Tirusel : Panglima Ulong Da’a Mengibarkan Bendera Merah Putih Raksasa di Perbatasan


Tirusel STP, S.E., M.Si., lahir pada 9 April 1962 di Desa Ba’ Binuang, Kecamatan Krayan Tengah, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. 

Ia lahir, tumbuh, dan berkembang sebagai anak ke-4 dari S.Tipa Padan dan M. Roeslen Betung. Tirusel memiliki keluarga yang terdiri dari istri, Heppi Ramat, S.Pd., dan empat anak: dr. Hanastasia Priskila, T.STP., Teggar Perkasa Putra, T.STP, S.H., Ratu Karisma Kristiani, T.STP., dan Ananda Renatalia, T.STP.

Jejak Tirusel dalam memperjuangkan keberlanjutan lingkungan terlihat melalui pendirian 165 JeJak Peradaban Manusia Dayak Krayan (Lengilo’) di Sungai Krayan pada tahun 1985. 

Selain itu, beliau menjadi inisiator dan Ketua LSM Gemapala – Krayan Samarinda dari tahun 1990 hingga 1996. Yang juga patut dicatat, ia mendampingi peneliti dari University of Oxford Forestry, Inggris, di Sungai Bahau Kabupaten Bulungan dan Kabupaten Berau pada tahun 1992.

Baca Heppi Ramat: Dari Pedalaman Malinau "Mengajari" Orang Jakarta

Dalam konteks pemerintahan, Tirusel memulai karier sebagai staf hingga Sekretaris pada Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Malinau dari tahun 2000 hingga 2012. Ia kemudian menjabat sebagai Kepala Bagian Perekonomian dan Penanaman Modal Sekretariat Kabupaten Malinau dari tahun 2012 hingga 2017. 

Baca Jejak Peradaban Manusia Sungai Krayan

Selanjutnya, beliau menangani posisi Kepala Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Terpadu Satu Pintu, dan Tenaga Kerja Kabupaten Malinau dari tahun 2017 hingga 2019, serta Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Malinau sejak tahun 2019.

Tirusel juga aktif dalam mendukung kehidupan sosial masyarakat, terlihat dari partisipasinya sebagai Ketua RT 12 Kelurahan Karang Anyar, Kecamatan Tarakan Barat, Kota Madya Tarakan, dari tahun 1993 hingga 1996. 

Pegiat dan pecinta adat budaya Adayak itu juga menjadi salah satu anggota pengurus Forum Musyawarah Masyarakat Adat Lon Taw Sungai Krayan dari tahun 1997 hingga 2000.

Pada tahun 2012, Tirusel terlibat sebagai inisiator terbentuknya Irau Apo’ Anak Bawang Krayan Tengah, menunjukkan komitmen pada penguatan solidaritas masyarakat. 

Selain itu, ia juga menjadi inisiator dalam pembentukan Sanggar Seni Dayak Ulong Da’a di Kabupaten Malinau dan Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara pada tahun yang sama, 2012.

Ukuran bendera terbesar yang dikibarkan Tirusel: lebar 12 meter dan panjang 20 meter, dengan berat 17 kg, dan tinggi tiang 35 meter.

Setelah memberikan kontribusi yang berharga dalam berbagai jabatan di pemerintahan, Tirusel resmi pensiun sebagai Pegawai Negeri Sipil pada 1 Mei 2022. 

Baca Asmin Laura Hafid, Bupati Nunkan Membuka Acara Di Krayan Dengan Menyumpit

Jejak hidup Sel --sapaannya--  mencerminkan dedikasi pada lingkungan, masyarakat adat, seni budaya, dan pemerintahan. Semua itu membentuk warisan yang berharga bagi komunitas dan wilayah tempat beliau berkiprah.

Mengibarkan Bendera Merah Putih terbesar di Desa Ba’ Binuang
Di tanah kelahirannya, Desa Ba’ Binuang, Kecamatan Krayan Tengah, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, Tirusel STP, S.E., M.Si., meninggikan semangat cinta tanah air dengan sebuah peristiwa yang menyentuh hati: pengibaran Bendera Indonesia, Merah Putih, terbesar yang pernah terjadi di sana. 

Pengibaran bendera merah putih terjadi di perbatasan Indonesia dengan Sarawak Malaysia, tepatnya di tanggal 17 Agustus 2013. Menandai sebuah momen yang sarat makna dan kebanggaan terukir dalam sejarah.

MAF Dan Misi Kemanusiaan Di Perbatasan Kalimantan Utara

Bendera tersebut tidak sekadar simbol, melainkan sebuah manifestasi dari kebersamaan dan semangat gotong royong. 

Dengan dimensi yang memukau, lebar 12 meter dan panjang 20 meter, bendera itu tidak hanya menjadi lambang kebangsaan, tetapi juga menandakan kebersatuan yang mengakar dalam budaya Masyarakat Adat Krayan Tengah. 

Dengan beratnya yang mencapai 17 kg, dan tiang setinggi 35 meter, pengibaran bendera ini bukanlah semata aksi fisik, melainkan simbolisasi kekuatan bersama.

Seluruh Masyarakat Adat Krayan Tengah terlibat dalam proses yang penuh makna ini. Mereka tidak hanya menjadi saksi, tetapi juga pelaku, menyatukan hati dan tenaga untuk mengibarkan lambang kebangsaan dengan penuh kehormatan. 

Keterlibatan seluruh komunitas dalam momen yang begitu bersejarah ini menjelaskan tentang rasa persatuan dan kecintaan pada tanah air yang mengalir dalam setiap nadi masyarakat.

Pengibaran Bendera Indonesia ini bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah ekspresi kebersamaan dan dedikasi terhadap Indonesia. 

Dalam keindahan bendera yang berkibar di langit-langit Desa Ba’ Binuang, terpancar semangat kebangsaan yang menggugah jiwa setiap individu. Ini adalah bukti nyata bahwa setiap langkah dan usaha, sekecil apapun, dapat menjadi pijakan besar dalam membangun rasa kebangsaan yang kokoh dan tahan banting.

Sejak saat itu, Bendera Merah Putih dengan megahnya berkibar sebagai saksi bisu, meresapi semangat dan jejak peradaban manusia Dayak Krayan di sungai Krayan. 

Momen indah itu menjadi simbol abadi dari rasa cinta dan kesetiaan pada tanah air, memperkaya sejarah kehidupan Tirusel dan Masyarakat Adat Krayan Tengah. 

Ekspedisi Gemapala
Tirusel pernah melakukan ekspedisi bersama Tim Ekspedisi Gemapala – Krayan (Gerakan Mahasiswa Pencinta Alam – Krayan) yang beranggotakan: 1. Tirusel STP, SE., M.Si (Krayan), 2. Gregory A Haris, Ph.D. (Amerika), 3. Samuel STP (Krayan), 4. Yulius Kam (Krayan) yang start awalnya dimulai pada 23 Desember 1993. 

Bumi, langit, udara, tanah, sungai, dan alam raya Krayan serta Panglima Ulong Da'a yang setia menjaga.

Ekspedisi ini dilaksanakan selama satu bulan dengan berjalan kaki keliling di seluruh desa yang ada di Krayan (89 desa). 

Ekspedisi tersebut secara khusus memasuki desa-desa di sepanjang Sungai Krayan. 

Selama tinggal bersama penduduk,  dan menjadi bagian dari mereka, didapat informasi penting.

Tirusel sesungguhnya, selain pelestari seni, adat, dan budaya juga seorang pelestari sekaligus penjaga bumi dan alam Sungai Krayan.

(Rangkaya Bada)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url