Asal Mula Talino Mentonyek

  • Penampakan Talino Mentonyek dari udara.
Alkisah. Dahulu kala. Di wilayah Mentonyek yang kita kenal sekarang. Di manakah Mentonyek? Mungkin saja, meski dekat Sanggau, banyak Pebaca belum tahu.

Karangan. Tahu Karangan? Jangan-jangan belum tahu juga. Kalau begitu, tahu Menjalin? Nah, Mentonyek dekat sekali dengan wilayah yang sama yang tertera pada peta Kabupaten Landak.

Syahdan, ada dua orang pemuda gagah yang ingin melihat dunia luar. Nama kedua pemuda itu adalah Ne 'Lete dan Ne' Jangar. Mereka adalah pemuda berani asal Pahokng. 

Suatu hari, setelah semua akomodasi dirasa cukup, mereka naik ke dalam perahu. Mereka hendak bepergian untuk menambah pengalaman hidup. Dayung pun dikayuh kiri dan kanan, menelusuri Sungai Mempawah. Dari hulu menuju hilir. Semakin ke hilir sungai yang dilalui semakin lebar, deras, dan dalam.

Kicauan burung tidak pernah berhenti mengiringi dayungan perahu mereka. Kelokan sungai mereka telusuri. Pepohonan di kiri dan kanan tebing sungai seolah menari-nari kegirangan atas keberanian mereka meninggalkan Pahokng. 

Tanpa rasa takut dan gentar, muara demi muara dilewati. Entah kenapa ada satu muara yang arusnya begitu kuat. Semakin kuat saja sehingga perahu tidak dapat dikendalikan. Ternyata ada pusaran air. Ne'Late dan Ne'Jangar belum sempat melompat, ternyata sudah masuk dalam pusaran air.

Herannya, mereka menemukan dunia lain setelah masuk dalam pusaran. Mereka berjumpa dengan seorang kakek tua yang membantu mengarahkan arah yang hendak mereka tuju. Mereka berdua diminta untuk mengambil arah ke arah hulu. 

"Kalian berdua ambil arah ke arah hulu, dan perhatikan tanda-tanda airnya. Jika berwarna merah, jangan kalian telusuri, berbalik arah atau menyimpang," demikian pesan kakek tua.

Setelah mengucapkan terima kasih, kedua pemuda dari Pahokng tersebut berpamitan. Mereka mengayuh dayungnya dengan penuh semangat. Perahu menelusuri sungai entah berapa puluh mil jauhnya. Benar saja, sungai yang airnya berwarna merah tidak mereka telusuri. Mereka memilih arah yang lain. Muara yang airnya bening.

Berhenti sebentar untuk minum dan makan. Setelah itu mereka mendayung lagi dan lagi. Tiba-tiba mereka sampai di negeri asing. Sosok-sosok yang dijumpai tidak jauh berbeda dengan diri mereka. Pembedanya tidak ada hidung seperti layaknya hidung manusia pada umumnya. Kalau pun ada, seperti segi tiga. Takutkah Ne'Lete dan Ne'Jangar? Tidak. Namanya juga untuk melihat dunia luar. Pastilah jenis manusia berbeda-beda, demikian pikir mereka. 

Melihat ada tempat persinggahan dan keramahan dari seorang kakek tua yang menyapa dan mengajak mampir ke rumahnya di tepi sungai, mendorong mereka untuk singgah.

Ne'Lete dan Ne'Jangar pun akhirnya benar-benar mampir. Awalnya mau beristirahat sejenak. Tidak tahunya lama. Bahkan kakek menawarkan dan berharap keduanya dapat menginap di tempat mereka.

Perahu pun ditambatkan dengan ikatan tali yang cukup kuat. Ne'Lete dan Ne'Jangar tanpa curiga singgah di rumah kakek yang menyapa dan mempersilahkan naik ke rumahnya. Di rumah itu ternyata ada cucu sang kakek. Rupanya sang kakek mengasuh cucunya yang masih kecil.

Sementara mereka menunggu di ruang tamu, sang kakek memasak untuk kedua tamunya. Awalnya mereka tidak melihat keanehan sedikitpun di rumah itu. Seiring waktu, cucu sang kakek terus merengek dan menangis. Awalnya tidak jelas permintaan cucu kepada sang kakek. Lama-lama jelas.

"Kek, aku mau buah bangmoe, aku mau buah bangmoe. Sekarang ke," pinta sang cucu.

"Tidak sekarang, tunggu Bapak dan Mama pulang," hibur sang kakek.

Tetapi cucu tersebut tetap merengek, mengulangi permintaan yang sama.

Akhirnya Ne'Lete dan Ne'Jangar sadar. Buah bangmoe yang dimaksud rupanya buah pelir mereka berdua untuk dipetik dan dimakan. Pantas saja sang cucu sejak awal mereka datang selalu mengarahkan pandangan ke bawah pusar mereka.

