Gerakan Mahasiswa Masa ke Masa: Bagaimana 2024?


Gerakan mahasiswa 2024, masihkah murni? 

Dalam arti, gerakan itu muncul dari dalam, tanpa ditunggangi kepentingan dan oleh siapa pun? Seperti halnya gerakan mahasiswa tempo dulu, yang benar-benar menyuarakan hatinurani rakyat? Sedemikian rupa, sehingga perlahan, bergulir, menjadi gerakan sosial masyarakat seluruh Indonesia?

Jelang Pilpres/wapres 2024, mahasiswa bergolak. Dosen-dosen dan profesor turun kampus. Namun, sebagian masyrakat mencibir. 

"Sebaiknya urus saja kampus. Yang akreditasinya belum baik, menjadi baik sekali. Benahi saja internal kampus, di mana juga banyak tepapar paham radikalisme, yang membahayakan dan mengancam kesatuan dan keselamatan bangsa ini."

 Dan seterusnya. Kritik yang bertubi-tubi menghujam kepada kalangan kampus.

Dan kini isu Uang Kuliah Tunggal (UKT) berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Permendikbud) Nomor 55 Tahun 2013 sedang marak dan hangat. Apa tanggapan. Sekaligus gerakan mahasiswa?

Ada yang serupa. Namun, banyak perbedaannya. Perbedaan itu ada pada motivasi gerakan dan vested interest. Aapakah inti-gerakan benar-benar merupakan pancaran dari jiwa dan merupakan masalah masyarakat-bangsa seluruhnya?

Gramedia: menulis dari dalam

Pada tahun 1988, di tengah semangat perubahan yang menggebu di Indonesia, tiga intelektual termasuk penulis narasi ini diberi tugas khusus oleh pimpinan di Kompas Gramedia. Mereka diminta melakukan riset, menulis, dan menerbitkan buku ini.

Mengapa memilih “penulis dari dalam”? 

Selain karena kecepatan dan kualitas, penulisan “dari dalam” berusaha menghindari bias, berupaya netral, dan mendasarkan pada dokumen sejarah. Tujuannya adalah mencatat fakta-fakta secara objektif.

Tim penulis ditugaskan menangkap dan merangkum esensi serta latar belakang Gerakan Mahasiswa dari berbagai era. Tugas ini tidak mudah, memerlukan ketekunan dan kecerdasan intelektual. Mereka memperkaya diri dengan dokumen sejarah untuk memahami semangat perjuangan secara mendalam.

Dokumen Arsip KITLV

Sebelum mulai menulis, kami memutuskan melakukan perjalanan intelektual dengan menelusuri majalah-majalah kampus dari seluruh Indonesia. Di antara tumpukan halaman, kami menemukan majalah-majalah kampus dari Institut Teknologi Bandung (ITB) yang dikenal sebagai “kampus intelek” dan “kampus perjuangan”. Majalah-majalah ini memuat pemikiran progresif dan semangat perlawanan.

Dari mana bahan-bahan sejarah diperoleh? Kami mendapat banyak dokumen dari rekan dan sahabat Belanda, Jaap Erkelens, yang merupakan arsip KITLV. Lembaga ini didirikan pada 1851 dan mengkhususkan diri dalam pengumpulan informasi serta penelitian tentang bekas koloni Hindia Belanda dan wilayah sekitarnya.

Selama berbulan-bulan, kami tenggelam dalam literatur kampus dan mulai merangkum pengetahuan menjadi narasi yang mendalam dan berwarna. Setiap kata yang ditulis menjadi semacam doa, menyalurkan semangat dan keberanian mahasiswa yang telah membentuk sejarah perubahan di Indonesia. Buku yang dihasilkan menjadi jendela waktu, membuka era mahasiswa yang penuh gairah dan idealisme.

Wawancara dan Tanggapan

Untuk memperkaya wawasan sejarah, kami juga mewawancarai tokoh-tokoh Gerakan Mahasiswa tahun 1974 seperti Sjahrir dan Arif Budiman, serta tokoh Gerakan Mahasiswa 1977 seperti Rizal Ramli dan Hilal Hamdi. Penulis, intelektual, dan pengamat politik waktu itu seperti Mochtar Pabottingi juga berkontribusi.

Ketika buku diluncurkan, tanggapan yang diterima luar biasa. Buku ini tidak hanya menjadi kumpulan fakta sejarah tetapi juga menyalakan semangat perjuangan dalam benak pembacanya, membangkitkan diskusi dan semangat keadilan serta kebebasan di masyarakat.

Evolusi Gerakan Mahasiswa

Buku ini merinci sejarah Gerakan Mahasiswa Indonesia dari 1971 hingga 2024, menggambarkan fase-fase kritis yang mencerminkan semangat perubahan. Peristiwa penting termasuk:

  1. 1974 (Malari): Mahasiswa berdiri di garis depan melawan kebijakan yang dianggap merugikan rakyat, menunjukkan keberanian menghadapi ketidakadilan.
  2. 1977 (Menolak pencalonan kembali Soeharto):Mahasiswa menolak dukungan terhadap pencalonan kembali Presiden Soeharto, menunjukkan peran mereka sebagai agen perubahan.
  3. 1998 (Menuntut Soeharto mundur): Puncak perlawanan terhadap rezim otoriter dengan mahasiswa sebagai katalisator perubahan politik, menggiring menuju reformasi.
  4. 2024 (Menuntut etika politik): Mahasiswa memperjuangkan etika politik, meskipun tidak semua bergerak serentak. Gerakan ini menandakan mahasiswa tidak hanya memperjuangkan legalitas tetapi juga moral dan etika dalam politik.

Buku ini menyoroti evolusi Gerakan Mahasiswa. Mencerminkan variasi dalam pendekatan dan tujuan.

Meskipun gerakan mahasiswa dari 1971 hingga 1988 memiliki kesamaan dalam semangat perubahan, pendekatan dan dinamika gerakan bervariasi tergantung pada konteks sejarah dan tuntutan khusus setiap periode. 

Buku ini mengajak pembaca memahami sejarah gerakan mahasiswa dan perbandingannya dengan gerakan masa kini.

-- Masri Sareb Putra

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url