Siapa Petani Plasma (Kecil) Sawit?


SANGGAU NEWS: Siapa sebenarnya yang terkategori, dan disebut, sebagai petani kecil (plasma)? 

Definisi mengenai ini masih belum jelas dan cenderung tidak seragam. Setidaknya, ada tujuh jenis atau kelompok petani kecil berdasarkan HCA (hierarchical cluster analysis). 

Baca 10 Fakta Manfaat Produk Sawit

Ada 7 (tujuh) kelompok tersebut diklasifikasikan berdasarkan luasan lahan. Cakupannyaantara 7,0% sampai 30,9% dari luas lahan kelapa sawit petani kecil dan antara 2,2% sampai 28,9%. 

Ke-7 kelompok petani kecil tersebut sebagai berikut:

Petani kecil lokal

Kelompok petani kecil ini berasal dari dan bertempat tinggal di wilayah perkebunan dalam satu kecamatan. Kelompok ini mayoritas adalah Melayu (61,9%), Batak dan Jawa. Mereka bermigrasi setidaknya satu generasi yang lalu. Ada 37,8% petani di kelompok ini. 

Meskipun hanya mencakup 7,0% dari luas areal kelapa sawit namun kelompok ini mencakup 19,4% petani kecil. Mereka rata-rata memilik luas lahan 1,2 ha. Petani kecil pada kelompok ini berlokasi di lahan di luar APL (Areal Penggunaan Lain). Mereka mengklaim wilayah garapan tersebut karena telah lama tinggal di sana dan mendominasi jumlah penduduk.

Petani lokal menengah

Kelompok petani ini mirip dengan petani kecil lokal karena mereka tinggal dalam wilayah perkebunan dalam satu kecamatan. Mayoritas pendatang biasanya orang Melayu asli dan merupakan generasi kedua atau lebih. Mereka menempati 7,7% dari luas lahan petani kecil dan 11,3% merupakan petani.

Baca 10 Pemain Top Sawit Di Indonesia : Kaya Dengan Sawit

Kelompok lokal menengah berlokasi pada areal pertanian yang telah digarap dan hanya 55,7% yang berlokasi di APL (Areal Penggunaan Lain). Jumlah tersebut jauh lebih kecil dari petani kecil lokal. Hal ini menunjukkan bahwa banyak petani dalam kelompok ini telah berupaya untuk melakukan ekspansi individual ke kawasan hutan negara yang berpenduduk lebih sedikit.

Petani penduduk besar

Para petani pada kelompok ini memiliki lahan rata-rata 10,3 ha dan tidak ada satu area biasanya mereka memiliki beberapa area. Oleh karena itu mereka juga disebut petani besar. Dua pertiganya tinggal di kecamatan yang sama dengan area perkebunan mereka. Sementara 28,5% berasal dari kecamatan, 67,2% berasal dari luar kabupaten. Kelompok ini terutama terdiri dari hibah. Etnis dalam kelompok beragam, terdiri dari Batak, Melayu, dan Jawa dan jumlah yang cukup besar.

Baca Sawit Indonesia Pasca "Permainan" Ekspor (CPO) Pada 23 Mei 2022

Jumlah mereka memang tidak banyak karena hanya mencakup 17,8% area dan terdiri dari 6,0% petani. Namun, para petani ini memiliki jejak yang signifikan dalam peta perkebunan kepala sawit. Mereka seperti petani Tipe 1 dan 2 yang berlokasi secara eksklusif ditanah garapan. Bahkan sangat mungkin kelompok ini berlokasi di lahan hutan negara jumlahnya kira-kira 40,9%. Para petani telah berupaya mengklaim lahan baru secara individual.

Petani migran kecil

Para petani di kelompok ini sebagian besar adalah pendatang dari Jawa yang kini tinggal dekat perkebunan mereka. Kelompok jenis diperkirakan 10,3% dari luas areal kelapa sawit petani kecil. Luas lahan rata-rata hanya 1,2 ha. Mereka merupakan 28,9% dari petani di wilayah tersebut. Jumlah tersebut menempatkan kelompok ini menjadi yang paling produktif. 

