Akankah Seluruh Indonesia Ditanami Sawit?


SANGGAU NEWS : Akankah seluruh Indonesia ditanami sawit?

Secara geografis, tidak semua wilayah Indonesia bisa ditanami sawit dengan hasil yang optimal. 

Fakta itu bertolak belakang dengan persepsi yang dibangun oleh para peneliti dan NGO Internasional, seolah-olah seluruh wilayah Indonesia akan ditanami sawit. 

Untuk mendapatkan hasil yang optimal maka syarat tumbuh tersebut di atas perlu dipenuhi. 

Baca Indonesia Dan Malaysia Menguasai 85% Luas Sawit Dunia

Apakah Pulau Jawa layak untuk ditanami sawit? Di Jawa, sawit dapat tumbuh dan ada seluas 17.600 hektar di Jawa Barat dan 20.600 hektar di Provinsi Banten. 

Produktivitas tanaman sawit di Jawa ini tergolong rendah dan oleh karena itu sawit di Jawa Barat ini tidak bisa berkembang dengan baik. Harga lahan di Jawa terlalu mahal jika akan ditanami dengan sawit.

Logika “mahal” adalah jika sawit dihitung harus mampu secara ekonomis membiayai diri sendiri, bahkan menguntungkan si pengusaha. 

Kalkulasinya mulai dari biaya pengadaan atau pembelian lahan, biaya pengerjaan lahan persiapan menanam, upah pekerja, perawatan, pemupukan, panen, hingga pada penjualan. 

Dari biaya dan hasil penjualan, jika dikomparasikan, maka berkebun sawit di Jawa “tidak akan masuk” dalam arti jauh lebih besar pengeluaran dari pemasukan. Atau pun jika “masuk” maka akan menjadi sebuah investasi yang lama dan berisiko tinggi.

Baca Sawit Dan Kemakuran Rakyat Di Wilayah Satuan Pemukiman (SP) Kecamatan Mukok, Sanggau

Apakah jika demikian, sawit hanya cocok ditanam di lahan yang masih luas penuh dengan hutan belantara seperti Kalimantan dan Papua? Apakah Papua cocok ditanami sawit

Benar demikian! Di beberapa lokasi cocok, tetapi karena hutan perawan yang masih luas di Papua kiranya jauh lebih berharga dijaga tetap menjadi hutan dibanding dikonversi menjadi kebun sawit. 

Selain ketersediaan tenaga kerja, masalah sosial atas kepastian lahan, dan infrastruktur yang masih sangat terbatas, Papua tidak direkomendasikan untuk pembukaan hutan untuk tanaman sawit dalam skala luas.

Tutupan lahan hutan – yang berbasis pada citra satelit – dan menggunakan definisi hutan secara internasional (FAO, 2015), dipakai untuk memantau tutupan lahan global – sering menampilkan angka yang over estimate terhadap definisi hutan di masing-masing negara.

Bagaimana dengan perkembangan sawit dunia? 

Indonesia dan Malaysia kini menguasai 85% luas sawit dunia. Negara-negara lain yang berencana untuk memperluas tanaman sawit termasuk Thailand, Columbia, dan terakhir India. 

Dengan kebijakan moratorium sawit di Indonesia, negara lain tentu saja berpeluang untuk mengembangkan sawitnya – termasuk yang terakhir cukup gencar diberitakan yaitu rencana perluasan kebun sawit di India seluas lebih dari 1 juta ha.

Dalam studi 3 produsen sawit dunia (Gunarso dkk., 2013), telah dipetakan secara terperinci peta tutupan sawit di Indonesia, Malaysia dan Papua New Guinea. 

Perkembangan tutupan lahan oleh sawit dipantau menggunakan citra satelit dan diamati perubahannya dari tahun 1990 – 2010. Dalam kajian ini, ditemukan fakta yang sangat menarik – yang berbeda dibanding dengan para peneliti Barat.

Studi ini melihat perubahan tutupan hutan dengan menggunakan 22 kelas tutupan lahan. 

Untuk pemantauan global, biasanya hanya menggunakan 4 atau lima jenis tutupan hutan, dengan cara mengelompokkan tutupan lahan dengan warna atau tone penampakan di dalam citra ke dalam empat atau lima kelompok besar saja. 

Baca Sawit Di Sanggau: Di Mana Lahan Luas Kawasan Hutan Lindung

Akibatnya, tutupan lahan hutan – yang berbasis pada citra satelit – dan menggunakan definisi hutan secara internasional (FAO, 2015), dipakai untuk memantau tutupan lahan global – sering menampilkan angka yang over estimate terhadap definisi hutan di masing-masing negara.

Trend perkembangan kebun sawit di Malaysia menunjukkan trend yang menuju pada status idle pada luasan optimal mereka saat ini. Sedangkan untuk Indonesia dan PNG – trend sawit menunjukkan perluasan yang meningkat pesat. 

Namun demikian, sejak tahun 2018 – atas kesadaran sendiri dan juga tekanan internasional, Pemerintah Indonesia mengeluarkan Inpres No. 8 tahun 2018 tentang Penundaan dan Evaluasi Perizinan Perkebunan Kelapa Sawit, serta Peningkatan Produktivitas Perkebunan Kelapa Sawit. 

Inpres No. 8 tahun 2018 tersebut sering disebut dengan: Inpres moratorium kebun sawit. (Rangkaya Bada)


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url