Mereka mencari siasat untuk melarikan diri. Mumpung masih tengah hari. Tetapi caranya gimana. Kalau berdiam diri, dipastikan tidak selamat. Akhirnya kesempatan pun tiba. Setelah ngobrol selayaknya tuan rumah dengan tamu, tuan rumah berpamitan sekali lagi. Berpamitan untuk melihat masakan yang tadi telah dimasak. Sambil menggendong cucunya, sang kakek pun menuju dapur.

Secepat kilat kedua pemuda Pahokng tadi menuju belakang rumah, melepas tali pengikat perahu. Dengan sekuat tenaga, dayung dikayuh kiri dan kanan. Perahu meluncur dengan cepatnya.

***

Sadar tidak terdengar suara manusia di ruang tamu sang kakek bergegas. Ternyata benar saja sudah kosong melompong. Sang kakek mengambil langkah ke belakang rumah. Mata diarahkan ke semua penjuru sungai tidak saja dimana perahu ditambatkan. Ternyata tidak ada juga.  Ia melihat tanda-tanda bahwa dua orang tamunya melarikan diri. Ia lari sekencang  mungkin dengan memegang tombak ke arah hulu. Benar saja  kedua pemuda tadi terlihat sedang menelusuri sungai dengan gesitnya.  

Sang kakek berada di sisi kiri  tebing. Perahu selalu berada di posisi tengah sungai. Kedua pemuda tadi tidak menyadari kalau sedang dalam pengajaran. Tiba-tiba sebuah  tombak  menyambar  mereka. Untung saja tidak mengenai mereka berdua. Demikian juga perahunya. Tombak demi  tombak diarahkan ke mereka berdua. Namun satu pun tidak ada yang mengenai. 

Sambil mengayuh mereka berdua berbagi tugas. Satu mengendalikan arah perahu, satu melakukan pembalasan dengan mengarahkan tombak kepada yang menombak.


Entah siapa yang memegang tombak. Kebetulan di dalam perahu sudah disiapkan tombak bermata  satu yang dinamai Tihukng, yang lainnya bermata  tiga yang disebut sarapakng.  Sekali mengayunkan tombak menancap ke tubuh kakek tadi. Tembus hingga ke batang pohon Jelatung. Membuat sang kakek tidak berdaya.

 Mereka terus saja mendayung tanpa lelah. Setelah merasa aman barulah perlahan-lahan. Ne'Lete dan Ne' Jangar  baru sadar ternyata mereka singgah di negeri hantu yang dinamai negeri bintianak.
Untung saja mereka berdua cepat menyadari sehingga buah pelir mereka baik-baik saja dan hidup mereka selamat.

Setelah sekian lama menyusuri sungai  akhirnya  mereka dapat melihat perkampungan. Mereka menambatkan perahunya. Betapa kagumnya ne Lete dan ne Jangar melihat pemandangan yang tidak biasa. Rumah yang mereka singgahi  adalah rumah Maniamas. Halaman rumahnya penuh dengan emas. Mereka disambut dengan ramah. Bahkan mereka diterima dan tinggal dirumah tersebut.

Sehari, seminggu dan akhirnya berbulan-bulan.
Awalnya mereka tidak tahu sama sekali kalau ada anak perempuan  cantik dirumah itu. Namanya Panu emas. Ia ditempatkan di lantai dua. Para' nama tempatnya. 

Saat jamuan makan mereka berdua dihidangkan dengan sayur pakis. Sayuran tersebut tidak di potong-potong. Tanpa sengaja  mereka  menengah. Ternyata ada seorang gadis yang sangat cantik. Itulah awal mereka berdua tidak beranjak kemana-mana. Mereka berdua jatuh cinta. Demikian juga dengan Panu amas. 
Entah siapa yang memulai. Dan bagaimana cinta terlarang itu  terjadi.

Talino Mantonyek awalnya tinggal di Saroa setelah lari menghindari amarah Maniamas. Dari Saroa ke  Mentonyek. Mentonyek areanya tidak luas. Ada pohon kelampe dan pohon langsat.  Menghadap ke arah Lambu.  dari mentonyek penduduknya berpindah  ke Lambu. Lambu berada di dataran rendah. Dari Lambu  ke ne Titi. Dari ne Titi ke Taboyo (semua tempat yang disebutkan sekarang ini ada di belakang kampung Mentonyek dalam) dari Taboyo ke Timawakng (dataran atas di belakang gereja GKTI  Bukit Zaitun Mentonyek).


Semula berjalan normal. Wajar-wajar saja. Maniamas dan  Hujan emas nama yang empunya rumah  tidak curiga atas situasi di rumah. Namun sepandai-pandainya tupai  melompat sekali waktu jatuh juga. Sepandai-pandainya menutupi bau bangkai pasti tercium  juga. Apalagi alam sudah memberi tanda.

