Air Mata Sang Gembala - Sebuah Cerpen oleh: Paran Sakiu

Melayani, melayani lebih sungguh
Melayani, melayani lebih sungguh
Tuhan lebih dulu melayani kepadaku
Melayani, melayani lebih sungguh....
.

Desa asri yang dibenderang penguasa siang. Suatu kawasan tersembunyi di lereng pegunungan Kalimantan Barat. Tepatnya di Desa Mentonyek.

Di desa itu ada seorang gembala. Ia sosok yang sangat dihormati dan dicintai oleh seluruh warganya. Namanya Frans Theng Kiew. 

Pendeta Frans adalah seorang pria yang rendah hati dan tulus dalam melayani jemaatnya. Setiap hari, ia mengunjungi setiap keluarga dalam jemaatnya dengan naik sepeda motornya, membawa semangat dan cinta kasih.

Setiap kunjungannya, Pendeta Frans tidak hanya membawa Firman Tuhan yang penuh hikmah, tetapi juga selalu memberikan bekal makanan yang dia siapkan sendiri kepada keluarga yang kurang mampu. Kebaikan hati dan ketulusannya menarik simpati banyak orang. Tak jarang jemaatnya tergerak untuk turut membantu sesama.

Pada suatu hari, langit mendung menggelayuti Desa Mentonyek. Namun, semangat pelayanan Pendeta Frans tidak surut oleh rintik-rintik hujan yang mulai turun. 

Sang gembala mengenakan jas hujan sederhana untuk melindungi dirinya saat mengendarai sepeda motor menuju rumah-rumah jemaat. Beberapa warga yang melihatnya berlalu lalang dengan penuh semangat, menghela nafas kagum akan dedikasi sang gembala.

Namun, hujan kian deras dan angin semakin kencang. Tak disangka, selembar kertas yang menjadi alas di jok motornya diterpa angin dan terbang entah ke mana. 

Keadaan semakin tak bersahabat ketika ia harus berhenti sejenak di tepi jalan karena sepeda motornya mogok. 

Basah kuyup. Pendeta Frans berteduh di bawah rindangnya sebatang pohon besar untuk mengganti pakaian basahnya dengan sehelai baju kering yang ia simpan di dalam jok motor.

Lagu "Melayani lebih sungguh..." bergema di gereja kecil itu. Dan jemaat menyanyikannya dengan penuh kekhusyukan.

Saat itulah, matanya tertuju pada sosok gelandangan yang sedang berbaring lemah di bawah atap kardus bekas mie instan, usahanya untuk berteduh dari guyuran hujan. 

Pakaian gelandangan itu juga basah kuyup, dan pandangan mereka pun bertemu. Tanpa berpikir panjang, Pendeta Frans menghampiri si gelandangan, dan dengan penuh kebaikan hati, memberikan sehelai baju kering yang seharusnya untuknya sendiri.

Meskipun pakaian basah menempel di tubuhnya, Pendeta Frans tetap meneruskan perjalanan menuju rumah-rumah jemaat. Ia merasa kedinginan dan meriang, tetapi hatinya penuh dengan kehangatan dan kebahagiaan karena telah dapat membantu si gelandangan. Kebaikan dan cinta kasihnya terhadap sesama adalah sumber kekuatannya.

Ketika akhirnya tiba di rumah jemaat, badannya terasa lelah dan melemah. Namun, ketulusan hatinya dalam melayani tidak pernah padam. Ia tersenyum dan melayani jemaat dengan sepenuh hati, seakan tak menghiraukan rasa sakit dan kelelahan yang menderanya. 

Lagu "Melayani lebih sungguh..." bergema di gereja kecil itu. Dan jemaat menyanyikannya dengan penuh kekhusyukan.

Namun, tak disangka, air mata mulai mengalir dari kedua mata Pendeta Frans. Ia menahan rasa haru yang begitu dalam hatinya. Air mata itu bukanlah tanda kelemahan, tetapi tanda kebahagiaan dan syukur. Saat itulah, ia merasa seperti mendapatkan kekuatan yang tak terhingga. Rasa sakit dan kelelahan tiba-tiba lenyap, digantikan oleh semangat yang menggelora di dalam dirinya.

Peristiwa itu menjadi kenangan indah bagi Pendeta Frans dan jemaatnya. Semakin hari, semakin banyak orang yang tergerak hatinya untuk membantu sesama, mengikuti contoh dan teladan kebaikan yang diperlihatkan oleh sang gembala. Cinta kasih dan ketulusan yang ia pancarkan menjadi sumber inspirasi bagi seluruh warga desa.

Dalam setiap perjalanan hidupnya, Pendeta Frans Sekiu terus menerus mengalirkan air mata kebahagiaan karena dapat melayani dan membantu sesama. 

Kebaikan hatinya tak pernah berhenti mengalir bagai sungai yang tak pernah kering. Dan desa kecil Mentonyek pun menjadi tempat yang diberkahi oleh cinta kasih dan kebaikan dari sang gembala yang bijaksana.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url