Marion, Iwan Fals-nya Dayak: Mengritik dengan Etika dan Santun

  • Penulis dan Marion (kanan): lirik lagunya kritik sosial. Iwan Fals-nya Dayak.
"Iwan Fals"-nya suku Dayak. 
Tak berlebihan menyematkan julukan itu pada lelaki tambun yang gemar mengenakan topi ala cow boy.

Ia seniman yang dilahirkan dengan bakat alami. Warna pita suara khas. Lantang menyerukan lewat lagu kritik sosial yang faktual, meski terasa pedas. 

Kritik sosial


Kritik sosial disampaikannya lewat syair lagu terkait topik Dayak dan Kalimantan. Sesekali kritiknya menghujam tajam tentang negara yang abai. Kurang perhatian pada Kalimantan. Ibarat orangtua yang memiliki banyak anak, sehingga lupa pada yang jauh.

"Sama-sama satu pulau, tapi mengapa terbang antar-kota di Kalimantan mesti lewat Jakarta?"

Demikian, antara lain kritik cantiknya.

Lengkap nama seniman tadi adalah Marion Hendri. Biasa disapa: Marion saja. Warna musiknya khas. Mirip Iwan Fals. Namun berkarakter. Ia menggunakan kata keseharian, menghanyutkan.

Suaranya membawa pesan sosial dalam harmoni yang menenangkan. Mari kita mengembara melalui cerita tentang kehidupan Marion yang kaya akan budaya Dayak, tentang lagu-lagu yang lahir dari sentuhan tangan ajaibnya, dan tentang perjalanan panjangnya dalam memelihara warisan ini.
Baca Forum Dayak Kalimantan Barat Di Jakarta (FDKJ) Hidupkan Seni Budaya Dayak Di Ibukota

Lahir dan besar dalam dekapan warisan budaya Dayak, Marion tumbuh dengan lagu-lagu tradisional yang dinyanyikan oleh orangtuanya. Melodi-melodi itu seperti mantra yang merasuki hatinya, memanggilnya untuk menjadi duta musik Dayak. Baginya, musik adalah penghubung antara masa lalu dan masa kini, sebuah cara untuk menjaga api budaya tetap berkobar di tengah-tengah masyarakat.

Saluang Kitik-kitik

Pada tahun 1992, Marion meluncurkan lagu pertamanya, "Saluang Kitik-kitik," sebuah karya yang mencuri perhatian dan hati pendengar setempat. Lagu ini adalah perpaduan ajaib antara musik tradisional Dayak dan nuansa modern yang menghipnotis. Melodi yang merdu dan lirik yang memesona dalam bahasa Dayak membuatnya menjadi ikon perjalanan musik Dayak.

Di tengah krisis identitas dan etika yang cenderung makin luntur, cara Marion mengritik menginspirasi perubahan dengan kelembutan yang tak terlupakan.

Keberhasilan "Saluang Kitik-kitik" menjadi sumber semangat bagi Marion untuk terus berkarya. Ia mulai mengeksplorasi harmoni antara instrumen tradisional seperti gendang dan sape dengan alat musik modern seperti gitar dan keyboard. Karyanya mencerminkan semangat alam dan kehidupan sehari-hari suku Dayak, membangkitkan rasa bangga akan warisan budaya yang kaya.

Sejak tahun 1992 hingga saat ini, Marion Hendri telah menjadi pelopor dalam melestarikan dan mempromosikan budaya Dayak melalui musiknya. Prestasinya bahkan membawanya keluar negeri, di mana dia menjadi duta suara Kalimantan Tengah di Brunei, Malaysia, dan Australia. Dalam setiap melodi, Marion membawa damai, menyatu dengan alam, dan memelihara keindahan budaya Dayak yang tak ternilai.

Inilah cerita tentang Marion Hendri, penyanyi yang memeluk Kalimantan Tengah dengan nada-nada harmonisnya, menjaga warisan budaya hidup dalam alunan musiknya yang tenang dan menyentuh.

Mengritik dengan etika dan santun

Marion Hendri muncul seperti "Iwan Fals"-nya suku Dayak, membawa pesan sosial yang kuat melalui syair-syair lagunya. Seperti Iwan Fals, syair-syair Marion lahir dari konteks sosial saat itu, menciptakan getaran yang mengguncang hati pendengarnya. Namun, apa yang membuatnya istimewa adalah caranya yang santun dalam mengkritik isu-isu seperti transportasi, pembangunan, IKN, dan perhatian negara terhadap Kalimantan yang tampaknya kurang.
Baca 

Baca  Panglima Jilah Dan Fenomena Pasukan Merah

Setiap kata dalam syair-syair Marion adalah cerminan dari keadaan sosial yang dialaminya. Ketika lagu-lagu tersebut dirilis dan dinyanyikan, orang-orang merasa terwakili, merasakan bahwa suara mereka didengar melalui harmoni musik Marion. 

Dengan lirik-liriknya yang tegas namun penuh seni, Marion memperlihatkan kepada dunia bahwa kritik sosial dapat disampaikan dengan etika yang santun.

Marion Hendri adalah prototipe orang Dayak yang santun. Ia bukanlah sosok yang meneriakkan kritik dengan keras dan kasar, melainkan seorang penyanyi yang menggambarkan etika yang luhur dalam mengkritik. 

Berbeda dengan citra umum tentang cara dan gaya menyampaikan kritik kepada negara dan pemerintah, Marion memilih jalur yang lebih damai namun tak kalah kuat. Ia memainkan melodi-melodi yang mendamaikan hati sambil mengungkapkan ketidakpuasannya terhadap situasi sosial yang ada.

Dalam harmoni suaranya, Marion Hendri menciptakan ruang untuk dialog yang lebih mendalam tentang isu-isu yang dihadapi Kalimantan dan suku Dayak. 

Marion adalah suara yang mengajak untuk berpikir, merenung, dan berubah tanpa perlu meneriakkan tuntutan. 
Baca Pertambangan Dan Perkebunan Di Kabupaten Sanggau: Tantangan Konsesi

Dalam setiap nadanya, membuktikan bahwa kritik sosial yang tajam bisa datang dalam paket yang santun. 

Di tengah krisis identitas dan etika yang cenderung makin luntur, cara Marion mengritik menginspirasi perubahan dengan kelembutan yang tak terlupakan. (Masri Sareb Putra)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url