Komunitas Diaspora Sekadau di Ketapang

 

Tangkapan gambar suasana pertemuan Perkumpulan Ayung Sekadau (PAS).

Hari itu, Sabtu 16 September 2023. Arisan Perkumpulan Ayung Sekadau yang disingkat PAS untuk bulan September 2023 diadakan di rumah Leonardus Yohanes Lukman di Gang Pak Udak, Mulia Baru,Ketapang.

LY. Lukmas adalah pria kelahiran Jungkal, Tumbang Titi. Isterinya Masnani berasal dari Sekadau, tepatnya dari Gonis Rabu, Jalan Sintang, namun telah lama pindah ke Sei Ayak mengikuti ayahnya yang bertugas di kantor Camat Sei Ayak, sampai menemukan jodohnya orang Ketapang ketika sedang menuntut ilmu di Pontianak. Sejak menikah sampai dikaruniai 2 orang anak, mereka menetap di kota Ketapang, Kalimantan Barat. Mereka anggota PAS.

Setiap kegiatan Arisan, selalu diawali dengan Ibadat atau bahkan Misa apabila ada anggota PAS yang memiliki intensi tertentu, seperti Syukuran keluarga atau juga peristiwa duka misalnya peringatan 40 hari berpulangnya anggota suatu keluarga.

Sharing, berbagi 
Dalam Ibadat atau misa sering juga dilakukan “sharing” atau diskusi tentang suatu topik yang berhubungan dengan tema dalam bacaan hari itu, atau juga berhubungan dengan peristiwa aktual dan kontekstual yang tengah terjadi. 

Itulah cara warga PAS mengkomunikasikan masalah- masalah yang mereka hadapi dalam kehidupan bersama di daerah perantauan. Setelah kegiatan liturgi, dilanjutkan dengan makan bersama yang didanai bersama, dengan mengalokasikan Dana Konsumsi dan Dana Kas perkumpulan atau Paguyuban. 

Dengan kondisi geografis yang bersinggungan langsung, sangatlah wajar bila ada warga Sekadau pindah domisili ke Ketapang atau sebaliknya, Walaupun kenyataannya warga Sekadaulah yang paling banyak bermigrasi ke wilayah Kabupaten Ketapang, terutama di wilayah Kecamatan Hulu Sungai.

Arisan PAS memang dirancang sebagai sarana untuk pertemuan keluarga. Kalau ada hajatan atau intensi khusus, tentu anggaran konsumsi akan bertambah, yang ditombok oleh tuan rumah dengan sukarela; apalagi setelah makan biasanya ada hidangan ekstra berupa tuak atau “aik tajam” tentu dengan “tabas”nya.. Suasana dapat menjadi semakin meriah dan mengesankan.

Saat arisan hari itu, Lucius Yudiharto, lelaki berdarah Jawa yang menikah dengan Servina Bunga asal Sei Ayak Sekadau yang telah memiliki 3 orang anak gadis, mengungkapkan,”kalau tidak ada halangan yang mendesak, saya selalu rindu untuk hadir di acara arisan PAS, tempat kita bisa berbagi cerita dan rasa”. 

Itulah suasana arisan PAS yang dirasakan oleh anggota PAS. Setidaknya, saat ini ada 70 KK warga Sekadau yang berdomisili di kota Ketapang, yang sudah memasuki generasi keempat.

Suasana pada Misa syukur perayaan HUT PAS ke-24.

Kalau ditanya, “Mengapa ada banyak orang Sekadau di Ketapang dan bagaimana mereka dapat sampai ke sana?”

Pertama, secara geografis, wilayah Sekadau dan wilayah Ketapang berbatasan langsung, perbatasan darat. Ditinjau dari wilayah Kabupaten Ketapang, setidaknya ada 3 gerbang utama (Batas) yang menghubungkan wilayah Kabupaten Ketapang dengan Kabupaten Sekadau. 

Pertama Desa Kenyabur di Kecamatan Hulu Sungai dengan Desa Ensayang di Kecamatan Nanga Mahap.

Kedua Desa Merabu Kecamatan Sei Laur, dengan Desa Landau Apin di Kecamatan Nanga Mahap.

Ketiga Desa Botong Kecamatan Simpang Hulu dengan Desa Cenayan, juga di Kecamatan Nanga Mahap.

