Nuansa Bali Pulau Borneo (1): Menikmati Upacara Pawintenan di Desa Batu Nindan, Kabupaten Kapuas

  • Pemangku I Nyoman Kadra  sedang nganteb Upacara Melaspas. Dok. Ni Wayan Gateri.

Preambul:
Borneo, yang luasnya dihitung degan mil adalah 287.000 kilometer persegi. Luasan pulau yang dikenal sebagai Kalimantan ini dua kali lipat luas Jerman yang terhampar di benua Eropa. Jadi, Borneo memang "tanah pusaka yang kaya". Siapa saja boleh menetap di  insula terbesar ketiga dunia, dengan menjunjung langit ketika memijak buminya.

Mencermati fenomena integritas-harmonis eksistensi Hindu Bali di Borneo, SanggauNews melakukan eksplorasi. Setelah berkunjung ke Mentaren, dan Desa Batu Nindan, Kabupaten Kapuas. Semuanya di Kalimantan Tengah.
Hasil pengamatan, akan ditulis dalam 10 tulisan mulai hari ini.
Selamat mengikuti. 
Salam literasi!

Tahukah kamu ada Desa Bali di Kalimantan?

Mentaren di Kalimantan Tengah, salah satu yang terkenal. Desa ini adalah "Bali di Pulau Borneo".

Selain Mentaren, ada sebuah desa Bali di Kalimantan. Namanya Desa Batu Nindan. 

Dari perspektif sejarah, Desa Batu Nindan terletak di Kecamatan Basarang, Kabupaten Kapuas, dan dibangun bersamaan dengan pembangunan Anyir Serapat pada tahun 1954. 

Awalnya, Desa Batu Nindan bukan merupakan desa transmigrasi, tetapi disebut sebagai zona bebas. Zona ini dimiliki oleh masyarakat asli suku Banjar dan Dayak Kalimantan Tengah. Pada awalnya, desa ini dihuni oleh suku Dayak dan suku Banjar.

Masyarakat suku Dayak dan suku Banjar kemudian meminta kepada pemerintah setempat agar tidak semua wilayah Kecamatan Basarang dijadikan desa transmigrasi. Mereka berharap agar desa ini tetap dimiliki oleh putra daerah sendiri. 

Akan tetapi, seiring berjalannya waktu. Maka tanah milik masyarakat Batu Nindan akhirnya dijual kepada pendatang dari suku Jawa dan suku Bali. 

Seiring perkembangan waktu, Desa Batu Nindan tumbuh dan dihuni oleh sekitar 60% umat Islam, 39% umat Hindu, dan 1% umat Kristen.

Ada Desa Bali di Kalimantan. Akankah ada Desa Dayak di Bali?

Awalnya, sarana transportasi utama masyarakat Batu Nindan adalah sungai. Namun, seiring dengan pesatnya perkembangan ekonomi, jalan darat dibangun. Saat ini, penduduk Desa Batu Nindan yang tinggal di sekitar sungai Kapuas telah beralih ke daratan dekat dengan jalan raya dan menggunakan jalan darat sebagai sarana transportasi utama.

Desa Batu Nindan memiliki penduduk yang terdiri dari berbagai suku, termasuk suku Jawa, suku Bali, suku Banjar, suku Dayak, suku Flores, dan suku Alor. Mayoritas penduduk Desa Batu Nindan menganut agama Islam. Diikuti oleh agama Hindu sebagai agama kedua. Jumlah penduduk Desa Batu Nindan kira-kira sekitar 487 keluarga.

Upacara Pawintenan
Di Desa Batu Nindan, ada perayaan Upacara Pawintenan oleh umat Hindu. Mereka menghias dengan daun, bunga, dan air.

Dalam agama Hindu, ada pemimpin rohani yang disebut Pemangku. Mereka harus menjalani upacara khusus, yakni pawintenan, sebelum memimpin upacara keagamaan.

Sayangnya, pengetahuan tentang Upacara Pawintenan masih terbatas. Oleh karena itu, seorang akademisi ingin menulis buku agar masyarakat dapat lebih memahaminya.

Saat ini, budaya kita terpengaruh oleh budaya luar karena globalisasi. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menjaga budaya kita, termasuk Upacara Pawintenan.

Pemangku dalam agama Hindu menggunakan perlengkapan khusus seperti Banten Saraswati dan Tataban, yang memiliki makna penting dalam agama Hindu.

Pada masyarakat Hindu, tradisi melibatkan Pendeta atau Pinandita/Pemangku dalam pelaksanaan upacara yajna, baik yang besar maupun kecil, telah menjadi suatu hal yang umum. Pinandita atau Pemangku memiliki peran krusial sebagai perantara antara penyelenggara upacara yajna dan Tuhan. Dalam konteks ini, Pemangku bertindak sebagai pemimpin upacara yang bertugas menuntun dan menyelesaikan upacara (nganteb).

Penggunaan Pemangku sebagai pemimpin upacara sudah menjadi tradisi yang berakar kuat dalam masyarakat Hindu. Ini terjadi karena masyarakat Hindu terbagi dalam berbagai kelompok profesi, dan kelompok Brahmana memiliki pemahaman mendalam tentang ajaran agama, termasuk tatacara beragama dan upacara keagamaan. Oleh karena itu, Pemangku memiliki peran yang sangat penting dalam menjalankan upacara.

Selain dalam upacara besar, Pemangku juga terlibat dalam kegiatan upacara harian dan upacara kecil yang biasa dilakukan oleh umat Hindu sendiri tanpa bantuan Pendeta atau Pemangku. Mereka memainkan peran penting dalam menjaga dan menjalankan tradisi agama Hindu dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam konteks Desa Batu Nindan, Kecamatan Basarang, Kabupaten Kapuas, implementasi upacara pawintenan sangat penting bagi umat Hindu. Pemangku sangat dibutuhkan, terutama dalam upacara seperti odalan, otonan, tiga bulanan untuk anak-anak, potong gigi, upacara bhuta yajna, dan pitra yajna. Dengan peran Pemangku yang kuat, tradisi agama Hindu dapat tetap terjaga dan dilaksanakan dengan baik dalam masyarakat Desa Batu Nindan.

Untuk menjaga budaya Hindu di masa depan, kita perlu mendukung Upacara Pawintenan dan peran Pemangku agar budaya kita tetap hidup dan kaya.

Ada Desa Bali di Kalimantan. 

Akankah ada Desa Dayak di Bali?*)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url