Yunitha Andrie: Satu Hari, Satu Bungkus Mie

 

  • Yunitha anggun sebagai wanita Dayak "bawi itah" dalam busana khas etnis.
Cerita hidup seseorang seringkali menjadi bagian dari perjalanan yang menginspirasi. 

Namun, kisah Yunitha Andrie melampaui sekadar inspirasi; ia adalah perwujudan dari ketekunan, keberanian, dan tekad yang mengubah arah hidupnya.

Terlahir sebagai putri kedua dari empat bersaudara, Yunitha memulai perjalanannya di dunia ini pada tanggal 6 Juni 1974. Sejak awal, ia telah memiliki tekad yang kuat untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas. Setelah menamatkan pendidikan menengahnya di SMAN 1 Katingan Tengah pada tahun 1991, Yunitha meneruskan studinya di Universitas Palangka Raya, tempat ia meraih gelar sarjana pada tahun 1997.

Namun, ia merasa bahwa pendidikannya masih belum mencapai puncaknya. Dalam langkah yang sangat berani, ia memutuskan untuk melanjutkan studi ke jenjang pascasarjana dalam bidang Pendidikan Kimia di Universitas yang sama. 

  • Yunitha aktif di Dewan Adat Provinsi Kalimantan Tengah.
Dalam waktu singkat, hanya 1 tahun 8 bulan, Yunitha menyelesaikan program ini dengan prestasi luar biasa, dengan IPK mencapai 3,8. Ini adalah bukti bahwa kegigihan dan ketekunan seorang perempuan mampu mengukir prestasi gemilang di dunia akademis.

Salah satu babak penting dalam hidup Yunitha adalah ketika ia mengambil keputusan berani untuk berhenti mengajar di sebuah SMA. Ia merasa bahwa tantangan telah hilang dari pekerjaannya sebagai guru, dan kurikulum terasa seperti berada dalam stagnasi. 

Dalam 12 tahun pengajarannya, ia sudah sangat menguasai materi yang diajarkan. Namun, bukannya berhenti begitu saja, Yunitha ingin memberikan kontribusi yang lebih besar dalam dunia pendidikan. Meskipun banyak yang meragukan keputusannya, ia tetap teguh dan bersemangat.

Yunitha Andrie tidak hanya berhenti di sana. Ia merasa bahwa Indonesia kekurangan guru kimia, terutama yang memiliki gelar S-2. Ia tidak hanya menjadi staf umum di Inspektorat, melainkan juga dipercaya menjadi Kepala Kasi Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup. Kemudian, perjalanan kariernya membawanya ke posisi Kepala Seksi Kelembagaan dan Sarana Prasarana SMP Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya.

Selain prestasi dalam karier dan pendidikan, Yunitha juga aktif dalam kegiatan alumni Pasca Kimia Universitas Palangka Raya, di mana ia memegang jabatan sebagai Ketua. Namun, di tengah semua prestasinya, ada satu kenangan indah yang tidak pernah ia lupakan dari masa kecilnya. 

Ketika ia berusia 4,5 tahun, ayahnya dengan penuh kasih menggendongnya ke sekolah. Ini adalah momen yang memberikan dorongan bagi Yunitha untuk selalu mencari jalan untuk terus berkembang. Ia belajar keras dan meraih peringkat tertinggi dalam setiap tingkatan pendidikannya, hanya dua kali meraih peringkat kedua.

Kedua orang tuanya adalah pahlawan sejati dalam hidupnya. Ayahnya, seorang PNS dengan golongan rendah, memiliki visi yang kuat. Di sisi lain, ibunya adalah sosok yang sangat disiplin dan tegas. 

Kombinasi karakter kedua orang tuanya membentuk Yunitha dan saudara-saudaranya menjadi individu yang penyayang namun memiliki kekuatan, semangat juang, dan kemampuan untuk hidup sederhana.

Pendidikan selalu menjadi prioritas dalam keluarganya, dan orang tuanya selalu bekerja keras untuk memastikan bahwa anak-anak mereka mendapatkan pendidikan yang terbaik. Mereka tidak pernah kekurangan dalam hal biaya sekolah. Bahkan ketika Yunitha kuliah, ia tidak pernah meminta uang tambahan dari orang tua, meskipun ia hanya mampu makan mie setiap harinya.

Hobi menyanyi
Di sela-sela tugas dan pekerjaan sebagai ibu rumah tangga, Elle punya hobi lain. Menyanyi salah satunya. Meski sekadar hobi, dan lebih banyak nyanyi di kamar mandi, suatu kali ia tampil di tivi. Itu pun, dalam acara reuni kecil SMPN 1 Katingan Tengah. Elle tampil bersama sesama alumni menyanyi di acara Tembang Kenangan TVRI Kalimantan Tengah.

  • Live show: Menyanyi di acara Tembang Kenangan TVRI Kalteng.
Lagu yang dilantunkannya ciptaan Pance Pondaag, Kucari Jalan Terbaik. Meski pertama kali tampil di muka kamera, suara dan gayanya boleh dikatakan oke juga. Meski seperti diakuinya, Deg-degan. Keringat dingin. Latihannya berkali-kali, sampai gugup.

Dan memang acara tembang lawas di layar kaca petang 6 Februari itu tak akan terlupa. Sesudah itu, ada yang mintanya tampil lagi. Menampikkah Elle?

Senantiasa deg-degan sih tampil di layar kaca. Tapi saya berusaha, katanya seraya bercerita bahwa dengan tampil sekali itu di tivi ternyata membawa efek luar biasa.*)



Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url