Sanggau, Sawit, dan Credit Union

Emas hijau sawit dan pabrik pengolahannya di Siantan, Pontianak.
foto: sanggau news

Bodok dan Semuntai di wilayah Kabupaten Sanggau akhir tahun 1970-an hingga awal tahun 1980-an telah eksis "emas hijau", tanaman sawit. Tidak bisa tidak, kehadiran migrasi "Marihat" --untuk tidak menyebut etnis tertentu= dari Pulau Sumetera telah merasuk ranah Dayak ini.

Di Bodok - Tanjung - Mukok bukti bahwa sawit telah berusia lebih dari 40 tahun. Tampak kini mulai diremajakan kembali, setelah pohon pertama selain disuntik mati juga ditumbangkan dengan buldozer. 

Kini di lokokasi itu telah mulai tumbuh sawit yang diremajakan kembali. Hanya kecamatan Jangkang tidak ada dan tidak boleh masuk perusahaan sawit, sebab peruntukannya bukan untuk perusahaan, melaikan hutan adat atau hutan lindung. 

Kita ketahui bersama bahwa sawit adalah monolultur. Akarnya keras mengeraskan tanah sekitar, sejauh lingkaran daun dan pohonnya. Sekitarnya tidak dapat ditanami kembali, kecuali hanya: sawit saja. 

Oleh sebab itulah maka sebagian masyarakat-bangsa dunia ini, terutama masyarakat Eropa (ME) anti-sawit. Dan mengkampanyekan bahwa sawit membuat deforestasi. Bahkan merusak alam semesta, seluruh makhluk baik yang bernyawa maupun bukan di sekitarnya.

CU lain yang beroperasi di wilayah Sanggau dan sekitarnya mengalami pula dinamika naik turunnya harga sawit. Manakala harga sawit naik, maka kredit CU baik kondisi pembayaran pinjaman dari anggota.

Ada benarnya untuk sebagian. Faktanya adalah bahwa jika suatu area/ kawasan penggunaannya melebihi luasan 1/5 total lahan, memang perkebunan sawit akan merusak lingkungan. Ini fakta!

Akan tetapi adalah fakta juga bahwa sawit pun untuk sebagia masyarakat Sanggau memberikan manfaat. Terutama di Bodok - Tanjung - Mukok' tampak tanda-tanda kemakmuran masyarakatnya.

Hasil penelitian Masri (2016) terhadap anggota Credit Union (CU) Lantang Tipo di Bodok dan sekitarnya menunjukkan hal ini: Kredit lancar. Anggota membayar tepat waktu-tepat jumlah. 

Anggota CU Lantang Tipo diketahui lebih banyak menyimpan uangnya sebagai tabungan daripada menarik simpanannya. Kondisi ini berlangsung, dan terjadi, pada ketika harga sawit sedang bagus (definisi "harga bagus" sawit di sini adalah jika di tingkat petani a rp 2.500 - rp 3.000 atau lebih per kilo tandan buah segar/TBS bukan harga di RAM / pabrik).

Sementara itu, CU lain yang beroperasi di wilayah Sanggau dan sekitarnya mengalami pula dinamika naik turunnya harga sawit. Dengan demikian, judul narasi kita ini pas benar korelasinya. 

Sudahlah tentu, dalam skala penelitian yang komprehensif, perlu 3 variabel itu dicermati hubungan dependen dan independennya. Ratusan halaman laporan penelitian dapat disarikan hanya dalam narasi pendek yang hanya terdiri atas 400 kata ini saja.

Manakala harga sawit naik, maka kredit CU baik kondisi pembayaran pinjaman dari anggota. Sebaliknya, jika harga sawit terjun payung harganya; maka kredit CU pun mengalami kemacetan. Bahkan jika berlangsung lama harga sawit itu merosot; berpotensi mengakibatkan likuiditas CU tertanggu.

Dalam hal ini, judul narasi kita di atas sungguh fakta! *)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url