Aksara Cina pada Poster Politik Mendukung Partai Persatuan Daya (P.D.)

SANGGAU NEWS : Saat ini, kita memasuki awal periode politik yang penuh riuh rendah. Tidak juga terlalu seram seram amat. Bahkan ada yang bilang, "Ribut di haluan, sepi di buritan".

Maka "hanya" para elit politik, partai, dan pihak yang langsung saja bersentuhan dengan "kepentingan poltik" yang saling mengaum. 

Baca Cina Sanggau : Lho Kok Bukan Tionghoa Sanggau?

Belum sampai cakar-cakaran. Kecuali pengadilan oleh MK yang menjatuhkan dacin timbangan. Itu pun bukan mengadili orang, manusia; namun mengadili dan menguji: norma, yang belaku universal.

Jadi memang belum ada secara fisik korban sebagai ongkos politik. Kita berharap bangsa ini semakin beradab sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

Semua partai telah mulai bergerak. Mendukung atau menentang satu sama lain dengan intensitas tinggi.

Baca Geretak Gantung Sei Sekayam Tempo Doeloe

Pengasuh media ini ingin mencari sudut pandang yang berbeda dan tidak mengikuti arus utama politik. Lalu kami mencari peluang yang belum dieksplorasi dan belum ditulis oleh orang lain, seperti yang terlihat dari judul narasi ini.

Di Kalimantan Barat, sejak awal, orang Dayak dan Tionghoa hidup berdampingan. Orang Dayak menyapa orang Cina dengan sebutan "Sobat," dan kedua kelompok etnis ini hidup berdampingan dengan damai, kecuali jika ada campur tangan pihak ketiga.

Untuk kita sama-sama belajar dari praktik politik masa lampau yang santun dan manusiawi. Bagaimana misalnya, Partai Dayak, tetapi pengurus dan pendanaannya dilakukan orang Tionghoa di Kalimantan Barat?

Mari belajar dari Dayak-Tionghoa!
Sebelumnya, bagi yang belum "ngeh", dalam sejarah keindonesiaan, pernah eksis 
Partai Persatuan Daya (P.D.). Didirikan oleh dwitunggal tokoh Dayak Kalimantan Barat, yang kemudian menjadi dwi-tanggal, yakni J.C. Oevaang Oeray dan F.C. Palaunsoeka.

Dikatakan " dwi-tanggal" karena kedua tokoh Dayak itu kemudian "berseberangan" secara politik setelah Partai Persatuan Daya secara de facto dibubarkan oleh Basuki Rachmat selaku Mendagri lebih cepat 3 bulan sebelum waktunya.

Baca Etnis Tionghoa Di Sanggau

Kedua tokoh legendaris ini sama-sama buah didikan Misi Ordo Kapusin di Nyarumkop, yang kental sensus Dayakus dan ke-Katolikannya. Kental dan kemudian dekat dengan pendiri Partai Katolik, I.J. Kasimo, bahkan Palaunsoeka, kemudian masuk Partai Kalolik.

Fokus kita adalah senyawa antara Tionghoa dan Dayak di Kalimantan Barat.

Seperti yang kita tahu, ada banyak kesamaan antara budaya Dayak dan Cina. Ini telah digambarkan oleh Korrie Layun Rampan pada tahun 1988 dan juga saya ceritakan dalam novel "Ngayau" pada tahun 2014, terutama dalam konteks upacara kelahiran, kematian, korban, dan mantra-mantranya.

Saran saya adalah pergilah ke Kalimantan Barat. Di sana, Anda akan menemukan kesulitan untuk membedakan antara orang Dayak dan orang Cina. Mereka memiliki ciri fisik yang serupa, dengan kulit kuning bersih, mata sipit, dan rambut lurus.

Namun, ada pepatah nenek moyang yang mengatakan, "Dayak adalah Cina hutan." Meskipun begitu, saya, sebagai seorang penulis, peneliti, dan etnolog Dayak, membangun teori saya sendiri bahwa etnis Dayak berasal dari sini, dari Borneo atau Kalimantan, dan mereka adalah penghuni asli Varuna-dvipa.

Dalam sejarah, Dokumen Milter mencatat bahwa pada tahun 1967, pihak berwenang memerlukan bantuan orang Dayak untuk memastikan siapa yang merupakan Dayak dan siapa yang merupakan Tionghoa, terkait dengan pelaksanaan PP No. 10 Tahun 1959. Anda dapat mencari sendiri isi PP tersebut.

Di Kalimantan Barat, sejak awal, orang Dayak dan Tionghoa hidup berdampingan. Orang Dayak menyapa orang Cina dengan sebutan "Sobat," dan kedua kelompok etnis ini hidup berdampingan dengan damai, kecuali jika ada campur tangan pihak ketiga.

Ketika Partai Persatuan Daya (PPD) didirikan, seorang Tionghoa bernama Lim Bak Meng yang lahir di Nibung Seribu Pontianak pada tahun 1908 ikut serta membantu. Bantuan ini tidak hanya berupa tenaga kerja sukarela, tetapi juga harta benda dan bahkan nyawa. Hal ini merupakan salah satu contoh kontribusi etnis Tionghoa di Kalimantan Barat bagi masyarakat Dayak.

Bukti sejarah menunjukkan bahwa bahkan materi kampanye untuk mendukung PPD ditulis dalam aksara Cina, yang tidaklah mudah bagi suku bangsa lain untuk melakukan kampanye bagi partai etnis lain dengan bahasa yang berbeda.

Namun, etnis Tionghoa di Kalimantan Barat mampu melakukannya dengan luar biasa. 

(Catatan: Dokumen ini merupakan arsip pribadi penulis. Jika Anda ingin berbagi atau menggunakannya, harap sebutkan sumbernya!)

(Rangkaya Bada)


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url