Sawit di Indonesia dan Malaysia: Kisah Entekong dan Tebedu

Sawit di tapal batas Malindo: emas hijau.


SANGGAU NEWS : Hanya batas 
kelingkang. Patok saja. Namun, suasana dan perlakuan Sawit di Indonesia dan Malaysia; berbeda. 

Indonesia dan Malaysia saat ini menduduki posisi pertama dan kedua sebagai penghasil kelapa sawit terbesar di dunia. Meskipun demikian, kedua negara ini memiliki pengalaman yang berbeda dalam memanfaatkan potensi sumber daya alam ini.

Baca 10 Fakta Manfaat Produk Sawit

Sawit untuk kemakmuran rakyat

Di Malaysia, manfaat dari kenaikan produksi kelapa sawit dapat dirasakan secara lebih merata. Negeri jiran berhasil mengelola industri sawit dengan lebih cerdik. Sedemikian rupa, sehingga memberikan dampak positif bagi masyarakat, termasuk para petani.

Kenaikan produksi kelapa sawit di Malaysia membawa keuntungan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan petani sawit.

Sama-sama Kalimantan, tapi Malaysia dan Indonesia berbeda kebijakan dan kepedulian negara pada komoditas sawit. Malaysia cerdas dan prorakyat.

Namun, di sisi lain, situasi di Indonesia terlihat berbeda. Pengelolaan kelapa sawit di Indonesia dirasakan belum optimal. Bahkan ada tudingan bahwa negara ini salah dalam mengelola sumber daya alamnya. Atau tidak berdaya di dalam menghadapi kekuatan tertentu, sehingga lepas kendali, dan bahkan dikendalikan kepentingan.

Masalah pengelolaan yang kurang baik dan kurangnya perhatian terhadap kesejahteraan petani sawit, telah menyebabkan Indonesia tidak seberuntung Malaysia dalam memanfaatkan potensi industri sawit.

Baca Baca Cornelis Dan Ustaz Abdul Somad (UAS)

Perbedaan suasana ini dapat dilihat secara kasat mata di dua wilayah titik perbatasan, yaitu Entekong dan Tebedu. Tebedu adalah sebuah kota kecil di Sarawak, Malaysia. Kota ini terletak di Distrik Serian, yang merupakan bagian dari wilayah administratif Sarawak, di bagian timur Malaysia.

Satu pulau, dua negara, beda kebijakan

Di Tebedu, masyarakat Malaysia merasakan dampak positif dari industri kelapa sawit yang lebih terorganisir dan cerdas, seperti di Malaysia. Sebaliknya, di Entikong, terlihat masalah dan tantangan yang dihadapi petani sawit akibat kurangnya perhatian dan manajemen yang baik.

Di Entekong dan sekitarnya, harga sawit per kilo tandan buah segar (TBS) a rp 2.100- 2.300 /kg. Sedangkan di Malaysia, bisa mencapai a rp 3.000/kg. 

Perbandingan antara Entikong dan Tebedu menjadi cerminan dari realitas. Bahwa pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya kelapa sawit dapat menghasilkan hasil yang sangat berbeda, tergantung pada pendekatan dan kebijakan yang diambil oleh masing-masing negara.

Sebagai negara-negara penghasil kelapa sawit terbesar di dunia, Indonesia dan Malaysia memiliki tanggung jawab besar untuk mengelola industri ini dengan bijaksana. 

Penerapan kebijakan yang cerdas sangat dinantikan untuk Indonesia. Selain itu, perhatian dan kepedulian negara terhadap kesejahteraan petani, serta upaya untuk menjaga keberlanjutan lingkungan akan menjadi kunci keberhasilan dalam memanfaatkan potensi industri kelapa sawit secara berkelanjutan dan merata bagi masyarakat. 

  • Rangkaya Bada

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url