Masri Sareb - Amon Stefanus: Pertemuan Duo Penulis Dayak Penuh Inspirasi di Sebuah Warkop Ketapang

 

Masri Sareb (kiri) dan Amon Stefanus: berliterasi di mana saja, bisa!

Penulis: Amon Stefanus

SANGGAU NEWS: "Jadi ke Ketapang kah Bang Masri?' tanyaku lewat pesan Whashapp.

"Jadiiii, ini lagi otw Ketapang naik pesawat yang jam 10. Kontak-kontak ya," jawabnya.
"Oh ya, sampai ketemu," kataku.
"Ketemu sampai!" jawabnya lagi.
"Menginap di mana?" tanyaku lagi.
"Hotel Borneo.." jawab Bang Masri.
"Ada bawa buku Dayak Jangkang kah?" aku menanyakan salah satu buku yang ia tulis.
"Saya belum sempat nih, karena berat bawa buku Patih, 47 kg."
"Oh ya, pakai bagasi kalau begitu," kataku.

Bermula dari pesan WA

Itu dialogku dengan Masri Sareb Putra, penulis buku Seri 101 Tokoh Dayak pada Jumat, 3 Mei lalu. Ia datang ke Ketapang dalam rangka menghadiri acara peresmian Balai Kepatihan Jaga Pati Laman Sembilan Domong Sepuluh, di Gang Kelapa Gading, Kelurahan Sukaharja, Kecamatan Delta Pawan, Ketapang.
Kemarin ketika sedang jalan pagi, aku wa lagi apakah Masri masih ada di Ketapang atau sudah pulang.
"Belum pulang kah?"
"Belum, besok. Hari ini launching buku Sumpah Patih Jaga Pati"
"Jam berapa?"
"Jam 8. Ikut ya nanti namamu kusebut"
"Aduh...pas lagi mengajar ni sampai jam 9"
Ternyata hari ini Masri masih berada di Ketapang. Pagi tadi ia ikut misa di Katedral jam 08.00. Lewat wa ia mengatakan bahwa tadi ia melihat saya. Hanya saya tidak melihatnya. Ia juga bercerita tadi pagi sehabis misa bertemu Uskup Ketapang, Mgr. Pius Riana Prapdi.
Tadi pukul pukul 18.30 saya bisa ketemu sang penulis di Hotel Borneo. Saya diajaknya minum kopi di sebuah warung di Jl. R.A. Kartini. Di situ kami ngobrol sambil minum kopi. Dari hotel ia sambil menenteng laptop. Rupanya ia sedang memonitor pertandingan bulu tangkis antara Jonathan Christi dan pemain Cina Li Shi Feng.
Kami banyak ngobrol terutama tentang dunia kepenulisan. Kami mengobrol sampai pukul 20.30 WIB ketika Jojo berhasil mengalahkan Li Shi Feng pada final Piala Thomas 2024 di Chengdu, Tiongkok.

Siapa Masri?

R. Masri Sareb Putra lahir dan dibesarkan di Jangkang Benua, sebuah desa indah di kecamatan Jangkang, Kabupaten Sanggau, yang terletak di Provinsi Kalimantan Barat. Setelah menyelesaikan pendidikan menengah atas di Sekadau, panggilan ilmu mendorongnya untuk melangkah lebih jauh.
Jejaknya membawa ia ke kota Malang, tempat di mana ia menimba ilmu filsafat dan teologi di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana. Namun, perjalanan akademisnya tidaklah terpisah dari semangat jurnalistiknya. Di antara kuliahnya, ia menjadi tulang punggung berita kota untuk harian Suara Indonesia di Malang, membantu mengisi halaman kota dengan berita-berita penting.

Tidak puas hanya di situ, Masri bersama dengan pengarang senior Dwianto Setyawan membangun dan mengelola sebuah majalah komunitas yang berbasis di kota Batu, Gempar, antara tahun 1985 hingga 1987.
Kemudian, perjalanan pengabdiannya membawanya ke Surabaya, di mana ia terlibat dalam pengelolaan Busos (buletin sosial) untuk majalah yang diterbitkan oleh sebuah yayasan. Pengalaman itu tidak hanya memperkaya wawasan sosialnya, tetapi juga menambah panjang jejaknya sebagai seorang penulis.
Dari Surabaya, langkahnya mengarah ke Jawa Timur di mana ia menjadi koresponden untuk majalah Hidup sebelum naik menjadi redaktur pada tahun 1990. Dan ia juga menjadi bagian dari jaringan wartawan UCANews.
Sejak tahun 1984, kata-katanya telah menyapa pembaca melalui berbagai media ternama seperti Kompas, Jawa Pos, Surya, Tamasya, Suara Merdeka, Surabaya Post, Wawasan, dan berbagai majalah serta media pendidikan lainnya. Artikel, feature, cerpen, dan resensi yang ditulisnya, dengan setia ia kumpulkan dalam kliping, mencapai jumlah yang mengesankan, yaitu 4.004 tulisan.
Hingga Mei 2024, waris intelektualnya telah mencapai 158 buku. Karya-karya yang merefleksikan kedalaman wawasannya dan cinta yang mendalam akan sejarah dan budaya Dayak. Salah satu bukunya, "Dayak Djongkang" pada tahun 2010, terpilih sebagai salah satu pemenang dalam program Insentif Buku Ajar Perguruan Tinggi yang diselenggarakan oleh DP-2M Dikti, Depdikbud.
Tahun 2014 menjadi tonggak penting dalam karirnya, ketika bersama Gumelar, ia menulis dan menerbitkan "Ngayau", sebuah novel berdasarkan sejarah suku bangsa Dayak. Dan pada tahun yang sama, ia melahirkan sebuah karya epik lainnya, "Keling Kumang".

Profilnya ada di Wikipedia: Masri Sareb Putra

Sumpah Kedaulatan Dayak Patih

Namun, kegigihannya tidak berhenti di situ. Dalam setiap kata yang ia tulis, ia terus menggali kekayaan budaya Dayak. Buku terbarunya, "Sumpah Kedaulatan Dayak Patih Jaga Pati Raden Cendaga Pintu Bumi Jaga Benua ALEXANDER WILYO", yang ditulis bersama Thomas Tion Sution, merupakan bukti dari komitmennya terhadap warisan budaya yang kaya.
Selain menjadi penulis yang produktif, Masri juga berperan penting dalam mengembangkan Sastra Budaya Dayak. Bersama rekan-rekannya, Herkulana Mekarryani dan Surianyah Murhaini, ia mendirikan Penerbitan Lembaga Literasi Dayak (LLD) pada tahun 2016, sebagai wadah untuk menghidupkan dan memperkenalkan sastra Dayak kepada dunia.
Kini, peran barunya sebagai Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (Puslitdianmas) di Institut Teknologi Keling Kumang (ITKK) di Sekadau.
Peran ini menegaskan bahwa Masri tetap setia pada akarnya, sembari terus berkembang dalam melayani masyarakat dan budaya Dayak yang ia cintai.

Sukses selalu Master!

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url