Ternyata tidak biasa yang seharusnya musim kemarau berubah menjadi musim penghujan. Tiada hari tanpa hujan. Terkadang pagi, terkadang siang, terkadang sore dan terkadang malam. Seminggu dan kini sudah beberapa minggu hujan tidak berhenti. Ada yang tidak beres. Benar saja perut Panu amas membuncit.

Bukan karena cacingan  apalagi kegemukan. Introgasi dilakukan oleh Maniamas kepada Panu amas.  Siapa gerangan yang membuat aib tersebut. Ternyata setelah Panu amas membuka mulut. Nama ne' Lete dan ne" Jangar yang disebutnya.

Terjadilah kegemparan. Kedua laki-laki itu pun diinterogasi. Herannya kedua-duanya mengakui. Kedua-duanya cinta kepada Panu amas.  Kedua- duanya siap menjadi suami. Kedua-duanya siap mempertanggungjawabkan perbuatannya.  Kedua-duanya tidak ada yang  mau mengalah. Namun tidaklah pantas satu perempuan dinikahi oleh kedua laki-laki sekaligus. Kedua-duanya bersepakat menikahi perempuan yang sama dihari yang sama pula. Kedua-duanya  ingin yang terdepan. Ingin menjadikan Panu emas menjadi istrinya.

Setelah beruntung dan dikenai ya sanksi adat,  akhirnya mereka berdua menerima hukuman. Mereka harus membayar sanksi  adat yang berlaku. Namun apa daya tiada harta yang dipunya untuk memenuhi hukum adat sekalipun ne' Lete dan ne' Jangar menerima semua hukum adat.
" kami siap membayar. Tetapi izinkan kami pulang ke kampung halaman. Kami akan bayar hukum adat karena demikianlah kami hidup. Lahir baradat, hidup beradat  matipun beradat " kata mereka seperti dikomando saat menanggapi hukum adat yang dijatuhkan.

"Untuk kembali sangat  mudah. kalian berdua naik ke atas, ke lantai dua. Lalu  buka penutup atap dan kalian pasti tiba di negeri kalian " imbuh Maniamas.
Ne ' Lete dan Ne' Jangar.

Tiga hari setelah sidang adat, mereka berdua pun  berpamitan. Diantar oleh Maniamas  naik ke atas. Mereka  membuka atap rumah. Dan ternyata benar saja mereka kembali ditanah Pahokng. Kembali ka kampung halaman.

Betapa kaget ne 'Lete dan ne Jangar. Mereka hidup seperti dalam mimpi. Mereka kembali di alam nyata. 

Mereka berdua lupa ada kewajiban yang harus dipenuhi. Membayar adat. Tetapi mereka juga tidak tahu bagaimana harus kembali.  Mereka sadar ternyata mereka sudah bertahun-tahun sejak pergi berlayar.

Seminggu , sebulan dan beberapa bulan di tunggu Ne' Lete dan Ne' Jangar tidak kembali juga.

Maniamas pun geram. Ia harus  menuntut balas. Memang tidak ada pembunuhan. Tidak ada sampar berupa penyakit kepada talino Pahokng. Ia melampiaskan  amarahnya dengan memotong(sampokng) setiap rambut perempuan Pahokng yang ditemui. Yang menderita adalah para perempuan. Maka untuk menghindari pemotongan rambut, penduduk  melarikan diri. Berpindah rumah. Berpencar. Ada yang lari ke Sarape, Bawat,  Sompe, tamiangan, nangka, Napal, Lirakng. Dan Saroa. Sedangkan yang menetap di Antus dan Marit adalah mereka yang menganggap itu hal biasa saja.

Tindakan pemotongan rambut (Sampokng)  perempuan oleh Maniamas  disudahi  dengan perjanjian upacara ka guna lima tahun sekali bagi talino  Pahokng. Tempatnya di Antus. Ada lubang besar  yang dipercaya tempat keluar masuknya Maniamas dan awal keluarnya Ne 'Lete dan Ne 'Jangar untuk kembali ka Talino.

Setiap kampung asal Pahokng lima tahun sekali secara bersama -sama bersembahyang di lubang besar itu. Setelah sembahyang baru dibuat perlombaan menghanyutkan perahu. Setiap kampung satu perahu. Satu perahu satu orang yang mendorong ke depan. Setelah itu perahu dilepas mengangkut sakit, penyakit, kegagalan, sial dan lain sebagainya.

