecil), perlahan tapi pasti semakin mengalahkan pamor Portugis, akan tetapi usaha mereka berhasil digagalkan di Maluku. Seperti diketahui, East India Company, kadangkala disebut sebagai John Company, merupakan sebuah perusahaan saham-gabungan dari para investor, yang diberikan Royal Charter oleh Elizabeth I pada 31 Desember 1600, dengan tujuan untuk menolong hak perdagangan di India.

1621: Kompeni Belanda menyerang Kepulauan Benda. Bersaman dengan itu, para penduduk yang menyerah kalah, mereka jajah dan jadikan kuli.

1641: Kompeni Belanda menaklukkan Malaka. Bersamaan dengan itu, perdagangan lada mereka kuasai dari Asia Timur Jauh. Era Belanda telah berlalu. Namun, kompeni (company) sebagai sebuah perusahaan dagang esensinya baik dan wajib. Sebagai bagian darinya, anggota dan salah seorang Pembina Yayasan, saya merasa bangga hari ini Credit Union --sebagai lembaga keuangan nonBank, telah melesat menjadi sebuah kompeni --yang mirip-mirip modal dan kuasanya seperti zaman kolonial.

Kita juga bisa mendirikan kompeni dagang. Namun, jangan berujung pada kegagalan seperti VOC. Belajarlah dari kegagalan, dan kesalahan mereka.

17 Heeren (tuan) pendiri VOC bermodalkan nekad dan dengkul datang ke tanah asing saja bisa, kenapa orang asli dan punya modal pulau gak bisa? 
(Masri Sareb Putra)
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url