Kelopak Mawar yang Terkoyak - Cerpen Rangkaya Bada

Hujan rintik-rintik turun dari langit kelabu. Mengiringi langkah lembut Naura yang berjalan sendirian di trotoar kota. Suasana begitu syahdu, seolah-olah alam turut merasakan kerinduan dalam hatinya. 

Naura telah menjalani hidupnya dengan penuh tantangan. Salah satu kenangan pahit yang selalu membayangi adalah pertemuannya kembali dengan Rizal. Pria yang pernah menyakitinya begitu dalam.

Tiga tahun yang lalu, Naura memilih untuk mempercayai Rizal sepenuhnya. Namun, pilihan itu berbuah luka dan kecewa. Rizal ternyata telah berpaling dan menyakiti hati Naura dengan cara yang tak terduga. Namun, meskipun luka itu begitu menyakitkan, Naura memutuskan untuk bangkit dan melanjutkan hidupnya.

Hari itu, takdir sepertinya mempertemukan mereka lagi. Naura berhenti di sebuah kafe. Ia berusaha menyembunyikan perasaan kagetnya ketika melihat Rizal duduk sendirian di sudut ruangan. Rizal terlihat lebih tua dan lebih dewasa, tetapi tatapannya masih sama tajamnya seperti dulu.

Sejenak mereka saling menatap, tak ada kata yang terucap. Namun, keheningan itu akhirnya pecah oleh Naura, "Hai, Rizal."

Rizal tersenyum pahit, "Hai, Naura. Lama tidak bertemu."

Naura merasakan perasaan campur aduk dalam hatinya. Ada keinginan untuk mengungkapkan betapa sakit hatinya dulu, namun juga ada rasa ingin melupakan dan melangkah maju. "Ya, memang sudah lama."

Mereka pun duduk berhadapan, dan dalam percakapan singkat itu, mereka mulai mengobrol tentang perjalanan hidup masing-masing. 

Rizal menjelaskan bahwa dia telah belajar banyak dari kesalahannya dan merasa menyesal telah menyakiti Naura. 

Naura, di sisi lain, bercerita tentang bagaimana dia akhirnya mampu bangkit dari luka masa lalu. Dan menemukan banyak momen bahagia dalam hidupnya.

"Ternyata, meskipun awalnya penuh luka, hidupku memberiku banyak pelajaran berharga dan momen indah yang tak tergantikan," ucap Naura dengan senyum tulus.

Rizal mengangguk, "Aku merasa bangga melihatmu menjadi sosok yang begitu kuat dan bijaksana."

Waktu berlalu begitu cepat, dan mereka melanjutkan percakapan mereka dengan cerita-cerita yang menghangatkan hati. Naura menyadari bahwa dia tidak lagi merasakan dendam terhadap Rizal. Sebaliknya, dia merasa lega karena telah memaafkan dan membiarkan masa lalu menjadi bagian dari perjalanan hidupnya yang membentuknya.

Ketika mereka berdua berdiri untuk pergi, Rizal mengulurkan tangannya, "Maafkan aku, Naura, atas segala luka yang pernah kubuat."

Naura tersenyum dan dengan tulus meraih tangan Rizal, "Aku sudah memaafkanmu, Rizal. Kita semua pernah melakukan kesalahan. Yang penting adalah bagaimana kita belajar dan tumbuh dari situ."

Perjumpaan tak terduga itu meninggalkan kedamaian dalam hati mereka masing-masing. Keduanya telah menemukan cara untuk melepaskan beban masa lalu dan mengambil hikmah dari pengalaman pahit yang pernah mereka alami. 

Hidup terus berjalan. Dan dalam setiap langkah. Mereka mengenang bahwa di antara luka, ada bahagia yang tak ternilai.*)


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url