Talino Mantonyek awalnya tinggal di Saroa setelah lari menghindari amarah Maniamas. Dari Saroa ke  Mentonyek. Mentonyek areanya tidak luas. Ada pohon kelampe dan pohon langsat.  Menghadap ke arah Lambu.  dari mentonyek penduduknya berpindah  ke Lambu. Lambu berada di dataran rendah. Dari Lambu  ke ne Titi. Dari ne Titi ke Taboyo (semua tempat yang disebutkan sekarang ini ada di belakang kampung Mentonyek dalam) dari Taboyo ke Timawakng (dataran atas di belakang gereja GKTI  Bukit Zaitun Mentonyek).

Sebenarnya dari Sarowa ke Mentonyek ada ceritanya. Sebelumnya semua damai, semua baik-baik saja. Namun beredar kabar bahwa ada seseorang laki-laki Bugis yang sangat terkenal kesaktiannya. Berbagai senjata tidak mempan melukai tubuhnya. Dengan kesaktiannya  ia dengan bebasnya  meniduri  istri atau anak gadis orang yang diinginkannya. Untuk menghindari segala hal yang tidak diinginkan maka dari Sarowa berpindah ke Mentonyek. 

Dari mana datangnya sosok Bugis itu? Dari Mempawah. Disana ada kerajaan Melayu-Bugis. Mengapa bisa nyasar ke pahokng?  karena untuk ke kerajaan Pakana  harus melewati Pahokng.  Kerajaan Pakana zaman baheula cukup  dikenal luas. 

Bahkan sekelas patih Gajah Mada pun sempat mengundang seluruh masyarakat termasuk dari Saroa untuk hadir memenuhi undangan di Pangkalatn sebelum menuju kerajaan Pakana. Karena  manusia di Saroa tidak hadir maka gajah mada menghamburkan batu larakngatn- diyakini tidak akan jadi apa-apa jika tidak keluar dari Saroa-cikal bakal Mentonyek.

Dari Taboyo berpindah rumah  di  Tinawakng. Dari Timawakng harus berpindah lagi. Berawal saat  penduduk memakan daging monyet yang didapatkan sehabis membakar ladang di bukit sahabat. Musibah pun datang. Setiap keluarga ada yang  saja yang meninggal.  Belum sempat di kubur sudah ada yang meninggal lagi. Tidak tahan dengan situasi itu maka dipanggil seorang Tionghoa  yang pandai bertenung. Tionghoa oleh penduduk di panggil Sobat. Tukang tenang  tubuhnga bangkok.

Ia menenung bahwa yang layak ditempati adalah dari rumah Sibo hingga Antiti.

Dibangunlah rumah di Sibo dan Antiti. Maka orang tua zaman dulu menyebut tempat mukim itu adalah Bongkok  sesuai nama Sobat yang diminta jasanya.
Seiring waktu penduduknya  terus bertambah  dan berkembang.

Di Simpang  Mentonyek  ada keluarga Sobat yang mukim yakni keluarga Asiu, keluarga Amen, dan keluarga Asao.

 Kemudian dari mentonyek(Sibo-Mange)  beberapa keluarga  ikut berpindah ke simpang Mentonyek.

Tahun delapan puluhan ada proyek sosial yang dimotori Pak Iyos. Memilih lokasi di Pate. Pate dulunya hutan. Ada banyak pohon cempedak yang menandainya. Dibangunlah perumahan berblok-blok berdinding  papan, beratap  seng. Nama perumahannya adalah  Pate Jaya -Mentonyek. Penduduknya  gabungan dari berbagai kampung.  Ada dari Mentonyek sendiri, dari simpang mentonyek, dari Totong, Karask, Balida  dll.

Kini kampung Mentonyek dihuni ribuan jiwa.  Areanya luas. Dari kampung berubah menjadi desa Mentonyek yang terdiri dari beberapa dusun. Dulu sebutannya  Mantonye'.  Untuk mempermudah penulisan maka menjadi Mentonyek.  Mentonyek meliputi dusun sahabat, dusun pate Jaya, dan dusun Lirakng. Desa Mentonyek jauh lebih berkembang dari semua Pahokng dalam banyak hal terutama jumlah penduduknya.

Desa Mentonyek adalah  salah satu desa dari 17 Desa yang ada di kecamatan Mempawah Hulu. Ada di wilayah Kabupaten Landak, Kalimantan Barat.

Untuk ke Desa Mentonyek jika dari arah Pontianak melewati Sei pinyuh-Anjungan- Toho-Menjalin- Karangan. Setelah desa  Karangan barulah masuk Desa Mentonyek hingga ke dusun Lirakng.

Desa mentonyek  telah banyak dimuat dalam berita online bahkan ada di youtube dan Tiktok untuk hal-hal yang menginspirasi. Dari desa Mentonyek banyak melahirkan rohaniawan Kristen yang pelayanannya  menyebar ke berbagai Kabupaten yang ada di Kalimantan Barat, Jakarta dan Bandung.

Demikian dikisahkan awal  Mentonyek dan penduduknya. (Paran Sakiu)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url