Obituari Bertha - Cerita Bersambung (4)


                                                                # 2

Misteri Lelaki Pertama

Berambut Perak

ESCORT.

Tahu terminologi itu? Awalnya, aku pun gak ngeh. Andai saja Bertha tak membuka Johari Windows (JH)-nya.

Nah, istilah apa lagi itu? Ya, pada galibnya setiap orang punya JH. Kamus yang didapat dalam psikologi komunikasi untuk menyebut sisi-sisi kehidupan seseorang yang hanya dia saja yang tahu dan orang lain tidak tahu. Atau sisi kehidupan yang hanya seorang dan seseorang lain yang tahu.
Baca kisahan sebelumnya Obituari Bertha - Cerita Bersambung (3)

Jujur, setiap orang punya JH. Kadang, dibawa sampai ajal. Dan sejak bertukar PIN BB dengan pramugari tinggi semampai itu, kami jadi sering komunikasi.

Mula-mula via BB. Seterusnya, kopdar. Karena banyak kesamaan di antara kami, aku dan Bertha lekas konek.

Bermula pada suatu hari.  Ketika aku iseng menawarkan untuk menjemputnya di bandara, begitu Bertha selesai menunaikan tugasnya. Dan anehnya, ia mau. Pertemuan semakin sering setelah itu. Sampai-sampai terbangun JH di antara kami, yang hanya aku dan dia yang tahu.

Lewat pertemuan yang intens, aku tahu sisi-sisi Johari Windows pramugari tinggi semampai itu. Karena Bertha begitu tulus, tak kan kubuka pada siapa-siapa JH-nya. Sebagian, hanya menepuk air di dulang. Aku janji. Tak akan membuka pintu tersembunyi Bertha seluruhnya pada siapa pun.


***

Dalam perjalanan ke apartemen mewah setelah dernyit rem taksi biru menghindar truk yang berhenti sembarang di bahu jalan tol, aku diam saja.

Kuperhatikan bunga-bunga yang berjajar rapi warna warni menghiasi sepanjang jalan pergi. Kupandangi pohon-pohon bungur berdaun rimbun. Ujung-ujungnya mengeluarkan bunga warna ungu.

Bertha kulihat menatap ke arah sama. Aku sulit menebak pikiran yang berkecamuk di kepalanya. Benar-benar ia tak mudah dibaca. Jinak-jinak merpati. Makin didekati, semakin pergi. Dalam hati, aku bertanya-tanya: mengapa Bertha di taksi beda dengan Bertha pramugari?

"Ber!" aku coba mencairkan suasana.

"Ehm!" ia hanya melirikku sembari merapikan rambutnya yang lurus hitam sedikt menutupi wajahnya.

"Benar kan kataku?"

"Kata? Yang mana?"

"Ah, masa lupa. Ketika di udara, selepas kau tutup pintu pesawat, lalu duduk dekatku di seat 01F."

Ia menggeleng. Bertha sungguh seperti merpati. Aku kian penasaran.

Oranye dan ungu warna boungenville sepanjang pembatas jalan tol Soetta-Pluit bergoyang-goyang. Bukan diembus angin, melainkan dibentur asap knalpot kendaraan.

Bertha memandang ke warna oranye dan ungu. Aku memandang ke arahnya yang termangu. Dari posisi duduk samping menyamping, aku dekatkan lebih rapat ke tubuhnya.

Aku kini di posisi tengah. Kurapatkan badan sampai tak ada jarak dengannya. Ia menarik tangan kiri lalu merapatkannya dengan tangan sebelah. Dari dekat sekali aku memperhatikan bulu-bulu halus menghiasi lengannya yang kuning langsat.

Dari jarak tak ada, jariku menyusup. Kuraih tangan kirinya dengan tangan kiriku. Ia menatap tajam.

Kudengar gemuruh napasnya mendesah. Aku saksikan matanya menandai percakapan. Aku dengar. Kusaksikan dalam diam.

“Kamu lom tahu siapa aku,” tiba-tiba ia membuka suara.

“Kamu blasteran Dayak-Itali, lahir pada Hari Velentine.”

“Itu informasi, bukan kenal!’

Aku terhenyak. Diam-diam, aku mulai mengagumi gadis tinggi semampai ini. Memang berbeda antara kenal dan informasi. Aku akui, aku belum mengenalnya.

“Kalau kamu kenal aku, kamu tak akan sudi berteman denganku!”

“Lho, kok?”

Aku tak tahu arah katanya. Oranye dan ungu boungenville tak lagi bergoyang. Memasuki pintu tol keluar Pluit, jalan padat merayap. Antrean panjang. Kendaraan-kendaraan tak bergerak, tapi klakson meraung-raung. Orang Jakarta memang begitu, tak ada yang merasa diri tidak penting. Semua ingin lekas sampai.

“Tapi kamu tahu, kan,  kamu cuma mengantarku sampai apartemen?”

Aku mengangguk.

“Tiap aku selesai, kau tahu, aku akan pergi lagi!”

Aku mengangguk. Meski belum mengerti apa yang aku anggukkan.

Taksi biru kini berada di pintu exit tol Kapuk Muara. Setelah membayar karcis tol, sopir mengarahkan moncong taksi ke kiri sesuai arah telunjuk Bertha. Aku mengenal betul daerah ini. Pantai Indah Kapuk yang populer dengan PIK.
(bersambung)
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url