Sawit Indonesia Pasca "Permainan" Ekspor (CPO) pada 23 Mei 2022

  • Sawit telah menjadi alat ekonomi politik sekaligus politik ekonomi.

SANGGAU NEWS : Keputusan Presiden Joko Widodo untuk membuka kembali ekspor minyak sawit Crude Palm Oil (CPO) pada 23 Mei 2022 telah berdampak luas pada industri sawit Indonesia. 

Sebelumnya, harga tandan buah segar (TBS) sawit berada dalam kisaran Rp 3.400 - Rp 4.000 per kilogram. Tetapi setelah keputusan ini diumumkan, harga TBS sawit tiba-tiba jatuh drastis menjadi hanya Rp 600 per kilogram. 

Tragis. Sungguh tragis. Belakangan ini, kita mafhum siapa tangan di balik "permainan" itu. Masyarakat akan menghukumnya. 

Dampak ekonomi dari keputusan ini sangat signifikan. Industri sawit adalah salah satu tulang punggung ekonomi Indonesia, memberikan kontribusi besar terhadap pendapatan negara. 

Baca Sawit Dan Kemakuran Rakyat

Dalam beberapa tahun terakhir, ekspor CPO Indonesia telah menyumbang sekitar 2-3% dari total ekspor nasional. Dengan demikian, kebijakan mengenai ekspor CPO memiliki implikasi yang jauh lebih luas daripada sekadar dampak terhadap petani sawit.

Namun, dampak terbesar terasa oleh petani sawit di seluruh negeri. Mereka menggantungkan mata pencaharian mereka pada tanaman sawit ini dan mengandalkan pendapatan dari hasil panen mereka. Penurunan harga yang tiba-tiba ini mengakibatkan kerugian besar dan ketidakpastian finansial yang serius bagi petani. Banyak di antara mereka merasa bingung dan frustasi dengan perubahan yang mendadak ini.

Keputusan Presiden Joko Widodo untuk membuka kembali ekspor CPO tidak datang tanpa alasan. Presiden menyatakan bahwa keputusan ini didasarkan pada fakta bahwa pasokan minyak sawit cukup stabil, sementara harga minyak goreng mengalami penurunan. 

Hal itu sempati menimbulkan kekhawatiran. Akankah Indonesia mungkin menghadapi kelebihan pasokan minyak sawit dalam negeri? Sedemikian rupa, sehingga berpotensi mengganggu stabilitas harga minyak goreng yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Tidak hanya itu, selama pandemi COVID-19, permintaan terhadap minyak nabati, termasuk minyak sawit, tetap tinggi karena menjadi bagian integral dari kebutuhan sehari-hari banyak orang. 

Masyarakat di seluruh dunia membutuhkan minyak nabati sawit untuk memasak, sebagai bahan pembersih, dan juga sebagai bahan bakar terbarukan. Jadi, sawit multimanfaat. Akan tetapi, bersamaan dengan itu, diembuskan isu, perang dagang, bahkan post truth.

Selain itu, perubahan pola konsumsi selama pandemi telah berdampak pada industri minyak nabati. 

Baca Indonesia Dan Malaysia Menguasai 85% Luas Sawit Dunia

Dengan lebih banyak orang memasak dan makan di rumah, permintaan untuk minyak goreng dalam kemasan kecil meningkat pesat. Ini telah menciptakan peluang bagi produsen minyak sawit untuk menyesuaikan produk mereka dengan permintaan yang berkembang.

Di sisi lain, kebijakan ekspor CPO ini juga menimbulkan pertanyaan tentang konsekuensi jangka panjang. 

Apakah penurunan harga TBS sawit hanya sementara atau akan berlangsung lebih lama? Bagaimana cara memastikan kesejahteraan petani sawit di masa depan?

Sawit Indonesia bukan hanya sekadar komoditas ekspor, tetapi juga memiliki dampak sosial dan ekonomi yang mendalam di seluruh negeri. Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia telah menjadi salah satu produsen minyak sawit terbesar di dunia, bersaing ketat dengan Malaysia. 

Selain itu, sektor sawit telah menjadi sumber pendapatan devisa yang signifikan bagi Indonesia.

Indonesia perlu mengambil pendekatan berkelanjutan. Yang mencakup praktik pertanian yang ramah lingkungan, perlindungan hak petani, investasi dalam teknologi pertanian, dan dukungan bagi penelitian dan inovasi.Adakah pemimpin demikian, yang peduli dan berpihak pada rakyat?

Pada tahun 2020, data neraca perdagangan Indonesia menunjukkan bahwa sektor non-migas mengalami surplus sebesar USD 12.5 miliar. Dari surplus ini, sekitar USD 11.9 miliar atau 95% berasal dari devisa sawit. Fakta ini menggambarkan betapa pentingnya industri sawit dalam mendukung neraca perdagangan Indonesia. Devisa sawit ini berpotensi meningkatkan daya ungkit konsumsi dan investasi dalam perekonomian nasional.

Namun, penting untuk mencatat bahwa industri sawit juga menghadapi tantangan terkait dengan lingkungan dan keberlanjutan. Praktik deforestasi dan konversi lahan hutan menjadi perkebunan sawit telah menciptakan masalah serius terkait dengan kerusakan habitat satwa liar dan pemanasan global. 

Baca Sawit Di Sanggau: Di Mana Lahan Luas Kawasan Hutan Lindung

Oleh karena itu, industri sawit juga dihadapkan pada tuntutan untuk mengadopsi praktik berkelanjutan dan bertanggung jawab.

Selain itu, diversifikasi produk sawit juga dapat menjadi strategi yang cerdas dalam menghadapi fluktuasi harga dan permintaan. Pengembangan produk turunan sawit seperti minyak sawit yang lebih berkualitas, produk bio-diesel, dan produk oleokimia dapat membantu meningkatkan nilai tambah dalam industri ini.

Dalam menghadapi perubahan dalam industri sawit ini, Indonesia perlu mengambil pendekatan yang berkelanjutan, yang mencakup praktik pertanian yang ramah lingkungan, perlindungan hak petani, investasi dalam teknologi pertanian, dan dukungan bagi penelitian dan inovasi. 

Dengan langkah-langkah ini, industri sawit Indonesia dapat terus berperan sebagai pilar ekonomi nasional yang penting, sambil memastikan kesejahteraan petani dan keberlanjutan lingkungan. (Rangkaya Bada)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url