Forum Dayak Kalimantan Barat Jakarta (FDKJ) Bikin Buku Jelang Gawai Dayak di Jakarta

Ini baru berita! 

Bukan orang Jakarta yang ikut gawai di Kalimantan Barat. Sebaliknya, orang Dayak dari Kalimantan Barat yang bikin acara gawai di Jakarta.
Baca Daranante, Wangsa Majapahit Dari Labae Lawae (Sukadana)

Leo Oendoen, sebagai ketua umum Forum Dayak Kalimantan Barat Jakarta (FDKJ) disokong oleh saudara-saudaranya, terutama Kathrine Angela Oendoen dan warga Dayak Kalbar di Jakarta serta pengurus 
FDKJ saat ini telah pun memutuskan. Selain mengadakan gawai dan fesvital budaya dan kuliner Dayak di Jakarta, FDKJ memutuskan untuk menulis sejarah diaspora Dayak Kalbar di Jakarta dari "semula jadi", era Palaunsoeka tahun 1960-an hingga kiwari (2023). Bilangan orang Kalbar di Jakarta lebih dari 3.000.

Bisa hidup, survive, bersaing, berkembang, bahkan luar biasa di Jakarta ini jauh lebih bernilai dan mulia daripada sekadar atribut dan slogan, "Dayak ganteng".

Adalah pegiat literasi, sekaligus penulis buku asal Karangan, Paran Sakiu yang dipercaya meneliti sejarah diaspora Dayak Kalbar di Jakarta. Ia merangkai peristiwa itu menjadi narasi yang kronologis. Menjadi babakan demi babakan (Bab). Selanjutnya, menjadi buku yang utuh gagasan maupun peristiwanya saling terkait. Itulah buku!

Paran Sakiu, sang penulis buku sejarah FDKJ.

Naskah buku dibantu editingnya oleh pekerja media dan praktisi perbukuan nasional asal Jangkang, Masri Sareb Putra.

Buku yang dirancang terbit jelang Gawai Dayak di Jakarta yang digelar akhir Juli 2023 ditulis dan dicetak sesuai dengan standar nasional, utamanya Kompas-Gramedia. Baik kualitas konten, pedoman umum ejaan bahasa Indonesia (PUEBI), pengkalimatan, akurasi, keterbacaan maupun cetakan dan jilidnya; standar kualitas sempurna.

Ilustrasi cover buku itu adalah rumah panjang Dayak Kalbar. Merepresentasikan Dayak Kalbar diaspora di Jakarta yang tetap ingat akan akar budayanya. Itulah: Rumah kita.


Terbitnya buku ini bukan saja menandai gawai Dayak di Jakarta. Lebih dari itu, ia adalah legasi. Saksi bahwa Dayak pun eksis. Bisa hidup dan survive di mana saja, terutama bersaing di tengah-tengah keras dan kejamnya hidup di Jakarta yang konon katanya ibukota lebih kejam daripada ibu tiri.

Bisa hidup, survive, bersaing, berkembang, bahkan luar biasa di Jakarta ini jauh lebih bernilai dan mulia daripada sekadar atribut dan slogan, "Dayak ganteng".*)
Baca Sejarah Sanggau
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url