Indonesia dan Malaysia Menguasai 85% Luas Sawit Dunia

Sawit, juga dikenal sebagai "emas hijau". Merupakan produk yang banyak diminati dan memiliki beragam manfaat. 

Terdapat dua spesies sawit utama, yaitu Elaeis guineensis dan Elaeis oleifera. 

Elaeis guineensis lebih banyak dibudidayakan di Indonesia karena kandungan minyaknya yang tinggi. 

Sedangkan Elaeis oleifera memiliki keunggulan karena tinggi tanamannya yang lebih rendah, memudahkan pemanenan buah. Kedua spesies ini sering dikawin silangkan untuk mendapatkan keunggulan yang diinginkan.

Sawit dan kampanye hitam / post truth
Sawit merupakan komoditas multiguna dan memiliki banyak produk turunan, seperti: minyak sawit mentah (CPO), sabun mandi, kosmetik, minyak goreng, ice cream, dan biodiesel. 

Tanaman sawit memiliki umur panjang dan tumbuh di tanah di daerah remote atau marginal, serta menyerap CO-2 sepanjang hidupnya.

Indonesia dan Malaysia menguasai 85% luas sawit dunia, sementara negara lain seperti Thailand, Columbia, dan India juga berencana untuk mengembangkan tanaman sawit

Syarat tumbuh sawit adalah suhu hangat, sinar matahari, curah hujan >2000 mm per tahun, dan kelembaban udara antara 80% - 90%. Indonesia, sebagai negara kepulauan dengan iklim tropis, sangat cocok untuk pertumbuhan optimal sawit. Namun, tidak semua wilayah Indonesia cocok untuk ditanami sawit, seperti Pulau Jawa yang memiliki harga lahan mahal dan produktivitas rendah.

Indonesia dan Malaysia menguasai 85% luas sawit dunia, sementara negara lain seperti Thailand, Columbia, dan India juga berencana untuk mengembangkan tanaman sawit. 

Peningkatan perkebunan sawit di Indonesia dan Papua New Guinea terjadi secara pesat, tetapi Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan kebijakan moratorium sawit untuk menunda dan mengevaluasi izin perkebunan sawit sejak tahun 2018.

Dengan pertumbuhan yang pesat dan banyaknya manfaat dari sawit, perlu mempertimbangkan secara bijaksana mengenai ekspansi perkebunan sawit untuk menjaga keseimbangan antara keuntungan ekonomi dan pelestarian lingkungan.

Akankah Seluruh Indonesia Ditanami Sawit?

Secara geografis, tidak semua wilayah di Indonesia memiliki potensi optimal untuk menanam sawit. 

Hal ini berbeda dengan persepsi yang diakui oleh beberapa peneliti dan organisasi non-pemerintah internasional, yang terkesan seolah-olah seluruh Indonesia akan ditanami sawit. Tetapi untuk mencapai hasil yang maksimal, syarat-syarat tumbuh yang telah disebutkan sebelumnya harus terpenuhi.

Lalu, apakah Pulau Jawa memenuhi persyaratan untuk menjadi daerah perkebunan sawit? Di Pulau Jawa, pertumbuhan tanaman sawit memang mungkin terjadi, dan terdapat luasan sekitar 17.600 hektar di Jawa Barat dan 20.600 hektar di Provinsi Banten yang dapat dialokasikan untuk sawit. 

Namun, produktivitas tanaman sawit di Pulau Jawa cenderung rendah, sehingga potensi perkembangan perkebunan sawit di Jawa Barat menjadi terbatas. Selain itu, harga lahan di Pulau Jawa juga tergolong mahal jika digunakan untuk perkebunan sawit.

Sejak tahun 2006 hingga tahun 2020, terlihat tren peningkatan luas tanaman kelapa sawit secara signifikan. Data dalam tabel menunjukkan bahwa minyak sawit menjadi produk yang memiliki hasil produksi paling tinggi dibandingkan minyak nabati lainnya.

Dengan luas tanaman mencapai 23 juta hektar, produksi minyak sawit mencapai angka sebesar 84 juta ton. Dalam perbandingan yang menarik, minyak kedelai membutuhkan lahan seluas 122 juta hektar untuk menghasilkan jumlah produksi sebesar 56 juta ton. 

Hal ini menunjukkan bahwa minyak kelapa sawit mampu menciptakan hasil produksi 1,5 kali lebih besar daripada minyak kedelai, meskipun menggunakan luas tanaman yang lebih kecil, yaitu hanya 5 kali lebih kecil.

Fakta ini memberikan gambaran betapa efisiennya kelapa sawit dalam menghasilkan minyak nabati. Dengan jumlah produksi yang mengesankan dan luas tanaman yang terbatas, minyak kelapa sawit menjadi pilihan utama dalam industri minyak nabati. Keunggulannya terletak pada kemampuannya menghasilkan lebih banyak minyak dibandingkan tanaman lain, meskipun dengan lahan yang lebih terbatas.

Tren peningkatan luas tanaman sawit
Tren peningkatan luas tanaman kelapa sawit menunjukkan betapa pentingnya komoditas ini dalam perekonomian global. Permintaan yang terus meningkat dari berbagai sektor industri membuat kelapa sawit menjadi primadona dalam produksi minyak nabati. 

sumber: PG

Keberlanjutan dan efisiensi dari perkebunan kelapa sawit menjadi hal yang krusial untuk memastikan pasokan minyak nabati yang stabil dan berkelanjutan di masa depan.

Meskipun memiliki keunggulan dalam produksi minyak nabati, perlu diingat bahwa ekspansi perkebunan kelapa sawit juga perlu dipertimbangkan dengan cermat untuk menjaga keseimbangan lingkungan dan menghindari dampak negatif terhadap hutan dan keanekaragaman hayati. 

Dengan mengoptimalkan produksi dan penggunaan lahan yang ada, industri kelapa sawit dapat terus berkembang secara berkelanjutan tanpa merusak lingkungan sekitar.*)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url