Sepotong Senja dan Cinta di Katedral Sanggau

 

Gambar hanya hiasan serta pelengkap narasi semata.

Sanggau senja itu diliput cahaya, warna emas kemerah-merahan.

Matahari masih menyisakan biasnya di ufuk barat. Seberkas sinarnya jatuh di antara ujung daun-daun bungur. Sebagian hinggap di atas atap bubungan gereja Katedral Sanggau nan kemilau agung.

Di kejauhan, tampak rona pelangi seperti menghias sejuta mimpi. Cahayanya berpendaran dari tepian sungai Kapuas hingga Jalan Sudirman, di mana megah berdiri gereja Katedral.

Di bumi yang didirikan Daranante dan Bagai Cinga itu dahulu kala.... Sepuluh tahun yang lalu.

Di antara pongahnya suasana kota. Dan lalu lalang kendaraan yang membising arah Sekadau dan Bodok, jalinan kisah asmara yang indah antara Pang Sunge, seorang pemuda Tionghoa, dan Ega Tarigas, seorang gadis Dayakitu pun; terulang. Seperti kembali memutar roda waktu.

Meski hanya satu kali ciuman, kenangan itu terus menghiasi mimpi dan kenangan Pang Sunge selama bertahun-tahun. Keberanian dan perasaan yang mereka ungkapkan pada malam itu menjadikan cinta mereka semakin mendalam meskipun takdir memisahkan mereka setelah perpisahan SMA.

Sepuluh tahun lalu. Mereka adalah dua remaja yang dipertemukan oleh takdir dalam sebuah cinta yang murni dan tulus.

Semasa SMA, Pang Sunge dan Ega Tarigas bersama-sama menjalani hari-hari indah dalam latihan dan kegiatan sekolah. Mereka adalah sahabat dekat yang selalu saling mendukung dan berbagi tawa di antara tangisan dan tawa. Tapi, di balik persahabatan mereka, tersembunyi perasaan cinta yang mendalam di hati masing-masing.

Suatu senja yang spesial, saat perpisahan SMA yang penuh kenangan, Pang Sunge dan Ega Tarigas berjalan pulang bersama. Saat matahari hampir tenggelam, suasana tenang dan kebersamaan itu membuka pintu hati mereka. Tanpa kata-kata, cinta yang tumbuh di antara mereka meledak dalam satu ciuman mesra yang tak terlupakan di bibir Ega.

Meski hanya satu kali ciuman, kenangan itu terus menghiasi mimpi dan kenangan Pang Sunge selama bertahun-tahun. Keberanian dan perasaan yang mereka ungkapkan pada malam itu menjadikan cinta mereka semakin mendalam meskipun takdir memisahkan mereka setelah perpisahan SMA.

Sepuluh tahun berlalu, kehidupan mereka berjalan dengan cerita masing-masing. Pang Sunge telah menjadi seorang pemuda yang sukses di kota besar, sementara Ega Tarigas tetap tinggal di Sanggau untuk mengabdikan diri pada tanah kelahirannya. Namun, takdir mempertemukan mereka kembali pada saat upacara pentahbisan uskup baru di Katedral Sanggau.

Mata mereka bertemu dan dunia seolah berhenti berputar. Cinta masa lalu datang menghampiri mereka kembali. Seperti dalam lagu Panbers yang pernah mereka dengarkan bersama, hati Pang Sunge pun berteriak, "Bila bertemu puaslah hatiku, sebab Ega Tarigas sudah berdua."

Namun, ketika Ega Tarigas berjalan di samping suaminya, Pang Sunge tahu ia telah menjadi seorang istri yang setia dan bahagia. Meski cinta mereka pernah mekar dalam satu ciuman indah, Pang Sunge dengan bijaksana memilih untuk tidak mencuri cinta Ega dari suaminya.

Dalam pandangan mata komuni di Katedral Sanggau, cinta mereka kini telah berubah menjadi kenangan indah yang akan selalu diabadikan dalam hati mereka masing-masing.

Mereka memahami bahwa takdir membawa mereka ke jalan yang berbeda, dan cinta sejati kadang datang dalam bentuk kebersamaan di masa lalu.

Dengan senyuman bahagia, Pang Sunge melepaskan Ega Tarigas dalam doa-doa terbaik.

Keduanya tahu. Bahwa cinta yang pernah ada di antara mereka adalah kenangan yang membahagiakan.

Dan saat ini. Cinta mereka berada di tempat yang berbeda dalam hidup yang masing-masing jalani. *)

Post scriptum: Kisahan ini fiksi semata. Jika terdapat kesamaan dengan kisah nyata Anda, hanya kebetulan belaka.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url