Sawit: Penelitian Terkini Menjawab Post-truth


Sawit. Banyak tudingan serta serangan atas tanaman emas hijau ini. Di baliknya adalah kepentingan. Antara lain kampanye hitam yang mengatakan sawit rakus akan air dan membuat deforestasi semakin lekas. Bahkan merusak lingkungan. 

Itulah post-truth. Yakni suatu gerakan massal dan terkoordinasi melawan kebenaran hakiki demi kepentingan, atau tujuan tertentu.

Sebuah penelitian terkini yang dilakukan oleh Pusat Penelitian & Pengembangan Masyarakat (LPPM) Stiper Institut Pertanian (Instiper) Yogyakarta bekerja sama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia (BPDPKS). 

Hasil penelitian ini telah membuka cakrawala. Sekaligus menyibak fakta, baru terkait hubungan antara kelapa sawit (elaeis guineensis) dan sumber air di Indonesia. 

Penelitian ini mencelikkan. Menyajikan informasi baru yang berharga untuk memberikan gambaran lebih lengkap dan akurat tentang jejak air dala kaitannya dengan kelapa sawit di Indonesia. Sawit tidaklah deforestasi dan merusak lingkungan sebagaimana isu post truh yang kencang diembuskan dalam percaturan ekonomi-politik.

Selama ini, kelapa sawit sering kali dikaitkan dengan masalah kerusakan lingkungan, terutama yang berkaitan dengan air. Sawit dituding mengonsumsi air dalam jumlah besar dan berlebihan. Sedemikian rupa, sehingga berdampak negatif pada ketersediaan air di daerah-daerah perkebunan sawit. 

Benarkah hal itu?

Temuan terbaru dari penelitian ini menunjukkan perspektif yang berbeda. Studi yang dipimpin oleh Lisma Safitri, M.Si., difokuskan pada jejak air yang dihasilkan oleh kelapa sawit yang dibudidayakan di dua lokasi berbeda, yakni di provinsi Riau dan Kalimantan Tengah. 

Hasil penelitian ini sangat menarik. Para peneliti menunjukkan bahwa kelapa sawit yang ditanam di tanah gambut memiliki jejak air yang lebih rendah dibandingkan dengan kelapa sawit yang ditanam di tanah mineral.

Selama ini, kelapa sawit seringkali disalahkan sebagai salah satu faktor yang berkontribusi pada penurunan ketersediaan air di Indonesia, terutama di daerah-daerah dengan banyak perkebunan. Namun, temuan dari penelitian ini memberikan wawasan baru yang menarik. 

Dalam penelitian ini, para peneliti mengukur jejak air yang dihasilkan oleh kelapa sawit dengan memperhitungkan konsumsi air tanaman (ETa) dan produksi tanaman bulanan serta kerapatan panjang akar.

Hasil penelitian di Kalimantan Tengah menunjukkan bahwa tingkat luas tapak air adalah sekitar 1002,1 m3 per ton tandan buah segar (TBS), yang terdiri dari 76,7 m3 air hijau, 35,9 m3 air biru, dan 89,5 m3 air abu-abu. Sementara itu, hasil penelitian di Riau menunjukkan jejak air sebanyak 593,61 m3 per ton TBS, terdiri dari 535,55 m3 air hijau, 8,08 m3 air biru, dan 49,98 m3 air abu-abu.

Penelitian ini juga menyajikan model aplikasi Perhitungan Jejak Air di irigasi sebagai Sistem Peringatan Dini di perkebunan kelapa sawit. Model ini berdasarkan pada status sistem pengendalian jejak air kelapa sawit dengan mempertimbangkan data curah hujan, jenis tanah, umur tanaman, dan produksi tanaman. Temuan ini memberikan pandangan lebih komprehensif tentang bagaimana kelapa sawit berinteraksi dengan air di lingkungan sekitarnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, isu-isu lingkungan, termasuk masalah ketersediaan air, telah menjadi isu yang semakin mendesak dan memicu perdebatan yang sengit. 

Fenomena "post-truth" atau "pasca-kebenaran" juga mempengaruhi cara pandang masyarakat terhadap berbagai isu, termasuk isu lingkungan seperti yang terkait dengan perkebunan kelapa sawit. "Post-truth" adalah istilah yang menggambarkan keadaan di mana fakta-fakta objektif memiliki pengaruh yang lebih rendah dalam membentuk opini publik daripada emosi dan keyakinan pribadi.

Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk bijaksana dan cerdas dalam menyikapi berbagai isu lingkungan, termasuk isu tentang kelapa sawit dan dampaknya pada sumber air. Penelitian ini mencelikkan. Sebab menyajikan informasi baru yang berharga untuk memberikan gambaran lebih lengkap dan akurat tentang jejak air dala kaitannya dengan kelapa sawit di Indonesia. 

Dengan pengetahuan yang lebih tepat dan objektif, diharapkan kebijakan dan langkah-langkah yang diambil dapat lebih terarah dan berdampak positif pada keberlanjutan lingkungan dan sumber air di Indonesia. *)


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url