Muhibah Literasi (5) Buku BRWC di Labuan Bajo

Pepih (kiri), buku BRWC - MMP, dan Aris Heru Utomo. Literasi di Labuan Bajo.


Oleh: Pepih Nugraha
Penulis senior, pendiri Kompasiana

Saya berkesempatan melakukan muhibah literasi kali ini atas undangan Aris Heru Utomo, salah satu direktur di Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Saya mengenal Pak Aris, demikian saya memanggilnya, sejak awal-awal mendirikan Kompasiana. Kalau boleh saya bilang, dialah "assabiqunal awalun"-nya para penulis Kompasiana mula-mula.

Perkenalan yang berujung pada persahabatan yang terus kami pupuk bahkan ketika Pak Aris sudah menjadi "orang penting" dalam urusan ideologi negara ini. Ia adalah "Orang Deplu", seorang diplomat, yang "dipinjam" BPIP dan dalam waktu dekat akan ditarik kembali ke induk kementrian tempat awal ia berkarier. Ia sempat mukim di China dan kemudian Perancis.
Dalam suatu kesempatan pertemuan dengan keluarganya di Bekasi beberapa waktu lalu, saya "menantang" putrinya bercakap-cakap menggunakan bahasa Perancis. Mungkin karena sudah lama tidak digunakan, ia mengaku sudah lupa, tetapi dapat memahami percakapan. Kini Pak Aris akan menempati pos barunya sebagai Konsul di Tawau, Malaysia.
Ketika saya berkesempatan meneruskan pekerjaan yang tertunda sebagai editor buku "Hermeneutika Karya-karya Soekarno" selama pengasingannya di Ende, saya senang bukan main karena"locus" kegiatan adalah di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Ini destinasi wisata yang saya incar sebagai pelancong amatir alias traveler suka-suka.
Maka kegiatan literasi kali ini saya gunakan untuk melancong sekalian. Konon Pulau Padar sudah dikenal dunia, khususnya pelancong mancanagara yang berkunjung ke Tanah Air. Masak iya sebagai pemilik Ibu Pertiwi ini saya belum melancong ke sana?
Untuk kegiatan literasi, saya mukim di Hotel Sylvia yang menghadap langsung lautan, hotel yang memantik ide dan gagasan baru menulis. Kamar hotel yang luas dengan tiga tempat tidur disediakan sebagai tempat membaca dan menelaah naskah karya 9 profesor/doktor dengan 3 kata sambutan, prolog dan epilog yang juga ditulis tiga profesor. Saya diminta untuk menentukan mana yang pas untuk prolog dan epilog dengan "reason" sebagai editor, tetapi tetap menjaga jangan sampai menyinggung "marwah" para orang-orang penting ini.
Bagaimanapun "prolog" dan "epilog" dua kutub yang berbeda; satu paling depan dan satunya lagi paling belakang. Maklum, kalau tidak disampaikan "reason"-nya dari kacamata editor, salah satu profesor bakal tersinggung mengapa tulisannya dijadikan epilog, padahal dia orang penting (VVIP) di lembaga itu. Persoalan konten buku ini akan saya ceritakan di serial "Muhibah Literasi" berikutnya.
Jauh-jauh hari sebelum ke Labuan Bajo, Pak Aris menyatakan minatnya memiliki buku "Batu Ruyud Writing Camp" yang diluncurkan pada 1 Maret 2024 di Sekolah Alam Cikeas. Di kegiatan literasi yang dikemas sebagai peluncuran buku itu hadir penggerak literasi nasional Dr. Yansen Tp yang juga menjabat wakil gubernur Kalimantan Utara, bersama 10 penulis lainnya.
Saya berjanji akan memberinya satu eksemplar buku BRWC, sebab terlihat betapa berminatnya Pak Aris untuk memiliki buku itu. Belakangan di Labuan Bajo saya tahu bahwa ia akan bertugas sebagai Konsul Jenderal Indonesia di Tawau, Malaysia. "Tawau 'kan berbatasan dengan Nunukan, jadi saya ingin mendapat 'insight' tentang Krayan dan kehidupan di perbatasan dari buku itu," katanya. Baiklah.
Maka saat bertemu di Labuan Bajo, saya mewakili "Esplindo" (Empat Sekawan Pegiat Literasi Indonesia, yaitu Yansen Tipa Padan, Dodi Mawardi, Rangkaya Bada Masri, dan Pepih Nugraha), dengan bangga menyerahkan buku BRWC ini, buku yang akan menjadi tonggak kebangkitan literasi di tanah Kalimantan ini.
Di dalam pesawat yang akan kembali menuju Jakarta dengan transit di Ngurah Rai Denpasar Bali, saya lihat Pak Aris tekun membaca buku BRWC. Saya bahkan memintanya berpose bersama buku BRWC itu dan ia bersedia.
Bagi Pak Aris sendiri, buku BRWC yang saya berikan di kegiatan literasi Labuan Bajo ini akan menjadi "panduan" atau bahkan "jalan masuk" menuju Tawau di Malaysia, sebuah wilayah yang benar-benar bertetangga dengan Indonesia dalam arti yang sesungguhnya, sebagai tempat barunya dalam berkarier sebagai diplomat tulen. *)
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url