Baca Akankah Seluruh Indonesia Ditanami Sawit?

Para petani migran kecil secara eksklusif membudayakan tanah garapan dan sangat mungkin akan memperluaskan arealnya di luar zona hutan resmi. Kelompok ini terutama terdiri dari transmigran oleh karena itu lahan garapan telah dialokasikan oleh negara. Dan sebagian besar area mereka biasanya telah direklasifikasi ke APL (Areal Penggunaan Lain).

Petani migran menengah

Tipe ini menunjukan karakteristik yang mirip dengan petani migran kecil pembeda utama hanya soal luas lahan. Rata-rata ukuran area lahan sekitar dua kali lipat atau 2,4 ha. Kelompok ini hanya berlokasi di lahan garapan atau di dekat perkebunan mereka. Sebagian besar kelompok ini adalah orang Jawa. 

Mereka menempati 13,7% dari luas perkebunan kelapa sawit rakyat dan merupakan 19,8% dari seluruh petani di daerah tersebut. Meskipun mereka tidak banyak tetapi memiliki jejak yang lebih besar dari kelompok migran kecil.

Petani gambut kecil dan menengah hibah

Kelompok mirip dengan kelompok petani kecil dan menengah. Rata-rata luas lahan 3,5 ha dan berlokasi pada lahan gambut. Mereka menyumbang 12,7% dari luas perkebunan kelapa sawit rakyat dan 12,5% dari petani kecil. 

Baca Sawit Di Sanggau: Di Mana Lahan Luas Kawasan Hutan Lindung

Para petani ini sebagian besar adalah pendatang dari luar kabupaten. Lebih dari setengahnya bertempat tinggal di dalam kecamatan dibanding dengan Tipe 4 dan 5 yang sebagian besar tinggal di luar kabupaten. Keberadaan mereka memang tidak umum dan kebanyakan petani kelompok ini adalah orang Jawa, Batak, dan Melayu sebagai minoritas. Pertanian/perkebunan mereka sebagian besar berlokasi di kawasan hutan negara.

Petani investor besar

Petani jenis ini berlokasi secara eksklusif di lahan gambut. Mereka bukan berasal dari daerah tersebut dan tidak tinggal disana. Hanya 18,4% yang tinggal di kecamatan yang sama dengan perkebunan mereka. Dan hanya sedikit yang mungkin mengelola perkebunan sehari-hari. Jenis ini merupakan kelompok terkecil dari segi jumlah (2,2%), tetapi terbesar dari segi luas (30,9%), dengan rata-rata luas petak 49,6 ha.

Meskipun secara etnis kelompok ini didominasi oleh Batak. Etnis ini terwakili dalam seluruh kelompok namun banyak juga dari etnis Tionghoa-Indonesia, yang jarang ditemui di kelompok lain. Mereka berada di kawasan hutan negara dan hanya 26,4% yang berlokasi di APL (Areal Penggunaan Lain). 

Baca Sawit Di Kalimantan Dengan Sejumlah Catatan

Kelompok investor besar memainkan peran penting dalam ekspansi kelapa sawit lahan gambut dan hutan negara. Jika mempertimbangkan jumlah mereka relatif tinggi. Petani dalam kelompok ini jelas beroperasi lebih seperti perusahaan daripada petani kecil. (Purnomo et al., 2018, pp. 287–288).

Petani kelapa sawit

Istilah "petani kelapa sawit" seringkali kurang memiliki definisi yang tepat, namun dalam praktiknya cenderung mengacu pada perbedaan ukuran dan tingkat ketergantungan pada tenaga kerja keluarga. Ini sejalan dengan definisi RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) yakni:

“… petani yang menanam kelapa sawit, bersama dengan tanaman subsisten, di mana keluarganya menyediakan sebagian besar tenaga kerja dan pertanian menyediakan sumber utama pendapatan, dan menanam kelapa sawit luasnya kurang dari 50 ha”. (Jelsma et al., 2017, pp. 282–283).

(Rangkaya Bada)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url