Budaya Borneo

Mengelola Budaya Borneo
Sumber: https://v-images2.antarafoto.com/kesenian-suku-dayak-n75a8i-prv.jpg

Albertus Niagara

Mengelola Budaya Borneo


Bali dan Borneo dilihat dari aspek budaya sebetulnya belum terlihat perbedaan yang signifikan.

Bali bisa diibaratkan buku yang terbuka, disana ada kisah Mahabrata, Ramayana, dan Bagavadgita, yang dituliskan dalam lukisan lukisan, patung patung dan tentu saja buku-buku penelitian. Dan itu kemudian dibuat menjadi patung-patung lukisan-lukisan.

Sementara Borneo masih termasuk wilayah yang belum dikenal (Terra Incognita) dan manusianya pun belum dikenal (Homo Incognita).

Kalau melihat Bali, sebetulnya kita juga memiliki keindahan itu. Tetapi yang menarik di sana adalah apa yang berbau budaya dan kearifan lokal telah menjadi tersurat. Sedangkan Borneo tersirat atau masih melekat dalam tradisi-tradisi lisan.

Belum ditulis, diwawancarai, orang tua belum kita datangi. Dan masih melekat di hutan gunung batu dan sebagainya. Itulah tacit knowledge. Panggilan tugas pecinta dan pegiat literasi menjadikannya explicit knowlwdge, berupa tulisan dan dokumen.

Budaya yang terkait dengan hal tersebut membutuhkan upaya melestarikan, mempertahankan dan membentuk tatanan budaya. Ini akan naik pangkat menjadi sebuah peradaban yang bisa dijual. Salah satunya, untuk aspek pariwisata.

Elemen-elemen kebudayaan masih tersimpan dan tersirat dalam tradisi-tradisi lisan dan terekam pada unsur alam Borneo, seperti di gunung, hutan, tanah, sungai, batu dan lain sebagainya. 

Oleh karena itu, tugas berat masih menanti dan masih banyak tantangan yang dihadapi terkait dengan Borneo, baik pulaunya yang dikenal sebagai Pulau yang tidak berpusat maupun manusianya.

Upaya semacam itu sudah mulai diupayakan sebagai contoh, dengan diselenggarakan kongres internasional budaya Dayak. Dalam acara tersebut juga dilibatkan kalangan akademisi dari beberapa perguruan tinggi yang Borneo. Kemudian membangun jaringan lebih luas dengan Borneo study network (Jaringan Seborneo) termasuk Dayak yang di luar negeri.

Sekali untuk mewujudkan Borneo maju dibutuhkan sinergi seluruh pihak.

Albertus adalah seorang peneliti Dayak yang telah lama meneliti Dayak di Borneo bersama LitBang Provinsi Kalimantan Barat, Balai Pelestarian Nilai Budaya Pontianak, LIPI Jakarta, Institute Dayakologi Pontianak, dan NARMAC Institute.*)

 


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url