Lila

Lila. Dok. Sanggau News.
Yutn roga lila --demikian peribahasa. Pepatah petitih orangtua zaman baheula. Jangankan mendengar. Barangkali Pembaca telah tidak tahu lagi peribahasa itu.

Untuk inilah kanal berita dan informasi Sanggau News ini ada dan berada. Menggali kembali. Menghidupkan sejarah masa lampau. Agar manusia zaman now dan masa yang akan datang, tidak tercerabut dari akar adat istiadat dan budayanya. Atau bahkan yang mengerikan: dikutuk sejarah karena melupakan sejarah itu sendiri. 

Kita tentu ingin belajar sekaligus memetik hikmah dari sejarah. Sebab sebagaimana kata sejarawan dunia Cicero, "Historia magistra vitae est". Sejarah adalah guru kehidupan!

Maka narasi kita kali ini tentang: Lila.
Bagi Anda yang belum pernah mendengar, atau pernah mendengar tapi lupa, baiklah kita buka Kamus Bahasa Indonesia (daring) yang berikut ini: lila1/li·la/ ark n meriam kecil terbuat dari tembaga atau gangsa.

Meriam kecil ini tidak begitu berat dibanding meriam besar. Lila "hanya" sebesar betis manusia dewasa. Bisa dipikul dan dibawa ke mana suka. Beratnya tidak lebih dari 20 kg. Namun, jika "disulap", jangan coba dekat-dekat. Telinga bisa pekak. Bahkan pecah gendangnya saking suara lila itu menderu bagaikan halilitar yang menggetar sekitar.

Lila dahulu kala adalah alat berperang. Tembakannya jarak jauh. Di zaman keraajan, lila hanya milik pusaka raja-raja saja. 

Maka ada peribahasa, saking lila mahal harganya. Jika orang bertransaksi, jual-beli, dan harganya selangit, akan dikatakan, "Yutn roga lila" ->- bagaikan harga lila.

Di muka keraton kerajaan Sanggau dan Sekadau, lila masih bisa dijumpa. Jika ada kesempatan ke sana, Anda akan tahu kisahnya. Bagaimana di alam zaman kerajaan, lila sangat berarti. Dan harganya mahal pastinya.
Baca Sejarah Sanggau

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url