Aku' Menyadik: Adat Tradisi Dayak Desa Mengangkat Saudara

Penampakan upacara Aku' Menyadik: Adat Tradisi Dayak Desa mengangkat saudara.

Nilai warisan adat dan tradisi leluhur suku bangsa Dayak sungguh luar biasa. Persaudaraan sejati, kedamaian, dan kemanusiaan merupakan nilai tertinggi. 

Cukup berbeda dengan warisan adat dan kebiasaan di kerajaan, yang memasukkan keluarga dengan kawin-mawin untuk tujuan politik dan memperluas wilayah kekuasaan. Orang Dayak mengangkat, atau mengaku, secara adat saudara bukan dilandasi kepentingan apa pun, apalagi politik. Semata-mata demi persaudaraan sejati dan kemanusiaan.

Itulah yang terbetik dalam upacara adat "Be Aku' Menyadik" antara keluarga besar Markus Nerang dan Masri Sareb Putra, Jangkang. Masri telah menapakkan jejak kaki dan kiprahnya di bumi Lawang Kuwari sejak awal tahun 1980-an. Masri dan Musa, lelaki pertama anak Markus Nerang dan Ina sekelas waktu sama-sama menempuh pendidikan di SMA PGRI Sekadau.

Lama tidak berjumpa, pada 2016 mereka bertemu dalam sebuah seminar pendidikan di Sekadau. Masri lalu direkrut untuk bersama-sama mendirikan perguruan tinggi, yakni Institut Teknologi Keling Kumang di mana 4-M (Musa, Mulandus, Masiun, dan Mikael) telah lebih dahulu menancapkan pondasi bagi Gerakan CU Keling Kumang (GCUKK) yang kini memiliki 3 deputi dan berbagai entitas usaha. Di ITKK, Masri dipercaya memangku Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (Pustlitdianmas). Sedangkan di GCUKK, pegiat literasi dan sastrawan dari Jangkang itu diamanahkan di Yayasan Pemberdayaan Keling Kumang (YPKK) bersama Munaldus.

Pada puncak Iban Summit, 25 Maret 2023 di Tapang Sambas, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat, Masri menerima anugerah "Iban Award". Dalam sebuah upacara adat, salah seorang Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia ini dinobatkan sebagai warga Iban yang diberi gelaran "Deraman", salah seorang tokoh legendaris Dayak Desa dari wilayahTapang Sambas dahulu kala.

Upacara "Be Aku' Menyadik" antara keluarga besar Markus Nerang dan Masri Sareb Putra dari Jangkang menandai adat tradisi Dayak masih hidup hingga hari ini. Persaudaraan sejati, kedamaian, dan kemanusiaan adalah asasnya; bukan motivasi lain seperti era kerajaan dan kekuasaan. 
"Ini lebih pengukuhan saja. Munaldus dan kawan-kawan telah memulai. Maka silakan Munaldus menjelaskan duduk perkaranya," kata Musa pada acara "Be Aku' Menyadik" yang dihadiri keluarga besar Markus Nerang dan para tamu undangan di Tapang Sambas, 9 Juli 2023.

Setelah menjadi alat bebiau, ayam disembelih, dan dimasak.

Hal yang cukup unik, sesuai dengan adat basa Dayak Desa, Musa dan Masri "Deraman" di-biau dengan ayam. Diucapkan mantra dalam bahasa Desa, salah satu subsuku Iban.

Lalu keduanya saling bersulang minum tuak adat. Setelah, sebelumnya, saling "minum darah" masing-masing, yang darahnya ditusukkan dari ujung jari dengan jarum. Tandanya bahwa keduanya sedarah --demikian menurut pelaksana adat setempat.

Munaldus, Ketua Yayasan Pusat Pemberdayaan Sumber Daya Keling Kumang (YPSDKK) dan pendiri CUKK memberikan sambutan dan petuah.

Munaldus yang dalam kesempatan itu memberi sambutan menyatakan bahwa upacara ini langka. Meski dahulu kala, pernah ayah mereka mengangkat anak, namun intensinya berbeda dengan Masri.

Acara dipandu oleh Masiun yang juga Rektor ITKK dan Ketua Pengurus CU Keling Kumang.

Selain ayam biau, ada juga seekor babi untuk acara pesta sebanyak 38 kg. Ada lemang dan tuak yang disajikan layaknya acara adat. 

Sekadar untuk diketahui, Desa adalah salah satu subsuku Iban yang populasinya terbanyak sedunia mencapai 1,2 juta. Dayak Desa tersebar di kabupaten Sanggau (Tayan dan Meliau), Kabupaten Sekadau, dan Kabupaten Sintang. *)


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url