Dengan kondisi geografis yang bersinggungan langsung seperti itu, sangatlah wajar bila ada warga Sekadau pindah domisili ke Ketapang atau sebaliknya, walaupun kenyataannya warga Sekadaulah yang paling banyak bermigrasi ke wilayah Kabupaten Ketapang, terutama di wilayah Kecamatan Hulu Sungai. 

Suatu saat ketika penulis mengikuti kunjungan Pastoral Uskup Ketapang, Mgr.Blasius Pujaraharja ke Paroki Salib Suci Menyumbung pada waktu menjelang Natal 1985, secara bergurau beliau bilang, “ini daerah imigran gelap dari Sekadau”.

Ditinjau dari faktor historis religius, menurut buku “Jejak- jejak Pasionis di Tanah Kayong” tulisan Amon Stefanus dan Alkap Pasti, sejak tanggal 26 Juni 1954 Ketapang menjadi wilayah Prefektur Apostolik Ketapang (Calon Keuskupan) dan pada 3 Januari 1961 Prefektur Apostolik Ketapang berubah status menjadi Keuskupan Ketapang, dengan Mgr.Gabriel Wilhelmus Sillekens diangkat secara resmi menjadi Uskup Ketapang pertama pada 28 April 1962. 

Adapun wilayahnya juga meliputi wilayah Sekadau (daerah aliran Sungai Sekadau: Sekadau Hilir, Sekadau Hulu (Rawak), Nanga Taman, Nanga Mahap dan wilayah sebelah kanan mudik sungai Kapuas, mulai dari Meliau sampai batas Kabupaten Sintang; sedangkan wilayah kiri mudik sungai Kapuas (daerah Belitang/ Mualang) masih dilayani para misionaris Kapusin dari Keuskupan Agung Pontianak. 

Dalam perkembangan selanjutnya, para misionaris Pasionis asal Italia datang membantu misionaris Pasionis Belanda di Keuskupan Ketapang dengan melayani wilayah Sekadau. 

Misionaris Pasionis Italia yang pertama datang adalah P.Marcello Di Pietro,CP dan P. Cornelio Serafini,CP, yang menjejakkan kakinya di Sekadau pada tanggal 19 Oktober 1961 bertepatan dengan perayaan St.Paulus dari Salib, pendiri Kongregasi Pasionis. 

Tanggal 19 Oktober 1961 merupakan tonggak sejarah berkaryanya para misionaris Pasionis Italia di Bumi Lawang Kuwari, yang diikuti oleh kedatangan cukup banyak para misionaris Pasionis Italia berikutnya. Dalam perkembangan selanjutnya, tepatnya pada tanggal 9 April 1968, wilayah Sekadau berubah status menjadi Prefektur Apostolik Sekadau, yang wilayahnya kemudian juga meliputi daerah Belitang/ Mualang yang sebelumnya dilayani oleh para Misionaris Kapusin dari Keuskupan Agung Pontianak dan Mgr. Michele Di Simone menjadi Prefek yang pertama.

Selama wilayah Sekadau menjadi wilayah pelayanan para misionaris dari Keuskupan Ketapang (26 Juni 1954 – 9 April 1968), maka banyak umat dari wilayah sekadau yang memperoleh kesempatan dan difasilitasi oleh para misionaris Kapusin atau Pasionis untuk sekolah di Ketapang, yang kemudian bekerja, berkeluarga dan menetap di Ketapang; sebagai contoh Paulus Lanjak dari Empajak, Belitang dan M.A.Suri asal Natai Ucung yang merupakan Katekis Perdana Keuskupan Ketapang yang kemudian menikah dengan orang Ketapang dan menetap di sana sampai pensiun. 

Ada juga yang datang ke Ketapang karena terpanggil untuk menjadi Imam, Bruder atau Suster. Ada banyak yang menjadi Suster St. Agustinus dari Kerahiman Allah (OSA), seperti Sr. Albertina, OSA (alm) asal Perongkan, Sr. Agustini,OSA(alm) asal Lintang Pelaman, Sr. Selestina,OSA(alm) dari Lubuk Tajau, juga Sr. Lidwina OSA dari Landau Menatawak. Ada juga yang menjadi Bruder FIC seperti Br.Vianney, FIC (alm) dari kampung Ampar kecamatan Sekadau Hilir, Br.Sinu,FIC dari Natai Ucung. Dari Tapang Sambas ada 2 orang yang sudah menjadi postulant Bruder FIC yaitu Yakobus Cil dan Klarensius Ketui, tetapi gagal dan kemudian pulang ke kampung dan menjadi tokoh masyarakat.

