Kayu Belian a rp16.000.000 per Meter Kubik

Dok. Sanggau News

SANGGAU NEWS : Niatlah hati/ berburu pergi berburu/ membawa sumpit belian kayu belian (Syair konda Doeng Donado).

Orang Sanggau tidak asing dengan "kayu belian". Sehari-hari di atas lantai kayu belian. Atau disangga rumahnya dengan kayu belian. Bahkan di beberapa tempat, di kabupaten Sanggau, atap rumah masih dengan sirap (kayu belian).

Belian kini makin langka. Sekaligus makin mahal. Hal itu sesuai dengan hukum ekonomi: di mana permintaan banyak, sedangkan persediaan sedikit; maka barang itu akan mahal.

Belian: kayu keras multiguna

Kayu ulian, belian, kayu besi dikenal juga dalam khasanah ilmu sebagai “eusideroxylon zwageri”. Kayu untuk bahan bangunan, jembatan, tiang (tajar) lada, ukiran, dan aneka keperluan ini sangat tahan lama. Semakin kena air dan lumpur, semakin layu ini keras dan seperti hidup dagingnya. 

Di masa lampau, tiang-tiang telepon dan tiang listrik di Kalimantan juga jembatan, didirikan menggunakan kayu ulin.

Kini pun di berbagai tempat, di Kalimantan, kayu ulin masih banyak ditemukan untuk tiang-tiang bangunan, tangga, dan jembatan. Jembatan di Krayan dibangun dari bahan kayu ulin untuk tiang-tiang utama dan peyangganya. 

Harganya a rp 16.000.000 (enam belas juta) per meter kubik

Karena langka, dan semakin banyak dicari untuk mebel, hiasan, serta aneka perlengkapan rumah tangga, kayu belian semakin mahal.

 Harga kayu ulin a rp 16.000.000 (enam belas juta) per meter kubik. 

Dengan demikian, sungguh kayu ulin sebenarnya menggiurkan dari sisi nilai ekonominya. Ooleh karena semakin banyak kayu ulin alami ini ditebang dan digunakan, akhir-akhir ini ada upaya rekayasa menyemai dan menenamnya kembali.

Bukan untuk saat ini, melainkan untuk anak cucu dan generasi yang akan datang. Hal itu mengingat kayu ulin baru bisa dipanen setelah berusia 40 tahun ke atas.

-- Masri Sareb Putra

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url