Joki Kuliah S-2 di Untan Menciderai Etika dan Karakter Perguruan Tinggi

Sumber gambar: https://assets.promediateknologi.id

SANGGAU NEWS : "Heboh Joki Kuliah S-2 di Untan, Pejabat tak Penah Kuliah tapi nilai "Aman" -demikian judul berita yang menggemparkan, sekaligus menggugah etika keilmuan dan menciderai dunia pendidikan tinggi di negeri ini.

Baca Heboh Joki Kuliah S2 di Untan, Pejabat Tak Pernah Kuliah Tapi Nilai “Aman”

Berita tentang joki kuliah dan pejabat yang tidak memiliki riwayat pendidikan formal yang sah, namun mendapatkan nilai dengan cara yang tidak jujur, telah menimbulkan kegemparan di kalangan masyarakat dan komunitas akademik. 

Kasus ini terjadi di Universitas Tanjung Pura (Untan) di Pontianak, Kalimantan Barat, yang merupakan salah satu perguruan tinggi terkemuka di wilayah tersebut.

Untan jadi sorotan

Kejadian ini tidak hanya menjadi perbincangan hangat di media massa, tetapi juga menjadi sorotan dalam konteks etika keilmuan dan integritas akademik. 

Penggunaan joki kuliah untuk mendapatkan gelar S-2 tanpa melalui proses pembelajaran yang sesungguhnya telah menciderai prinsip-prinsip dasar pendidikan tinggi yang seharusnya didasarkan pada kerja keras, kejujuran, dan dedikasi terhadap ilmu pengetahuan.

Hal yang lebih memprihatinkan adalah fakta bahwa pejabat-pejabat tertentu, yang seharusnya menjadi contoh dan teladan dalam mendorong integritas akademik, ternyata terlibat dalam praktik-praktik yang merugikan tersebut. 

Prakttik curang pengelolaan perguruan tinggi seperti ini menimbulkan pertanyaan serius tentang transparansi, akuntabilitas, dan etika kepemimpinan di lingkungan akademik dan administratif.

Reaksi publik atas kasus ini mencerminkan ketidakpuasan dan kekecewaan yang mendalam terhadap sistem pendidikan tinggi yang dianggap telah merosot dalam menjaga standar etika dan integritas. 

Banyak pihak menyoroti bahwa tindakan seperti ini tidak hanya merusak citra Untan sebagai institusi pendidikan, tetapi juga mencoreng martabat pendidikan tinggi secara umum.

Dosa sosial: Pendidikan tanpa karakter

Apa yang terjadi di Untan ini sebagaimana yang dikatakan oleh Gandi bahwa satu dari 7 dosa sosial yakni "Pendidikan tanpa karakter".

Mahatma Gandhi, salah satu tokoh paling dihormati dalam sejarah India yang dikenal karena perjuangannya dalam memperjuangkan kebebasan, perdamaian, dan nilai-nilai kemanusiaan.

Dalam kasus joki kuliah di Untan, praktik tersebut jelas merupakan bentuk dari "Pendidikan tanpa karakter". Proses pembelajaran yang seharusnya menjadi wadah untuk membentuk karakter dan integritas akademik justru dimanipulasi demi keuntungan pribadi atau prestise semu. Ini tidak hanya merusak integritas institusi pendidikan, tetapi juga menciderai nilai-nilai moral yang seharusnya menjadi landasan dari setiap proses pendidikan.

Dengan menggunakan terminologi Gandi tentang "Pendidikan tanpa karakter", kita bisa melihat bahwa kasus di Untan adalah contoh nyata dari bagaimana pendidikan tinggi dapat menyimpang dari tujuan mulianya untuk membentuk individu yang bertanggung jawab, jujur, dan berintegritas. 

Oleh karena itu, perlu adanya perbaikan mendalam dalam sistem pendidikan untuk memastikan bahwa nilai-nilai moral dan etika tidak hanya diajarkan, tetapi juga dijunjung tinggi dan diamalkan dalam setiap aspek kehidupan akademik dan sosial.

  • Rangkaya Bada

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url