Migrasi orang Sekadau di Ketapang
Bila kita mencermati dan mendengarkan cerita para orang-orang tua asal Sekadau yang kemudian menetap di wilayah Kabupaten Ketapang, setidaknya ada 4 cara bermigrasi yang mereka lakukan:

  1. Berburu dan berladang, lalu menetapDari daerah Sekadau awalnya mereka berburu sampai ke wilayah Ketapang, karena di sana masih banyak binatang buruan seperti babi, rusa dan lain-lain. Mereka berburu berminggu- minggu dengan membuat bagan. Pulangnya mereka membawa salai hasil buruan atau asinan, atau bahkan dalam bentuk pekasam. Orang yang tertarik dengan hasil buruan makin lama makin banyak, sehingga mereka datang dalam bentuk rombongan dan dari bagan tempat persinggahannya berupa pondok. Lama-lama mereka membawa isteri dan anak- anak, sambil berladang karena mereka menemukan bahwa tempat tersebut lebih subur bila dibandingkan di tanah asalnya. Jadilah Pedahasan, yang lama- lama mereka beranak pinak dan jadilah suatu kampung. Uniknya, mereka berbahasa sesuai dengan daerah asalnya, tetapi dapat saling mengerti; misalnya orang asal Perongkan Sekadau Hulu menggunakan Bahasa Ketungau, tetapi yang berasal dari daerah Nanga Mahap pakai Bahasa Entukak. Ini merupakan migrasi spontan dan tidak terorganisir.
  2. Sekolah, bekerja dan menetap
    Jenis migrasi kedua adalah karena mereka datang ke Ketapang untuk sekolah, semasa wilayah Sekadau menjadi bagian dari Keuskupan Ketapang (26 Juni 1954 – 9 April 1968). Mereka datang ke Ketapang karena dorongan ingin Sekolah, yang juga difasilitasi oleh pihak gereja, dalam hal ini para Imam atau misionaris yang bekerja di Ketapang. Setelah sekolah, misalnya di SPG Negeri Ketapang mereka kemudian diangkat menjadi guru di SD atau SMP Usaba yang merupakan Persekolahan milik Yayasan Usaba, Keuskupan Ketapang. Guru-guru ini sebagai contoh di SD Usaba Congkong Baru Kecamatan Hulu Sungai ada Merap (alm) dan Elas (Alm); di SD Usaba Menyumbung ada Akui(alm) dan di SD Usaba Meraban ada Rajut(alm). Untuk Tingkat SMP, di SMP Usaba 6 Menyumbung ada Adrianus Ekon dan Edy(alm). Mereka rata- rata berasal dari daerah Kecamatan Nanga Mahap. Untuk di Kota Ketapang ada Paulus Lanjak dan MA.Suri yang mendapat tugas belajar dan beasiswa dari Keuskupan Ketapang untuk sekolah menjadi Katekis di AKI Madiun, Jawa Timur. Mereka berdua ini merupakan katekis perdana Keuskupan Ketapang, yang malang melintang bertugas di banyak paroki pedalam, terutama M.A.Suri.
  3. Mengikuti keluarga dan menetap di Ketapang
    Pola ketiga komunitas diaspora Sekadau di Ketapang adalah dengan mengikuti keluarga yang sudah menetap dan cukup mapan di Ketapang. Dengan tujuan untuk sekolah atau mungkin juga mencari pekerjaan, awalnya mereka tinggal di rumah keluarga dekatnya, kemudian mereka mendapat jodoh, berkeluarga dan menetap di Ketapang.
  4. Dilahirkan dari keluarga Sekadau di Ketapang
    Anak-anak dari keluarga yang telah lama menetap di Ketapang dan lahir di Ketapang boleh dikatakan tidak mengenal kampung asal usul orang tuanya di Sekadau. Sekali- sekali mungkin mereka pernah ke kampung orangtuanya di Sekadau, tetapi mereka hampir tidak pernah mengalami dan bergelut dengan kehidupan masyarakat di kampung orangtuanya atau kakek- neneknya. Dengan kata lain, mereka hampir tidak mengenal akar budaya tanah leluhurnya (R.Musa Narang). 
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url