Dayak di Perbatasan Entikong - Tebedu: Hanya Dipisahkan oleh Banjaran Kelingkang

Batas Entikong - Tebedu: hanya garis khayal banjaran kelingkang. foto: Neilson.

Entikong telah ditetapkan sebagai "Kawasan Pusat Niaga Terpadu (Kawasan PNT)". Bukan hanya untuk wilayah Kabupaten Sanggau yang berbatasan langsung dengan Sarawak, Malaysia, tetapi juga memiliki signifikansi nasional.

Kepentingan strategis dari jalur darat (dry port) Entikong terletak pada koneksinya dengan tiga negara: Indonesia-Malaysia-Brunei Darussalam. Keunggulan jalur darat yang pendek membuat Entikong menjadi titik yang strategis di Indonesia.

Lihatlah bagaimana orang-orang dari ketiga negara di pulau yang sama (Borneo) degan leluasa keluar masuk di Pos Lintas Batas (PLB) Entikong. Kini, tak mungkin lagi mereka berkonfrontasi. Oh, tidak!

Selain perdagangan, PLB Entikong juga memfasilitasi mobilitas manusia, terutama bagi masyarakat Dayak yang memiliki hubungan keluarga dan etnis di ketiga negara tetangga.

Selain aspek ekonomi, perdagangan, dan politik, mobilitas manusia menjadi penting. Kerjasama yang semakin meningkat di antara masyarakat Dayak dari tiga negara sejalan dengan gagasan John Naisbitt tentang "Dari negara-negara menjadi jaringan" di Asia.

Kini, masyarakat di perbatasan Entikong bekerja sama. Selain berbagi adat, budaya, dan tradisi yang sama, mereka percaya dalam hidup berdampingan secara damai, melampaui batas-batas politik, dan mengakui esensi kemanusiaan.

Namun, tantangan yang terkait dengan perbatasan negara tetangga ini penting, melibatkan kedaulatan dalam negeri serta nilai-nilai sosial, politik, dan ekonomi. Isu perbatasan menjadi agenda penting bagi Indonesia sebagai konsep Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Terjadi perubahan paradigma dalam hubungan antara Indonesia dan Malaysia. Kedua negara ini telah bergerak dari kecenderungan berkompetisi menjadi lebih berkolaborasi, menggantikan peperangan dan clash dengan semangat kerja sama.

Contoh perselisihan perbatasan dengan negara tetangga yang menimbulkan ketegangan tingkat internasional termasuk sengketa Sipadan dan Ligitan antara Indonesia dan Malaysia, serta isu perbatasan dengan Malaysia di Pulau Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara, dan lima lokasi perbatasan di Kalimantan Barat dengan Sarawak, Malaysia. Semua ini memerlukan penyelesaian yang adil.

Informasi adalah kekuatan, seperti kata pepatah, dan hal ini juga berlaku dalam isu-isu perbatasan. Pengalaman masa lalu Indonesia yang kalah klaim atas Sipadan dan Ligitan dari Malaysia karena kurangnya data dan informasi yang memadai menekankan pentingnya mengumpulkan informasi komprehensif untuk pengambilan keputusan yang akurat.

Kini terjadi perubahan paradigma dalam hubungan antara Indonesia dan Malaysia. Kedua negara ini telah bergerak dari kecenderungan berkompetisi menjadi lebih berkolaborasi, menggantikan peperangan dan clash dengan semangat kerja sama.

Batas negara yang dahulu memisahkan Indonesia dan Malaysia, terutama dengan wilayah Sarawak, telah kehilangan arti sebenarnya. Hal ini terjadi karena kedekatan yang terjalin antara manusia dan suku bangsa di wilayah perbatasan, yaitu suku Dayak. Mereka telah membangun ikatan yang kuat, sehingga batas negara hanyalah sebatas imajinasi.

Kolaborasi antara Indonesia dan Malaysia membawa banyak manfaat bagi kedua negara dan rakyatnya. Mereka bekerja sama dalam berbagai bidang, seperti perdagangan, pariwisata, lingkungan, dan penelitian. Pertukaran budaya dan pengetahuan antara suku Dayak di kedua sisi perbatasan menjadi salah satu faktor utama yang memperkuat hubungan ini.

Perubahan paradigma
Faktor proximity (Kedekatan) dan kebersamaan di antara suku Dayak telah menciptakan suasana harmonis di wilayah perbatasan. 

Konflik dan pertikaian yang pernah terjadi di masa lalu (Konfrontasi) telah diatasi dengan cara berdamai dan mencari solusi bersama. Semangat gotong royong dan saling menghormati menjadi pilar dalam hubungan antara Indonesia dan Malaysia.

Perubahan ini membawa dampak positif bagi kedua negara, terutama dalam memajukan wilayah perbatasan. Pembangunan infrastruktur dan program sosial bersama telah meningkatkan kualitas hidup masyarakat di daerah tersebut. Kedua negara bekerja sama dalam melindungi lingkungan dan keanekaragaman hayati wilayah perbatasan, serta mempromosikan pariwisata yang bertanggung jawab.

Kini, Indonesia dan Malaysia menjadi contoh bagi negara-negara lain dalam menciptakan perdamaian dan kerjasama. Semangat kolaborasi ini telah membuka pintu bagi kemajuan bersama, menghapuskan perbedaan-perbedaan yang sebelumnya menciptakan gesekan antara kedua negara.

Meski demikian, perubahan ini tidak terjadi begitu saja. Ia adalah hasil dari upaya bersama, kesediaan untuk berubah, dan tekad untuk mencari jalan terbaik bagi kedua negara. Kebersamaan suku Dayak menjadi katalisator bagi perubahan ini, mengajarkan kepada kita pentingnya menghargai kesamaan dan keragaman di antara kita sebagai manusia.

Akhirnya, perubahan paradigma ini menjadi bukti bahwa perdamaian dan kerjasama adalah pilihan yang lebih bijaksana daripada konflik dan perang. Semoga semangat kolaborasi ini terus berkembang dan menjadi contoh bagi seluruh dunia untuk menciptakan dunia yang lebih baik. *)



Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url